Pagi itu Raka tidak membangunkan Alya.
Ia berangkat lebih awal dari biasanya.
Alya terbangun ketika sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong. Bantal Raka masih menyimpan sedikit lekuk kepalanya, tetapi laki-laki itu tidak ada.
Di meja samping tempat tidur, hanya ada secarik kertas.
Aku berangkat dulu. Ada yang harus kuselesaikan.
Alya membaca tulisan itu dua kali.
Tidak ada panggilan sayang.
Tidak ada pesan tambahan.
Tidak ada penjelasan.
Hanya kalimat pendek yang terasa lebih dingin daripada biasanya.
Alya duduk di tepi tempat tidur.
Ia tahu ada sesuatu yang berubah.
Bukan sejak pagi itu.
Sudah sejak beberapa minggu terakhir.
Hanya saja, selama ini ia masih berusaha percaya bahwa semua bisa diperbaiki.
Bahwa setiap pasangan pasti melewati masa sulit.
Bahwa selama masih saling mencintai, semuanya akan menemukan jalan pulang.
Ternyata cinta saja tidak selalu cukup.
---
Raka menyimpan amplop cokelat itu di dalam tas.
Ia belum membukanya lagi sejak malam sebelumnya.
Namun kalimat-kalimat di dalam kepalanya terus berputar.
Beberapa bukti transfer.
Salinan percakapan.
Catatan mengenai uang yang diberikan kepada Marlina.
Dan satu dokumen yang membuatnya semakin bingung.
Nama Alya tercantum di dalamnya.
Raka tidak ingin percaya.
Tetapi bukti itu terlalu banyak untuk diabaikan.
Siang harinya, ia menemui Clara di sebuah kedai kopi dekat kantornya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana," kata Raka.
Clara menatapnya.
"Kamu sudah bicara langsung dengan Alya?"
"Sudah."
"Dan?"
"Dia bilang tidak tahu."
Clara diam.
"Kalau begitu cari tahu dulu sebelum mengambil keputusan."
Raka mengangguk.
Ia tahu Clara benar.
Namun justru itulah masalahnya.
Ia sudah terlalu lelah untuk terus mencari jawaban.
Di rumah, ia merasa selalu ada sesuatu yang disembunyikan.
Di keluarganya, semua orang memiliki pendapat tentang Alya.
Di keluarga Alya, ia merasa dirinya hanya dilihat sebagai sumber bantuan.
Dan di tengah semuanya, Raka mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang hanya terlihat benar.
---
Sore itu Alya pulang lebih cepat.
Ia ingin bicara.
Namun ketika masuk ke rumah, Raka sudah duduk di ruang tengah.
Amplop cokelat berada di atas meja.
"Apa itu?" tanya Alya.
Raka menatapnya.
"Kita perlu bicara."
Nada suaranya membuat Alya berhenti melangkah.
Ia duduk.
Raka mendorong amplop tersebut.
"Baca."
Alya mengambilnya.
Lembar pertama adalah bukti transfer.
Lembar kedua percakapan.
Lembar ketiga membuat tangannya gemetar.
Ada pesan dari seseorang kepada Marlina.
Kalau Alya terus menolak, gunakan Raka. Dia pasti akan membantu kalau tahu istrinya yang meminta.
Alya menggeleng.
"Aku tidak pernah melakukan ini."
Raka menatapnya.
"Nama kamu ada di sini."
"Aku tahu."
"Jadi?"
"Aku tidak tahu siapa yang membuat semua ini."
Raka berdiri.
"Aku sudah berusaha percaya."
"Aku juga tidak mengerti."
"Setiap kali aku bertanya, kamu selalu bilang tidak tahu."
"Aku memang tidak tahu!"
Suara Alya meninggi untuk pertama kalinya.
Raka terdiam.
Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau aku tahu, aku tidak akan diam."
Raka mengusap wajah.
"Aku ingin percaya kamu."
"Kalau begitu percaya."
"Aku tidak bisa."
Dua kata itu membuat Alya kehilangan suara.
Raka mengambil napas panjang.
"Aku sudah berkali-kali memberimu kesempatan untuk bicara."
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu membenci keluargaku."
Raka menatapnya.
"Aku sudah mulai kehilangan kepercayaan kepadamu."
Alya menunduk.
Ia tidak tahu mana yang lebih sakit.
Mendengar suaminya marah atau mengetahui bahwa laki-laki yang paling ia percaya sudah mulai meragukannya.
---
Hari-hari setelah itu berubah menjadi perang yang tidak pernah diumumkan.
Mereka tidak lagi bertengkar setiap hari.
Justru lebih buruk.
Mereka menjadi terlalu lelah untuk bertengkar.
Raka pulang larut.
Alya berhenti bertanya.
Alya pergi ke rumah ibunya.
Raka tidak bertanya.
Mereka makan dalam diam.
Tidur di kamar yang sama tanpa berbicara.
Sampai akhirnya Alya memutuskan mencari jawaban sendiri.
Ia membuka kembali pesan-pesan lama dari Marlina.
Semakin ia membaca, semakin banyak kejanggalan ditemukan.
Ada nomor rekening yang tidak dikenalnya.
Ada permintaan uang yang tidak pernah ia terima.
Ada pesan yang seolah-olah berasal darinya.
Namun Alya tahu ia tidak pernah mengirimkannya.
Ia kemudian mendatangi rumah ibunya.
Marlina sedang menyapu teras.
"Bu."
Marlina menoleh.
"Kamu datang?"
"Aku mau tanya."
"Soal apa?"
"Uang yang selama ini Ibu minta."
Marlina melanjutkan menyapu.
"Kenapa?"
"Sebagian uang itu ternyata bukan untuk kebutuhan yang Ibu bilang."
Marlina berhenti.
"Siapa yang bilang?"
"Aku menemukan buktinya."
Marlina menatap Alya.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang.
Kemudian Marlina berkata,
"Jadi sekarang kamu lebih percaya suamimu daripada ibumu?"
Alya merasa dadanya sesak.
"Ini bukan soal percaya."
"Selalu begitu."
"Ibu yang membuat semuanya seperti ini."
Marlina tertawa kecil.
"Ibu?"
"Iya."
"Kamu sekarang berani menyalahkan Ibu?"
Alya menahan air mata.
"Aku kehilangan suamiku karena semua ini."
Marlina diam.
"Apa Ibu tahu apa yang terjadi?"
Tidak ada jawaban.
"Ibu!"
Marlina akhirnya berkata,
"Kamu pikir hidupmu akan selamanya mudah setelah menikah dengan orang kaya?"
Alya membeku.
"Maksud Ibu?"
"Ibu hanya mencoba memastikan kamu tidak kembali hidup susah."
"Dengan menghancurkan rumah tanggaku?"
"Aku tidak menghancurkan apa pun."
"Ibu memanipulasi Raka."
Marlina membuang sapunya.
"Kalau Raka begitu mudah dipengaruhi, salah siapa?"
Alya seperti baru saja ditampar.
Ia menatap ibunya.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang selama ini tidak ingin ia lihat.
Bukan seorang ibu yang sedang meminta pertolongan.
Tetapi seorang perempuan yang merasa berhak atas kehidupan anaknya.
"Aku tidak pernah merasa menjadi anak yang cukup untuk Ibu."
Suara Alya bergetar.
"Tapi aku tidak pernah menyangka suatu hari Ibu juga akan mengambil satu-satunya rumah yang berhasil kubangun."
Marlina terdiam.
Wajahnya berubah.
Namun tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada pelukan.
Hanya keheningan yang terasa seperti pengakuan.
Alya berbalik.
Ia pergi sambil membawa luka yang bahkan tidak bisa ia jelaskan.
---
Ketika Alya pulang, Raka sudah menunggunya.
"Aku bertemu ibumu."
Alya berhenti.
"Aku tahu semuanya."
Alya memandangnya.
"Jadi kamu percaya aku?"
Raka menunduk.
"Aku percaya bahwa kamu tidak melakukan semua itu."
Air mata Alya langsung menggenang.
"Tapi?"
Raka menghela napas.
"Aku juga salah."
Alya menatapnya.
"Aku terlalu mudah percaya pada apa yang kulihat."
"Raka..."
"Aku seharusnya datang kepadamu."
Ia mengusap wajah.
"Seharusnya aku bertanya. Bukan menyimpulkan."
Alya menangis.
"Kenapa kamu tidak membelaku?"
Raka tidak mampu menjawab.
Karena itulah pertanyaan yang paling sulit.
Ia memang mencintai Alya.
Tetapi ketika rumah tangga mereka mulai retak, ia tidak cukup berani berdiri di tengahnya.
Ia membiarkan keluarganya berbicara.
Membiarkan Marlina memengaruhinya.
Membiarkan Clara menjadi tempatnya mengadu.
Dan pada akhirnya, ia kehilangan orang yang seharusnya paling ia percaya.
"Aku minta maaf," katanya.
Alya menghapus air matanya.
"Maaf tidak membuat semuanya kembali seperti dulu."
"Aku tahu."
"Aku sudah terlalu lama merasa sendirian."
Raka menunduk.
"Aku juga."
Kalimat itu membuat Alya semakin sedih.
Karena mereka berada di rumah yang sama.
Mencintai satu sama lain.
Namun tetap merasa sendirian.
---
Perceraian tidak terjadi dalam satu malam.
Ada percakapan panjang.
Ada keluarga yang mencoba mempertahankan.
Ada orang yang menyuruh Alya bertahan demi anak-anak.
Ada pula yang menyuruh Raka memberikan kesempatan kedua.
Namun ketika sebuah hubungan sudah kehilangan rasa aman, mempertahankannya hanya karena takut pada perceraian tidak selalu menjadi pilihan terbaik.
Akhirnya mereka berpisah.
Hari ketika keputusan itu resmi, Alya duduk di dalam mobil sendirian.
Ia tidak langsung menangis.
Ia hanya memandang gedung di belakangnya.
Dulu ia masuk ke tempat seperti itu sebagai seorang istri.
Kini ia keluar sebagai seorang perempuan yang harus memulai hidup dari awal.
Ketika sampai di rumah, anak-anak menyambutnya.
"Bu..."
Alya tersenyum.
"Iya."
Anaknya memeluknya.
Dan saat itulah pertahanannya runtuh.
Ia masuk kamar mandi, menutup pintu, lalu menangis tanpa suara.
Bukan karena ia ingin Raka kembali.
Bukan hanya karena pernikahannya berakhir.
Tetapi karena ia takut.
Takut tidak mampu.
Takut anak-anaknya kekurangan.
Takut harus menghadapi dunia sendirian.
Takut suatu hari anak-anaknya bertanya mengapa keluarga mereka tidak lagi lengkap.
Malam itu Alya duduk di lantai kamar setelah anak-anak tidur.
Ia membuka dompet.
Menghitung uang yang tersisa.
Tidak banyak.
Ia melihat daftar pengeluaran.
Biaya sekolah.
Makan.
Listrik.
Sewa.
Kebutuhan anak.
Tangannya berhenti.
Alya menatap dua anaknya yang tidur berdekatan.
Air matanya mengalir perlahan.
"Apa Ibu bisa?"
Tidak ada jawaban.
Ia mengusap wajah.
Untuk beberapa menit, ia membiarkan dirinya takut.
Kemudian ia berdiri.
Mengambil laptop tua yang sudah lama tidak digunakan.
Menyalakannya.
Layar membutuhkan waktu cukup lama untuk menyala.
Alya membuka daftar pekerjaan.
Satu per satu.
Ia mulai membaca.
Ada pekerjaan yang tidak sesuai.
Ada yang membutuhkan pengalaman.
Ada yang menawarkan gaji kecil.
Tidak masalah.
Besok ia akan mencoba.
Lusa ia akan mencoba lagi.
Kalau ditolak, ia akan mencari yang lain.
Alya memandang anak-anaknya.
"Kalau besok Ibu harus mulai dari nol..."
Ia tersenyum di tengah air mata.
"...berarti besok Ibu mulai."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kehilangan rumah tangganya, Alya tidak lagi menunggu seseorang datang menyelamatkannya.
Ia tahu hidupnya belum selesai.
Ia hanya sedang memasuki babak yang paling sulit.
Dan ia belum tahu bahwa bertahun-tahun dari malam itu, anak-anak yang sedang tidur di hadapannya akan menjadi alasan terbesar mengapa ia tidak pernah menyesali keputusan untuk bangkit.
Karena terkadang, sebuah rumah memang harus runtuh terlebih dahulu.
Agar seseorang akhirnya belajar bahwa ia mampu membangun rumah yang jauh lebih kuat dengan tangannya sendiri.
BERSAMBUNG
PART IV — PEREMPUAN YANG BANGKIT DARI RERUNTUHAN