Langkah kaki itu terdengar semakin jelas. Tap... tap... tap...
Rara sangat hafal perbedaan bunyi langkah di koridor rumah sakit ini. Sepatu perawat berbahan karet akan menghasilkan bunyi decit halus atau tepukan tumpul. Namun, suara yang menggema dari arah lorong sebelah kiri ini adalah ketukan keras dari sol sepatu pantofel kulit. Di jam selarut ini, satu-satunya staf medis yang bersikeras memakai sepatu kulit mengkilap di area bangsal hanyalah drg. Adrian. Entah apa yang dilakukan dokter gigi itu di sayap bangunan yang jauh dari polikliniknya. Mungkin ia sedang mencari mesin penjual kopi otomatis, atau yang lebih buruk, ia memang sengaja mengikuti Rara.
Rara menelan ludah yang terasa kering. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa getarannya merambat ke kerah seragamnya.
Ia melirik ke arah Maria van Deventer yang masih melayang di sisi ranjang Willem. Arwah wanita paruh baya itu sama sekali tidak memedulikan ketegangan yang sedang melanda Rara. Mata Maria yang sayu hanya tertuju pada wajah keriput putranya yang tengah berjuang menarik napas dari balik selang oksigen. Tangan Maria yang transparan berulang kali mencoba membelai rambut putih Willem, meskipun tangannya selalu menembus bantal.
"Nyonya Maria," desis Rara dengan suara tertahan, sangat pelan hingga nyaris terdengar seperti hembusan napas. "Kita harus pergi dari sini. Sekarang. Ada dokter yang datang."
Namun, Maria bergeming. Ia seolah terhipnotis oleh pertemuan yang tertunda selama hampir satu abad ini. Kerinduannya telah membutakan logikanya—jika arwah memang masih memiliki logika.
Bayangan drg. Adrian mulai terlihat dari celah bawah pintu Kamar 402. Bayangan gelap itu berhenti tepat di depan pintu. Rara menahan napasnya. Ia menekan tubuhnya ke dinding di balik pintu, berharap jika pintu itu terbuka, tubuhnya akan tertutupi oleh daun pintu. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengucur dari pelipisnya.
Ya Tuhan, tolong jangan buka pintunya. Jangan buka pintunya, batin Rara memohon dengan sangat.
"Apakah ada orang di dalam?"
Suara bariton drg. Adrian menembus kesunyian kamar geriatri itu. Suaranya tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Rara berdiri tegak. Bagaimana dokter itu bisa tahu ia berjalan ke arah sini?
Rara memejamkan mata erat-erat. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Jika Adrian membuka pintu dan menemukannya berdiri sendirian di kamar pasien lansia dalam kegelapan, menatap ke arah udara kosong sambil berkeringat dingin, tamatlah riwayatnya. Adrian pasti akan melaporkannya ke kepala perawat, atau lebih buruk lagi, menganggapnya memiliki gangguan kejiwaan. Mengingat Adrian juga diikuti oleh "setan merah" yang menaruh dendam pada Rara, situasi ini bisa menjadi bencana ganda.
Gagang pintu mulai bergerak ke bawah. Kriet...
Tiba-tiba, Maria van Deventer menoleh. Ia akhirnya menyadari kepanikan Rara. Sorot mata arwah keibuan itu berubah. Ia melihat perawat yang telah berbaik hati melanggar pantangannya sendiri demi membawanya ke sini sedang berada dalam bahaya. Maria tidak akan membiarkan penolongnya hancur.
Seketika, suhu di dalam Kamar 402 turun hingga ke titik beku. Napas Rara berubah menjadi uap putih yang tebal. Maria menembus pintu kayu yang tertutup itu dengan kecepatan luar biasa, melesat keluar menuju koridor.
BRAAAAKKK!!!
PRANGGGG!!!
Suara tabrakan yang sangat keras memecah keheningan lorong, disusul oleh dentingan puluhan instrumen besi yang berserakan di lantai marmer. Suara itu berasal dari ujung koridor, dekat ruang penyimpanan alat.
"Astaga! Suara apa itu?!" teriak drg. Adrian dari balik pintu.
Gagang pintu yang tadinya sudah tertekan ke bawah, kini dilepaskan. Rara mendengar langkah kaki Adrian yang tadinya santai kini berubah menjadi lari terburu-buru menjauhi Kamar 402, menuju sumber suara yang menggelegar tersebut.
Rara menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Kakinya mendadak lemas seperti jeli. Ia merosot sedikit, menyandarkan punggungnya ke dinding dengan d**a yang masih naik turun dengan cepat. Ia selamat. Setidaknya untuk malam ini.
Beberapa detik kemudian, sosok Maria perlahan menembus dinding kembali ke dalam kamar. Wajah pucatnya terlihat sedikit lebih lelah dari sebelumnya. Rara tahu, memanipulasi benda fisik—seperti mendorong troli medis baja hingga terbalik—membutuhkan energi spiritual yang sangat besar, terutama bagi arwah yang sudah tua seperti Maria.
"Terima kasih... Nyonya," bisik Rara, mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju.
Maria mengangguk pelan, tatapannya penuh rasa terima kasih yang tak terucapkan. Namun, momen kelegaan itu hanya berlangsung selama beberapa detik.
Tiba-tiba, suara ritmis dari monitor Elektrokardiogram (EKG) di samping ranjang Willem berubah pola.
Tit... tit... tit... tit-tit-tit-tit...
Iramanya yang tadinya lambat dan teratur mendadak menjadi sangat cepat dan tidak stabil. Rara, yang insting perawatnya langsung mengambil alih, segera melompat mendekati ranjang. Matanya memindai layar monitor dengan cepat. Takikardia. Detak jantung Willem melonjak drastis, namun angka saturasi oksigennya merosot turun ke angka 80%.
Willem mulai gelisah di tidurnya. Dadanya naik turun dengan kasar, mencoba meraup oksigen yang seolah tidak mau masuk ke paru-parunya. Terdengar suara gurgling, suara napas yang kasar dari tenggorokannya yang mulai dipenuhi cairan. Ini adalah death rattle, tanda klinis bahwa tubuh sedang bersiap untuk mematikan seluruh sistemnya. Willem sedang menghadapi detik-detik sakaratul maut.
Maria menjerit tanpa suara. Ia memeluk kepala anaknya yang sudah dipenuhi uban itu, meskipun pelukannya hanyalah udara kosong bagi tubuh fisik Willem.
"Willem! Mijn zoon! Jangan pergi dulu! Mama di sini!" Maria menangis histeris. Wajah gaibnya berkerut menahan penderitaan yang meluap-luap. Ia berusaha mentransfer energinya, mencoba menghangatkan tubuh Willem yang mulai dingin, namun hukum alam dan kematian tidak bisa dilanggar oleh arwah.
Rara dengan cekatan memeriksa denyut nadi di leher Willem. Lemah. Sangat lemah, dan hampir tidak teraba. Rara tahu prosedur medisnya; ia harus segera memencet tombol Code Blue, memanggil tim resusitasi, melakukan kompresi d**a, dan memasang intubasi. Ia harus mempertahankan nyawa pasien ini.
Rara sudah mengangkat tangannya untuk memencet tombol darurat merah di dinding, namun sebuah tangan es menggenggam pergelangan tangannya.
Maria menatap Rara. Air mata hitam mengalir dari pelupuk matanya yang pucat. Wajah arwah itu memancarkan keputusasaan yang begitu purba, sebuah luka yang tidak pernah sembuh selama puluhan tahun.
"Jangan... Suster..." isak Maria. Suaranya terdengar menggema di dalam kepala Rara. "Tubuhnya sudah hancur. Dia sudah terlalu lama sakit. Jangan sakiti dia lagi dengan alat-alat itu. Biarkan dia pergi."
Rara tertegun. Secara medis, membiarkan pasien tanpa tindakan adalah pelanggaran berat. Namun, saat Rara menatap wajah Willem, ia melihat penderitaan luar biasa pada kerutan di dahi pria tua itu. Tubuh itu sudah tidak sanggup lagi menampung jiwanya. Usianya sudah lebih dari sembilan puluh tahun, organnya sudah gagal berfungsi. Tindakan resusitasi hanya akan meremukkan tulang rusuknya dan memperpanjang rasa sakitnya selama beberapa jam, tanpa memberikan kesembuhan.
Tit... tit...... tit.........
Irama jantung Willem semakin melambat. Bradikardia parah. Ini adalah fase akhir.
"Suster Rara..." panggil Maria dengan nada yang paling memilukan yang pernah didengar Rara seumur hidupnya. "Tolong saya. Saya mohon dengan sangat. Dia tidak bisa melihat atau mendengar saya. Dia pikir dia sebatang kara di dunia ini. Tolong... sampaikan pesan saya padanya. Katakan padanya sebelum dia menutup mata."
Rara menatap arwah itu, lalu menatap pasiennya. Keringat dingin kembali membasahi tengkuk Rara. Melakukan ini berarti ia benar-benar melangkah melewati batas antara dunia medis yang rasional dan dunia spiritual yang tak kasat mata. Ia tidak lagi hanya diam dan melihat; ia ikut campur tangan dalam proses transisi sebuah jiwa.
Namun, empati Rara menang atas ketakutannya. Jika ini adalah pengabdian terakhir yang bisa ia berikan sebagai seorang perawat dan seorang indigo, maka ia akan melakukannya. Persetan dengan aturan untuk berpura-pura buta.
Rara melepaskan tangannya dari tombol darurat. Ia melangkah mendekati sisi kepala Willem. Ia membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan telinga pria tua itu. Tangan kiri Rara menggenggam jemari Willem yang mulai mendingin, sementara mata Rara menatap lurus ke arah Maria yang sedang bersimpuh di sisi lain ranjang.
"Apa yang harus saya katakan, Nyonya?" bisik Rara.
"Katakan padanya..." Maria terbata-bata, mencoba menahan isak tangis gaibnya. "Katakan padanya bahwa Mama tidak pernah meninggalkannya. Mama mencarinya setiap hari. Dan Mama sudah menunggu di sini... untuk menjemputnya pulang."
Rara mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa energi positifnya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Willem. Di tengah suara mesin yang mulai berbunyi panjang dan dengung oksigen, suara Rara terdengar lembut, hangat, dan penuh kasih sayang, layaknya seorang ibu yang sedang meninabobokan anaknya.
"Pak Willem..." bisik Rara pelan dalam bahasa Indonesia yang fasih. "Dengarkan saya. Anda tidak sendirian."
Kelopak mata Willem yang berkerut dan tipis tampak bergetar pelan merespons suara itu.
"Ibu Anda ada di sini," lanjut Rara, suaranya sedikit bergetar menahan tangis. "Ibu Maria ada di sebelah Bapak sekarang. Beliau titip pesan... Beliau tidak pernah meninggalkan Bapak. Beliau mencari Bapak setiap hari, selama puluhan tahun. Dan sekarang, Ibu sudah menunggu Bapak di sini. Beliau datang untuk menjemput Bapak pulang."
Sesuatu yang luar biasa terjadi.
Napas Willem yang tadinya kasar dan menyiksa, mendadak berhenti sejenak. Kelopak matanya perlahan terbuka. Mata cokelatnya yang sudah berkabut katarak tidak menatap ke arah langit-langit kamar, dan tidak pula menatap ke arah Rara.
Mata itu menatap lurus ke arah udara kosong di samping kanannya—tepat di mana Maria van Deventer sedang berdiri.
Untuk sesaat, kerutan penderitaan di wajah tua Willem mengendur. Bibirnya yang kering dan pucat sedikit melengkung, membentuk sebuah senyuman yang sangat tipis namun memancarkan kedamaian yang luar biasa. Sebuah kedamaian dari seorang anak laki-laki yang akhirnya menemukan pelukan ibunya setelah tersesat seumur hidup.
Sebulir air mata hangat jatuh dari sudut mata Willem, mengalir melewati pelipisnya dan membasahi bantal rumah sakit.
Rara memegang tangan Willem sedikit lebih erat. Ia bisa merasakan energi kehidupan pria tua itu memudar dengan cepat, namun tidak ada rasa takut di ruangan itu. Ruangan geriatri yang biasanya terasa muram dan penuh hawa kematian, kini dipenuhi oleh cahaya hangat yang hanya bisa dilihat oleh mata ketiga Rara.
Maria mengulurkan tangannya, dan kali ini, Rara melihat bayangan transparan dari jiwa Willem bangkit dari tubuh kasarnya. Jiwa Willem tidak terlihat tua dan rapuh, melainkan kembali menjadi sosok yang lebih muda dan damai. Jiwa itu menyambut uluran tangan ibunya.
TIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTT...
Garis bergelombang di layar monitor EKG berubah menjadi garis lurus hijau horizontal. Mesin itu mengeluarkan bunyi panjang yang monoton dan final. Asistol.
Genggaman tangan Willem di tangan Rara perlahan mengendur dan terlepas. Pria tua itu telah menghembuskan napas terakhirnya dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya yang kini damai.
Di udara, Rara melihat Maria dan jiwa Willem saling berpelukan erat. Tidak ada lagi ratapan, tidak ada lagi hawa dingin yang mencekam. Hanya ada kehangatan murni yang membuat Rara ikut meneteskan air mata di balik maskernya.
Maria menoleh ke arah Rara untuk terakhir kalinya. Wajahnya bersinar terang, tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan arwah penasaran yang terjebak di dunia fana.
"Terima kasih, Suster Rara... Engkau adalah malaikat bagi kami yang tersesat," bisik suara Maria di dalam kepala Rara, lembut seperti angin musim semi.
Lalu, bersama dengan pendar cahaya putih yang perlahan meredup, kedua sosok ibu dan anak itu menghilang dari Kamar 402, meninggalkan Rara sendirian dalam keheningan yang syahdu.
Rara berdiri tegak. Ia mengusap air matanya, menarik napas panjang untuk mengembalikan profesionalitasnya. Ia menekan tombol darurat merah di dinding, lalu melihat jam tangannya.
"Waktu kematian, pukul 02.45 pagi," gumam Rara dengan suara yang mantap.
Ia tahu, malam ini ia tidak menyelamatkan nyawa seorang manusia, tetapi ia telah menyelamatkan dua buah jiwa. Dan untuk pertama kalinya sejak ia bekerja di Rumah Sakit Bhakti Husada, Rara tidak menyesali kutukan mata ketiganya.