Siang itu, udara di kamar kos Rara terasa begitu pengap. Meskipun kipas angin di dinding sudah berputar pada kecepatan maksimal, hawa gerah Semarang seolah tak mau beranjak. Rara baru saja terbangun dari tidur singkat yang tidak nyenyak. Kepalanya berdenyut ringan—efek samping yang selalu ia rasakan jika terlalu sering menahan emosi dan energi negatif di rumah sakit.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Sebuah notifikasi w******p dari nomor baru muncul di layar.
“Pagi, Rara. Ini Adrian. Maaf ya kalau mengganggu waktu istirahatmu. Cuma mau memastikan kamu sudah sampai rumah dengan selamat. Jangan lupa makan siang ya, tadi malam kamu kelihatan pucat sekali.”
Rara hanya menatap pesan itu dengan pandangan datar. Tidak ada getaran di hatinya, yang ada hanyalah rasa lelah yang bertumpuk. Ia tahu, setiap kata manis yang dikirimkan Adrian adalah bahan bakar bagi api cemburu arwah wanita merah yang mengikutinya. Rara merasa seperti sedang berdiri di tengah-tengah jembatan yang rapuh; di satu sisi ada pria yang terlalu percaya diri, di sisi lain ada hantu yang terlalu posesif.
Ia meletakkan kembali ponselnya tanpa berniat membalas, apalagi menyimpan nomor itu. Baginya, keselamatan kewarasannya lebih penting daripada bersikap sopan pada dokter yang tidak tahu situasi. Rara memejamkan mata, mencoba mengumpulkan sisa-sarafnya sebelum harus kembali ke "medan perang" untuk shift malam berikutnya.
Perangkap di Nurse Station
Pukul 19.30, Rara melangkah memasuki lobi rumah sakit dengan langkah berat. Saat ia mendekati nurse station untuk melakukan serah terima tugas, jantungnya mencelos. Di sana, berdiri drg. Adrian dengan jubah putihnya yang rapi, sedang berbincang dengan Suster Wiwin dan beberapa perawat lainnya.
Rara sempat berniat putar balik dan bersembunyi di toilet, namun nasib berkata lain.
"Nah, itu dia Rara!" seru Adrian dengan suara yang cukup keras, membuat beberapa pasang mata menoleh ke arah pintu masuk.
Rara terpaksa mendekat dengan senyum formal yang dipaksakan. Namun, matanya tidak bisa berbohong. Di samping Adrian, arwah wanita merah itu berdiri dengan posisi yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Tangannya yang membiru mencengkeram lengan Adrian begitu kuat hingga kuku-kukunya yang hitam seolah menembus kain jubah sang dokter. Wajahnya yang bengkak kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Rara, matanya melotot tajam dengan mulut yang terbuka lebar, mengeluarkan uap dingin yang berbau anyir darah.
"Kenapa chat saya tidak dibalas, Ra? Sibuk sekali ya?" tanya Adrian dengan nada bercanda yang sok akrab.
Perawat lain mulai berbisik-bisik, memicu suasana "cie-cie" yang sangat tidak diinginkan Rara. "Wah, Dokter Adrian perhatian banget nih sama Rara," celetuk salah satu perawat junior.
Rara merasa hawa di sekitarnya mendadak turun drastis. Arwah wanita itu mengeluarkan suara geraman seperti anjing yang sedang marah. Rambut hitamnya mulai bergerak-gerak sendiri seperti ular, menyapu pundak Rara.
"Maaf, Dok. Saya tadi sedang tidur dan tidak sempat cek ponsel. Mari, saya harus segera handover," jawab Rara tegas, mencoba memutus percakapan.
Ia bisa melihat kemarahan yang murni di wajah arwah itu. Dendamnya kini sudah mencapai titik didih. Si wanita merah itu tidak lagi hanya sekadar usil; ia seolah merasa posisinya terancam secara serius. Saat Rara berjalan melewati mereka menuju meja laporan, ia bisa merasakan tatapan tajam yang menusuk punggungnya—tatapan dari makhluk yang sudah kehilangan akal sehatnya.
Teror di Bangsal Perinatologi
Malam berlanjut dengan suasana yang sangat tidak nyaman. Rara ditugaskan untuk mengecek Bangsal Perinatologi, ruangan khusus untuk bayi-bayi yang baru lahir. Ruangan ini biasanya sangat tenang, hanya diisi oleh suara detak jantung dari monitor medis dan dengung mesin inkubator.
Namun, begitu Rara membuka pintu kaca bangsal anak tersebut, instingnya langsung berteriak waspada.
Di tengah kegelapan ruangan yang hanya diterangi lampu redup, ia melihat bayangan merah itu. Arwah wanita itu sedang berdiri di atas salah satu box bayi. Tangannya yang pucat dan kurus menjuntai ke bawah, mendekati leher mungil seorang bayi yang baru berusia dua hari.
Wanita merah itu menoleh ke arah Rara, bibirnya yang hancur tertarik membentuk senyum puas yang sangat jahat. Ia seolah ingin menunjukkan pada Rara: Jika aku tidak bisa memilikinya, aku akan merusak apa yang kau jaga.
Jari-jari hitam itu mulai melingkar di leher sang bayi.
“Oeeekkk! Oeeekkk!”
Tiba-tiba, bayi itu menangis histeris. Suaranya pecah di tengah kesunyian malam. Seolah ada komando, bayi-bayi lain di box sebelah juga mulai menangis secara serentak. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi kekacauan massal.
"Ada apa ini? Kenapa semua bayi menangis?" Suster Wiwin dan dua perawat lain berlarian masuk ke ruangan dengan wajah panik. Mereka segera memeriksa suhu tubuh bayi, mengganti popok, dan mencoba menenangkan mereka, namun tangisan itu tidak kunjung berhenti. Malah semakin kencang, nada suaranya terdengar seperti ketakutan yang luar biasa.
"Ra, bantu yang box pojok! Kenapa ini suhunya turun banget!" teriak Wiwin.
Rara mendekati box bayi yang menjadi sasaran si wanita merah. Ia melihat arwah itu kini sedang tertawa tanpa suara, wajahnya yang menyeramkan membungkuk di atas wajah bayi yang sedang membiru karena kesulitan bernapas. Teman-teman Rara tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi; mereka hanya melihat kondisi medis yang memburuk secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
Batas Akhir: Konfrontasi Dua Dunia
Rara sudah jengah. Ia sudah muak dengan kepura-puraan ini. Kesabarannya habis saat melihat nyawa manusia yang suci terancam hanya karena ego arwah yang cemburu. Persetujuan diam-diamnya dengan dunia gaib telah dilanggar oleh makhluk ini.
Rara berdiri tegak di depan box bayi tersebut. Ia mengabaikan tatapan bingung rekan-rekan perawatnya yang sedang sibuk. Matanya yang selama ini selalu ia alihkan, kini menatap lurus, tajam, dan penuh otoritas langsung ke mata merah arwah wanita itu.
Ia tidak lagi berpura-pura buta.
Rara mulai berkomat-kamit, suaranya pelan namun bertenaga, setiap suku kata yang keluar dari bibirnya mengandung kekuatan spiritual yang selama ini ia pendam.
“Bismillahirrohmanirrohim... Ayat-ayat Allah adalah sebaik-baik pelindung...”
Rara membacakan Ayat Kursi dengan tartil yang benar, menggetarkan frekuensi udara di sekitarnya.
“Allahu laa ilaaha illa Huwal Hayyul Qayyum...”
Seketika, ruangan itu terasa bergetar. Arwah wanita merah itu tersentak. Ia melepaskan cengkeramannya dari sang bayi dan menjerit—jeritan yang kali ini terdengar samar di telinga manusia biasa sebagai suara desis angin kencang yang membanting pintu.
"Ra? Kamu ngapain?" tanya Wiwin yang tertegun melihat Rara berdiri kaku dengan mata yang seolah menyala.
Rara tidak menjawab. Ia terus melanjutkan bacaannya, masuk ke bagian akhir ayat. Energi di ruangan itu mulai memanas bagi makhluk gaib tersebut. Sosok wanita merah itu mulai berasap, kulitnya yang membiru tampak melepuh seolah terkena siraman minyak panas.
Ia mencoba menyerang Rara, menerjang maju dengan kuku-kuku tajamnya, namun ia terpental sebelum sempat menyentuh seragam Rara. Cahaya iman dan kekuatan doa Rara membentuk perisai yang tak tertembus.
“Walaa ya’uduhu hifzhuhuma wa Huwal 'Aliyyul 'Azhiim!”
Sesaat sebelum ia lenyap sepenuhnya dari ruangan itu, si wanita merah berhenti meronta. Ia berdiri tegak, wajahnya yang melepuh menatap Rara dengan ekspresi terkejut yang luar biasa. Matanya yang merah bertemu langsung dengan mata Rara dalam kontak mata yang paling jujur selama karier Rara sebagai indigo.
“ Tolong aku “ ucap setan itu lirih
Di detik itu, si setan merah menyadari sebuah kebenaran besar: Manusia di depannya ini bisa melihatnya dengan sangat jelas. Dan manusia ini jauh lebih kuat darinya.
Wuzzz!
Arwah itu menghilang seperti abu yang ditiup badai, meninggalkan aroma belerang yang samar sebelum akhirnya tergantikan kembali oleh bau antiseptik rumah sakit.
Begitu makhluk itu pergi, keajaiban terjadi. Semua bayi di dalam bangsal itu mendadak berhenti menangis. Suasana kembali sunyi sesunyi-sunyinya. Bayi yang tadi membiru mulai bernapas dengan normal kembali dan tertidur lelap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Lho... kok tiba-tiba diam semua?" gumam Wiwin sambil mengusap keringat di dahinya. "Aneh banget. Kayak ada tombol off-nya."
Rara menghela napas panjang, tubuhnya mendadak lemas. Ia harus memegang pinggiran box bayi agar tidak terjatuh. Keringat dingin membasahi punggungnya.
"Kamu nggak apa-apa, Ra? Wajahmu seram banget tadi," tanya perawat lain dengan nada curiga.
Rara memaksakan senyum tipis, kembali memasang topeng perawatnya. "Nggak apa-apa, Mbak. Mungkin tadi saya cuma terlalu panik liat bayinya sesak napas. Alhamdulillah sekarang sudah tenang."
Meskipun mulutnya berkata demikian, Rara tahu bahwa malam ini adalah titik balik. Rahasia yang ia jaga rapat-rapat selama bertahun-tahun di rumah sakit ini mulai retak. Ia telah menunjukkan taringnya pada dunia bawah. Dan ia sadar, setelah ini, berita tentang "perawat yang bisa mengusir setan" akan tersebar di kalangan penghuni tak kasat mata RS Belanda itu.
Ia tidak lagi bisa sekadar berpura-pura. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia harus bersiap jika arwah-arwah lain mulai berdatangan—entah untuk menantangnya, atau untuk memohon pertolongan yang lebih besar.