Pagi pertama setelah perceraian, Alya bangun sebelum matahari muncul.
Bukan karena tidur yang cukup.
Justru karena ia hampir tidak tidur.
Semalaman pikirannya dipenuhi daftar kebutuhan yang tidak bisa menunggu sampai ia siap.
Uang sekolah.
Makan.
Listrik.
Sewa rumah.
Kebutuhan anak-anak.
Dan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Apa yang harus kulakukan hari ini?
Alya duduk di tepi tempat tidur.
Dari kamar sebelah terdengar suara anak-anak masih tertidur.
Ia melihat jam.
Kemudian bangkit.
Tidak ada waktu untuk menangisi kehidupan yang sudah selesai.
Ia harus membuat sarapan.
Ia harus mengantar anak-anak.
Dan setelah itu, ia harus mencari pekerjaan.
---
Hari pertama mencari pekerjaan tidak berjalan baik.
Alya mendatangi beberapa tempat.
Ada yang membutuhkan pengalaman lebih tinggi.
Ada yang menawarkan gaji terlalu kecil.
Ada yang mengatakan akan menghubungi kembali.
Tidak satu pun benar-benar memberikan kepastian.
Menjelang sore, Alya duduk sendirian di sebuah halte.
Ia membuka ponsel.
Ada pesan dari Nadia.
Bagaimana?
Alya mengetik:
Belum dapat.
Beberapa detik kemudian Nadia membalas.
Jangan berhenti.
Alya tersenyum.
Aku tahu.
Nadia kemudian menelepon.
"Kamu sudah makan?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Belum sempat."
"Kamu di mana?"
Alya menyebutkan tempatnya.
"Aku jemput."
"Tidak usah."
"Alya."
"Aku bisa pulang sendiri."
Nadia terdiam.
Kemudian berkata,
"Justru karena kamu selalu bilang bisa, kadang aku ingin memastikan kamu tidak harus bisa sendirian."
Alya menunduk.
Kalimat itu membuat matanya panas.
Ia tidak menangis.
Belum.
---
Beberapa hari kemudian, Alya mendapatkan pekerjaan sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil.
Gajinya jauh lebih rendah daripada pekerjaannya sebelum menikah.
Namun ia menerima.
Hari pertama ia pulang dalam keadaan sangat lelah.
Anak-anak sudah menunggunya.
"Bu, capek?"
Alya tersenyum.
"Sedikit."
Anak pertamanya mengambil tas dari tangannya.
"Taruh sini."
Alya memandangnya.
Gerakan kecil itu membuat dadanya hangat.
Dulu ia yang selalu melakukan semuanya untuk anak-anak.
Sekarang mereka mulai belajar melihat lelah ibunya.
Malam itu mereka makan sederhana.
Nasi, telur, dan sayur.
Tidak ada yang mengeluh.
Alya melihat anak-anaknya.
Mereka tertawa karena hal kecil.
Untuk beberapa saat, ia lupa bahwa hidupnya sedang berantakan.
---
Bulan-bulan pertama sangat berat.
Gaji Alya hampir seluruhnya habis untuk kebutuhan rumah.
Ia mulai membuat catatan pengeluaran.
Setiap rupiah ditulis.
Makan.
Transportasi.
Sekolah.
Listrik.
Kebutuhan rumah.
Ia bahkan mulai mengurangi membeli kopi yang dulu sesekali menjadi kesenangannya.
Nadia pernah memberinya sebuah pakaian baru.
"Ini buat kamu."
Alya menggeleng.
"Aku tidak bisa menerima."
"Ini bukan hutang."
"Aku punya pakaian."
"Yang itu sudah kamu pakai berkali-kali."
Alya tertawa.
"Masih bagus."
Nadia menatapnya.
"Kamu harus belajar menerima juga."
Alya terdiam.
Ia baru menyadari bahwa selama ini ia terlalu terbiasa memberi.
Bahkan ketika dirinya sendiri membutuhkan.
---
Setelah beberapa bulan, Alya mulai menemukan ritmenya.
Pagi mengurus anak.
Siang bekerja.
Sore menjemput.
Malam mengerjakan pekerjaan tambahan.
Sesekali ia menerima pekerjaan administrasi lepas dari rumah.
Tidak besar.
Tetapi cukup membantu.
Ia belajar menggunakan beberapa aplikasi baru.
Belajar membuat laporan.
Belajar mengelola keuangan.
Belajar menjual sesuatu secara daring.
Belajar bahwa hidup setelah kehilangan tidak harus dibangun sekaligus.
Kadang cukup satu langkah kecil.
Kemudian langkah berikutnya.
---
Suatu malam, anak keduanya bertanya,
"Bu."
"Iya?"
"Kenapa Ibu tidak pernah beli sesuatu buat Ibu sendiri?"
Alya yang sedang melipat pakaian berhenti.
"Kenapa tanya begitu?"
"Karena Ibu selalu beli buat kami."
Alya tersenyum.
"Ibu sudah punya kalian."
Anaknya menggeleng.
"Tapi Ibu juga manusia."
Alya tertawa kecil.
"Kamu belajar dari siapa bicara begitu?"
"Bu Guru."
Alya memeluknya.
Namun setelah anak-anak tidur, Alya duduk sendirian di ruang tamu.
Lampu hanya menyala satu.
Ia membuka ponselnya dan melihat beberapa pakaian yang sudah lama ingin dibelinya.
Harganya tidak mahal.
Tetapi tetap ia tutup.
Bukan karena tidak mampu.
Ia hanya merasa bersalah membelanjakan uang untuk dirinya.
Kemudian Alya teringat perkataan Nadia.
Kamu harus belajar menerima juga.
Mungkin menjadi ibu bukan berarti berhenti menjadi perempuan.
Mungkin merawat diri sendiri bukan bentuk egois.
Malam itu Alya memasukkan satu pakaian sederhana ke keranjang belanja.
Tidak mahal.
Tidak mewah.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membeli sesuatu karena ia menyukainya.
Bukan karena orang lain membutuhkannya.
---
Tahun berikutnya, kehidupan mulai sedikit berubah.
Alya mendapatkan posisi yang lebih baik.
Atasannya, Bima, memperhatikan pekerjaannya.
"Kamu cepat belajar."
"Terima kasih."
"Kamu pernah memegang laporan keuangan?"
"Sedikit."
"Kalau saya kasih tanggung jawab lebih besar, sanggup?"
Alya tersenyum.
"Saya coba."
Bima tertawa.
"Jawabanmu selalu 'saya coba'."
"Karena saya memang belum tahu apakah bisa."
"Itu lebih baik daripada orang yang merasa bisa semuanya."
Alya mulai mendapat kepercayaan.
Penghasilannya meningkat.
Tidak drastis.
Namun cukup membuatnya bernapas lebih lega.
Ia mulai menabung lagi.
Sedikit demi sedikit.
---
Namun kehidupan tidak langsung menjadi mudah.
Suatu hari Arka pulang dengan nilai yang buruk.
Alya melihat kertas ujiannya.
"Kenapa?"
Arka menunduk.
"Aku tidak bisa."
"Kamu belajar?"
"Sudah."
"Terus?"
"Aku tetap tidak bisa."
Alya duduk di sampingnya.
Dulu ia mungkin akan langsung panik.
Sekarang ia tahu tidak semua masalah harus diselesaikan dengan marah.
"Kita cari tahu kenapa."
Arka menatap ibunya.
"Kalau aku gagal?"
"Kamu boleh gagal."
"Tapi?"
"Jangan berhenti belajar karena gagal."
Arka mengangguk.
Alya mengusap kepalanya.
Ia menyadari sesuatu.
Anak-anaknya tidak membutuhkan ibu yang sempurna.
Mereka membutuhkan ibu yang tetap berada di sana ketika mereka jatuh.
---
Nara juga memiliki masalahnya sendiri.
Ia pernah pulang sambil menangis karena bertengkar dengan teman.
Alya memeluknya.
"Temanmu bilang apa?"
"Dia bilang keluarga kita tidak lengkap."
Alya diam.
Dulu kalimat seperti itu mungkin akan menghancurkannya.
Kini ia hanya mengusap rambut anaknya.
"Keluarga kita memang berbeda."
Nara menangis.
"Apakah itu salah?"
"Tidak."
"Kenapa kita tidak seperti keluarga lain?"
Alya menarik napas.
"Karena setiap keluarga punya cerita masing-masing."
Nara menatapnya.
"Apakah Ibu sedih?"
Alya tersenyum.
"Kadang."
"Terus kenapa Ibu tetap tersenyum?"
"Karena sedih bukan berarti kita harus berhenti hidup."
Nara memeluk ibunya lebih erat.
Alya menutup mata.
Ia tahu anak-anaknya mulai memahami sesuatu yang bahkan dirinya sendiri baru belajar.
---
Sementara itu, Raka mulai mendengar kabar tentang Alya.
Awalnya dari anak-anak.
Kemudian dari beberapa orang yang mengenal mereka.
Alya bekerja.
Alya semakin mandiri.
Alya bahkan mulai memiliki usaha kecil di luar pekerjaan utamanya.
Raka melihat beberapa foto kegiatan anak-anak.
Alya selalu ada di sana.
Tidak memakai pakaian mahal.
Tidak hidup mewah.
Tetapi wajahnya terlihat berbeda.
Lebih tenang.
Lebih kuat.
Suatu malam Raka membuka foto lama pernikahan mereka.
Alya masih sangat muda.
Wajahnya penuh harapan.
Raka menatap foto itu lama.
Ia mengingat janji yang pernah diucapkannya.
Kalau aku salah, aku akan minta maaf.
Namun ternyata meminta maaf tidak semudah mengucapkan kata itu.
Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan satu percakapan.
---
Bertahun-tahun berlalu.
Anak-anak mulai tumbuh.
Alya juga berubah.
Ia tidak lagi takut mengatakan tidak.
Tidak lagi merasa harus menyenangkan semua orang.
Ketika Marlina meminta sesuatu yang tidak mampu ia berikan, Alya bisa berkata,
"Maaf, Bu. Aku tidak bisa."
Tanpa rasa bersalah yang berlebihan.
Hubungan mereka tidak langsung membaik.
Ada jarak.
Ada luka.
Namun Alya akhirnya berhenti mencari pengakuan dari ibunya.
Ia memahami bahwa tidak semua hubungan harus dipaksakan kembali seperti semula.
Beberapa hubungan hanya perlu diberi batas agar tidak kembali melukai.
---
Suatu sore, Alya pulang lebih awal.
Ia mendapati anak-anak sedang belajar bersama di ruang tamu.
Arka duduk dengan laptop.
Nara membaca buku.
Mereka sudah semakin besar.
Alya berdiri di pintu dan memperhatikan mereka.
Tiba-tiba Arka menoleh.
"Ibu sudah pulang."
"Iya."
Nara tersenyum.
"Bu, nanti makan di luar, yuk."
Alya tertawa.
"Kenapa?"
"Uang tabungan kita cukup."
Alya menggeleng.
"Kalian yang bayar?"
Arka mengangguk.
"Sedikit."
Alya tertawa.
"Baiklah."
Malam itu mereka makan di sebuah restoran sederhana.
Tidak mewah.
Namun Alya merasa sangat bahagia.
Bukan karena makanan.
Bukan karena tempatnya.
Tetapi karena melihat kedua anaknya tumbuh menjadi pribadi yang peduli.
Ia mulai memahami bahwa kesuksesan tidak selalu berupa jabatan atau uang.
Kadang kesuksesan seorang ibu adalah ketika anak-anaknya tumbuh menjadi manusia baik.
---
Setelah makan, Alya berjalan bersama mereka menuju mobil.
Nara tiba-tiba memegang tangannya.
"Bu."
"Hm?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
Alya tersenyum.
"Belum apa-apa."
Arka ikut berkata,
"Justru karena semuanya."
Alya memandang kedua anaknya.
Mereka sudah bukan anak-anak kecil yang dulu tidur di sampingnya.
Waktu bergerak.
Dan tanpa terasa, perempuan yang pernah duduk sendirian menghitung uang terakhirnya itu telah membangun kehidupan baru.
Tidak sempurna.
Tidak selalu mudah.
Tetapi miliknya sendiri.
---
Malam itu, setelah anak-anak tidur, Alya duduk di teras.
Angin malam terasa sejuk.
Ia menatap langit.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang menunggu sesuatu.
Tidak menunggu Raka.
Tidak menunggu ibunya meminta maaf.
Tidak menunggu seseorang mengatakan bahwa ia cukup baik.
Ia sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
Kemudian ponselnya berbunyi.
Nomor yang tidak tersimpan.
Alya mengangkat.
"Halo?"
Tidak ada jawaban beberapa detik.
Kemudian suara yang sangat dikenalnya terdengar.
"Alya."
Tubuh Alya menegang.
Ia tidak perlu bertanya siapa.
Raka.
Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia mendengar suara itu sedekat ini.
"Kenapa?"
"Aku ingin bicara."
Alya menatap jalan di depan rumah.
"Tentang apa?"
"Tentang kita."
Alya terdiam.
Dulu, satu kalimat seperti itu mungkin cukup untuk membuat hatinya berdebar.
Sekarang tidak.
Ia hanya merasa tenang.
"Raka..."
"Iya?"
"Kenapa sekarang?"
Di seberang sana terdengar napas panjang.
"Karena aku baru sadar ada banyak hal yang seharusnya kulakukan sejak dulu."
Alya memejamkan mata.
Masa lalu yang selama ini ia letakkan jauh di belakang tiba-tiba berdiri di depan pintunya.
Namun kali ini ia tidak lagi menjadi perempuan yang sama.
Ia tidak lagi membutuhkan Raka untuk merasa utuh.
Ia tidak lagi takut sendirian.
Dan karena itulah, untuk pertama kalinya, ia bisa mendengarkan masa lalu tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
"Aku tidak janji bisa memberikan apa yang kamu inginkan," kata Alya.
"Aku tahu."
"Dan kalau kita bicara, bukan berarti semuanya kembali seperti dulu."
"Aku tahu."
Alya menarik napas.
"Kalau begitu, kita bicara."
Telepon berakhir.
Alya meletakkan ponselnya di meja.
Ia menatap rumah kecil yang telah ia perjuangkan bertahun-tahun.
Rumah yang pernah terasa terlalu sederhana.
Rumah yang menyimpan tangis.
Rumah yang menjadi saksi kegagalan.
Rumah yang menjadi tempat anak-anaknya tumbuh.
Dan rumah yang mengajarinya satu hal:
Tidak semua rumah harus dibangun bersama seseorang.
Beberapa rumah justru harus dibangun sendiri.
Namun Alya belum tahu bahwa pertemuan dengan Raka akan membuka kembali luka lama yang selama ini ia kira sudah sembuh.
Dan kali ini, bukan hanya tentang apakah ia masih mencintai laki-laki itu.
Pertanyaannya jauh lebih besar.
Apakah seseorang yang pernah kehilanganmu karena tidak mampu mempertahankanmu masih layak mendapatkan kesempatan untuk mengenal perempuan yang berhasil kamu menjadi tanpa dirinya?
BERSAMBUNG
PART V — AKHIRNYA, AKU MEMILIKI RUMAHKU SENDIRI