Ruang jaga perawat terasa sangat sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang seolah melambat. Rara menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi plastik yang dingin. Kepalanya terasa seberat batu, dan matanya perih karena terus-menerus dipaksa melihat dua spektrum realitas yang berbeda. Ia hanya ingin memejamkan mata selama lima menit. Hanya lima menit untuk mengistirahatkan jiwanya.
Namun, begitu kelopak matanya tertutup, kegelapan yang ia harapkan tidak datang. Sebaliknya, sebuah ledakan cahaya putih menarik kesadarannya ke sebuah dimensi yang asing namun nyata.
Kilas Balik: Tragedi di Bangsal Putih
Tiba-tiba, Rara tidak lagi berada di ruang jaga yang pengap. Ia berdiri di tengah sebuah ruangan luas dengan lantai tegel bermotif bunga-bunga kolonial yang masih baru. Aroma di sekitarnya bukan lagi bau antiseptik modern, melainkan bau karbol yang sangat tajam bercampur dengan wangi bunga kamboja dari luar jendela.
Ia melihat wanita paruh baya itu. Namanya adalah Maria van Deventer. Di penglihatan ini, Maria tampak cantik dengan gaun tidur sutra, meskipun wajahnya pucat karena baru saja menjalani proses persalinan yang sulit. Di pelukannya, ada seorang bayi mungil yang dibungkus kain flanel putih.
"Mijn kind... Mijn kecil..." bisik Maria dengan penuh kasih.
Namun, suasana damai itu pecah ketika beberapa orang pria berseragam militer kuno masuk ke dalam ruangan. Terjadi keributan. Rara melihat Maria menjerit histris saat bayi itu diambil paksa darinya. Maria yang masih lemah mencoba mengejar, namun ia jatuh tersungkur di lantai marmer yang dingin. Ia meninggal di sana, di koridor rumah sakit ini, dengan tangan yang merentang mencoba menggapai bayangan anaknya yang dibawa pergi.
Lalu, penglihatan itu bergeser seperti gulungan film yang diputar cepat. Rara melihat bayi itu tumbuh besar di sebuah panti asuhan di Semarang, menjadi seorang pria tua yang tangguh, hingga akhirnya penglihatan itu berhenti pada sebuah ranjang di Bangsal Geriatri—bangsal khusus lansia di rumah sakit yang sama, tepat di era sekarang.
Sesosok pria tua dengan rambut seputih kapas sedang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Di papan namanya tertulis: Bpk. Willem.
Harga dari Sebuah Penglihatan
GASPP!
Rara tersentak bangun. Tubuhnya melenting ke depan seolah baru saja disetrum dengan voltase tinggi. Napasnya memburu, tersengal-sengal seperti orang yang tenggelam. Keringat dingin mengucur deras dari dahi, membasahi kerah seragam putihnya hingga lepek.
"Hah... hah... Astaga..." gumamnya lirih.
Jantungnya berdebu hebat. Rasanya seperti ada seseorang yang meremas paru-parunya. Penglihatan spontan—atau yang sering disebut retrocognition—adalah jenis kemampuan indigo yang paling menguras energi. Bagi Rara, melihat masa lalu secara detail sama saja dengan membiarkan tubuhnya menjadi konduktor bagi arus waktu. Seluruh persendiannya terasa linu, dan perutnya mual bukan main.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mencoba meraih botol minumnya di atas meja. Tangannya sangat lemas hingga ia harus menggunakan kedua tangan untuk memegang botol plastik itu. Saat air dingin menyentuh tenggorokannya, ia merasa sedikit lebih baik, namun perasaan diawasi itu belum hilang.
Srekk...
Rara tersedak. Ia menyemburkan sedikit air saat mendongak dan menemukan wajah Maria van Deventer sudah berada tepat di depan matanya. Jarak mereka hanya beberapa inci. Mata Maria yang sayu dan penuh kesedihan menatap langsung ke dalam manik mata Rara.
"Kamu... melihatnya..." bisik Maria. Suaranya kini terdengar lebih jernih, seolah energi Rara yang baru saja terserap telah memberinya kekuatan untuk bicara lebih jelas. "Kamu tahu di mana anak saya, Suster..."
Janji di Keheningan Malam
Rara meletakkan botol minumnya dengan bunyi thud yang keras. Ia mengusap sisa air di bibirnya, lalu menatap Maria. Pertahanannya runtuh. Rasa iba yang selama ini ia kunci rapat-rapat jebol oleh beban sejarah yang baru saja ia saksikan. Ia tidak tega melihat seorang ibu mencari anaknya selama satu abad, padahal anaknya hanya berada beberapa blok dari tempatnya berdiri.
Rara menoleh ke arah pintu ruang jaga, memastikan tidak ada Suster Wiwin atau dokter lain yang lewat. Setelah merasa aman, ia berbisik dengan suara yang sangat rendah, nyaris seperti embusan angin.
"Nyonya Maria... dengarkan saya," ucap Rara. Ini adalah pertama kalinya ia berbicara secara sadar dan sengaja kepada arwah di lingkungan rumah sakit ini.
Sosok Maria tergetar. Ia tampak terkejut sekaligus bahagia karena akhirnya "tembok" yang dibangun Rara runtuh.
"Saya tahu di mana anakmu. Dia tidak lagi bayi, Nyonya. Dia sudah tua, sangat tua. Dia sedang berjuang melawan sakitnya di Bangsal Geriatri, Kamar 402," lanjut Rara.
Maria menutup mulutnya dengan kedua tangan pucatnya. Air mata bening mulai mengalir di pipinya yang dingin. "Willem... dia masih hidup? Dia di sini?"
"Iya, dia di sini. Tapi saya mohon satu hal padamu," Rara menatap Maria dengan sangat serius, nada suaranya mengandung peringatan. "Komunikasi kita ini harus tetap menjadi rahasia. Antara saya dan Anda saja. Jangan beritahu makhluk lain di rumah sakit ini bahwa saya bisa bicara dengan kalian. Jika mereka tahu, mereka akan datang menyerbu saya, dan saya tidak akan punya energi lagi untuk bekerja. Jika Anda setuju, saya akan membawa Anda menemuinya."
Maria van Deventer mengangguk dengan cepat, gerakannya terlihat sangat tulus. "Saya janji, Suster. Saya hanya ingin melihatnya sekali saja... sebelum saya benar-benar pergi. Saya tidak akan memberitahu siapa pun. Saya akan menjaga Anda dari mereka yang usil."
Rara menghela napas panjang. Ia tahu ia baru saja membuat perjanjian berbahaya. Menjadi perantara antara dua dunia adalah tanggung jawab yang berat, namun melihat binar harapan di mata arwah wanita itu membuat bebannya terasa sedikit lebih ringan.
"Baiklah. Ikuti saya, tapi tetaplah dalam bayang-bayang. Jangan menampakkan diri jika ada perawat lain lewat," perintah Rara.
Rara berdiri, meski kakinya masih terasa agak goyah. Ia merapikan seragamnya, memakai maskernya kembali, dan berjalan keluar dari ruang jaga. Di belakangnya, sosok putih Maria membayangi, bergerak seperti asap yang mengikuti langkah kaki sang perawat.
Sepanjang koridor menuju Bangsal Geriatri, Rara berkali-kali berpapasan dengan rekan sejawat. Ia harus tetap bersikap normal, menyapa mereka dengan senyum tipis, padahal di sampingnya ada entitas dari zaman Belanda yang sedang menahan tangis. Rara merasa jantungnya berdegup kencang karena adrenalin; ia merasa seperti sedang menyelundupkan seorang tahanan melalui pemeriksaan ketat.
Mereka melewati taman tengah yang gelap, di mana pohon beringin besar berdiri tegak. Rara merasakan beberapa pasang mata merah menatapnya dari balik dahan-dahan pohon, namun Maria segera berdiri di belakang Rara, memancarkan energi pelindung yang membuat makhluk-makhluk di pohon itu enggan mendekat.
"Terima kasih," batin Rara.
Akhirnya, mereka sampai di depan pintu Bangsal Geriatri. Suasananya jauh lebih sunyi daripada bangsal anak. Di sini, aroma kematian dan usia tua bercampur dengan bau obat-obatan dosis tinggi. Rara berjalan menuju Kamar 402.
Ia membuka pintu kamar itu perlahan. Di dalamnya, hanya ada cahaya lampu tidur yang temaram. Di atas ranjang nomor dua, seorang pria tua bernama Willem terbaring diam. Napasnya pendek-pendek, dibantu oleh mesin oksigen yang berdesis secara ritmis.
Rara melangkah mundur, memberi ruang bagi Maria.
Maria van Deventer melayang mendekati ranjang itu. Ia menatap wajah pria tua itu—wajah yang sudah keriput, namun masih memiliki garis rahang yang sama dengan pria militer yang menculiknya dulu. Maria menyentuh dahi Willem dengan jarinya yang transparan. Anehnya, monitor jantung di samping ranjang Willem yang tadinya menunjukkan grafik yang tidak stabil, tiba-tiba menjadi lebih tenang dan teratur.
"Mijn zoon... Mijn Willem..." tangis Maria pecah tanpa suara.
Rara berdiri di dekat pintu, berjaga-jaga. Ia merasa matanya ikut panas melihat pemandangan itu. Sebuah rekonsiliasi yang melampaui logika dan waktu. Di tengah rumah sakit tua di Semarang ini, dua jiwa yang terpisah oleh maut selama hampir satu abad akhirnya dipertemukan kembali melalui perantara seorang perawat yang lelah.
Namun, di tengah momen haru itu, Rara mendengar langkah kaki mendekat dari arah lorong. Langkah kaki yang ia kenali sebagai langkah kaki drg. Adrian. Rara panik. Ia harus segera mengakhiri sesi ini sebelum dokter gigi yang penasaran itu menangkapnya sedang berada di bangsal yang bukan wilayah tugasnya.
"Nyonya Maria, kita harus segera pergi," bisik Rara cemas.
Tapi Maria seolah tidak mendengar, ia masih terpaku memandangi wajah anaknya yang sedang sekarat. Rara tahu, jika Adrian masuk sekarang, ia akan kesulitan menjelaskan mengapa ia berdiri sendirian di kamar pasien geriatri sambil menatap udara kosong dengan mata berkaca-kaca.