Pagi itu Alya berangkat lebih awal dari biasanya.
Sebelum meninggalkan rumah, ia sempat menyiapkan sarapan untuk Raka. Nasi goreng sederhana, telur mata sapi, dan kopi yang selalu diminum Raka tanpa gula.
Raka keluar dari kamar sambil merapikan manset kemejanya.
"Kamu mau ke rumah Ibu?"
Alya mengangguk.
"Iya. Semalam Ibu telepon."
"Ada apa?"
"Aku belum tahu."
Raka mengambil cangkir kopi.
"Kalau ada masalah, telepon aku."
Alya tersenyum.
"Iya."
Raka menatapnya beberapa detik.
"Kamu baik-baik saja?"
"Baik."
Jawaban itu terlalu cepat.
Namun Raka tidak bertanya lagi.
Alya mencium tangannya sebelum pergi.
Ia tidak tahu, percakapan singkat pagi itu akan menjadi salah satu kenangan yang kelak sering ia ulang dalam kepalanya.
Karena ada masa ketika ia masih bisa meninggalkan rumah dengan keyakinan bahwa ketika pulang, semuanya akan tetap sama.
---
Rumah masa kecil Alya tampak lebih kecil setelah ia menikah.
Atau mungkin karena dirinya yang sudah berubah.
Marlina duduk di ruang tengah ketika Alya datang. Di atas meja terdapat beberapa lembar dokumen dan sebuah buku catatan kecil.
"Ibu mau bicara?" tanya Alya.
"Duduk dulu."
Alya duduk di hadapan ibunya.
Marlina mendorong beberapa kertas ke arahnya.
"Ada utang."
Alya membaca sekilas.
"Utang siapa?"
"Ibu."
Alya mengangkat wajah.
"Untuk apa?"
Marlina menjelaskan beberapa kebutuhan yang harus dibayar. Jumlahnya tidak sedikit.
Alya menarik napas panjang.
"Kenapa Ibu tidak bilang dari kemarin?"
"Ibu tidak mau mengganggu kamu."
"Tapi Ibu tetap harus bilang."
Marlina memandangnya.
"Kamu sekarang sudah menikah."
Alya tahu arah pembicaraan itu.
"Ibu mau aku minta bantuan Raka?"
"Dia suamimu."
Alya menunduk.
"Aku bisa bantu sedikit."
"Sedikit?"
"Aku juga punya kebutuhan."
Marlina menyandarkan tubuhnya.
"Sejak menikah, kamu berubah."
Alya terdiam.
"Aku tidak berubah, Bu."
"Dulu kalau keluarga butuh apa-apa, kamu selalu ada."
"Aku masih ada."
"Tapi sekarang kamu punya suami."
Alya mengusap kedua tangannya.
"Justru karena aku sudah menikah, aku harus menjaga rumah tanggaku juga."
Marlina memalingkan wajah.
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Alya akhirnya memberikan sebagian tabungannya.
Tidak banyak.
Tetapi cukup untuk menyelesaikan sebagian masalah.
Ketika ia pulang sore itu, ia membawa perasaan yang tidak nyaman.
Ia merasa bersalah karena tidak bisa memberikan lebih.
Sekaligus merasa bersalah karena mulai mempertimbangkan dirinya sendiri.
Dan perasaan seperti itulah yang sejak kecil selalu membuat Alya mudah dikendalikan.
---
Beberapa minggu kemudian, permintaan Marlina kembali datang.
Kali ini melalui pesan.
Ibu butuh uang untuk bayar tagihan.
Alya menatap layar cukup lama.
Ia baru saja menerima gaji.
Sebagian sudah dialokasikan untuk kebutuhan rumah, cicilan, tabungan, dan biaya lainnya.
Ia mengetik:
Berapa, Bu?
Angka yang dikirimkan membuat Alya memejamkan mata.
Ia tidak mampu.
Namun beberapa menit kemudian pesan lain masuk.
Kalau bukan kamu, Ibu harus minta sama siapa?
Alya menghela napas.
Ia akhirnya mengirim sebagian.
Tidak semua.
Tetapi kejadian itu mulai berulang.
Sedikit demi sedikit.
Permintaan yang awalnya hanya sesekali berubah menjadi kebiasaan.
Setiap kali Alya mengatakan tidak bisa, Marlina selalu memiliki alasan.
Adiknya membutuhkan sesuatu.
Ada tagihan.
Ada utang.
Ada keperluan mendadak.
Dan hampir selalu diakhiri dengan kalimat yang sama.
Kamu sekarang sudah punya suami.
Alya mulai merasa bahwa pernikahannya bukan lagi sekadar pernikahan.
Di mata ibunya, pernikahan itu seperti pintu menuju kehidupan yang lebih mudah.
---
Raka akhirnya menyadari perubahan itu.
"Kamu akhir-akhir ini sering transfer uang."
Alya yang sedang merapikan pakaian berhenti.
"Kamu lihat?"
"Bukan mengawasi."
Raka tersenyum tipis.
"Aku cuma memperhatikan."
Alya kembali melipat pakaian.
"Ibu sedang banyak kebutuhan."
"Kalau memang butuh bantuan, bilang."
"Aku bisa mengatasinya."
Raka menghela napas.
"Kamu selalu bilang begitu."
Alya diam.
"Kenapa kamu tidak membiarkan aku ikut membantu?"
"Karena aku tidak mau keluargaku menjadi bebanmu."
Raka menatapnya.
"Kalau kita sudah menikah, keluargamu bukan sesuatu yang harus kamu sembunyikan dariku."
Alya tersenyum kecil.
"Aku tahu."
"Tapi kamu tetap menyembunyikannya."
Alya tidak menjawab.
Ia tahu Raka benar.
Namun ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia takut jika Raka terlalu jauh masuk ke dalam masalah keluarganya, suatu hari laki-laki itu akan melihat betapa berantakannya kehidupan yang selama ini berusaha ia sembunyikan.
Alya ingin Raka mencintai dirinya.
Bukan masalah-masalah yang datang bersamanya.
---
Di rumah keluarga Raka, semuanya berbeda.
Ratih selalu menjaga rumah tetap rapi.
Makanan tersaji dengan baik.
Percakapan teratur.
Tidak ada suara televisi terlalu keras.
Tidak ada pakaian yang tergantung sembarangan.
Alya berusaha menyesuaikan diri.
Namun sesekali komentar kecil membuatnya merasa seperti orang luar.
"Kamu masih memasak sendiri?" tanya Ratih suatu sore.
"Iya, Bu."
"Raka dulu terbiasa dengan makanan yang cukup beragam."
Alya tersenyum.
"Saya bisa belajar."
Ratih mengangguk.
"Mama hanya memberi tahu."
Komentarnya tidak kasar.
Justru itu yang membuat Alya sulit membalas.
Jika seseorang menghina secara terang-terangan, ia bisa marah.
Tetapi bagaimana melawan sesuatu yang selalu dibungkus dengan kata saran?
Suatu hari Ratih bertanya,
"Kamu masih membantu ibumu?"
Alya mengangguk.
"Iya."
"Setiap bulan?"
"Iya."
Ratih terdiam sejenak.
"Setelah menikah, prioritas seseorang memang berubah."
Alya tahu maksudnya.
Ia hanya menjawab,
"Saya tetap berusaha seimbang."
Ratih tersenyum.
"Mama yakin kamu bisa."
Namun dalam perjalanan pulang, Alya lebih banyak diam.
Raka menggenggam tangannya.
"Kamu kepikiran ucapan Mama?"
"Enggak."
"Alya."
Alya menatap jendela.
"Kadang aku merasa apa pun yang kulakukan selalu kurang."
Raka menghela napas.
"Kamu tidak harus membuat semua orang puas."
Alya tersenyum.
"Aku sedang belajar."
Raka mencium punggung tangannya.
"Belajar bersamaku."
Alya mengangguk.
Untuk beberapa saat, kalimat itu cukup untuk menenangkan hatinya.
---
Marlina mulai semakin sering datang.
Awalnya Alya senang.
Ia mengira ibunya hanya ingin dekat dengannya setelah pernikahan.
Namun lama-kelamaan, kedatangannya selalu disertai permintaan.
Suatu sore Marlina melihat sebuah tas baru di ruang tamu.
"Berapa harganya?"
Alya menoleh.
"Raka yang belikan."
Marlina menyentuh tas itu.
"Bagus."
Kemudian ia tertawa kecil.
"Dulu beli tas seratus ribu saja kamu pikir-pikir."
Alya merasa tidak nyaman.
"Bu, jangan begitu."
"Ibu cuma bilang."
Marlina melihat sekeliling rumah.
"Kamu sekarang hidup enak."
Alya tidak menjawab.
Kalimat itu terdengar seperti pujian.
Tetapi entah mengapa terasa seperti tuduhan.
Malamnya, Marlina kembali meminta uang.
Kali ini Alya menolak.
"Belum bisa, Bu."
Marlina menatapnya.
"Kamu punya suami."
"Aku tahu."
"Kalau begitu minta."
"Aku tidak mau setiap ada kebutuhan Ibu, aku meminta kepada Raka."
"Kenapa?"
"Karena aku juga harus menjaga rumah tanggaku."
Marlina terdiam.
Kemudian suaranya menjadi lebih dingin.
"Jadi sekarang rumah tanggamu lebih penting daripada Ibu?"
Alya tercekat.
"Bukan begitu."
"Kalau bukan, kenapa susah sekali membantu?"
Alya menunduk.
Di depan ibunya, perempuan dewasa yang mampu mengurus pekerjaan, rumah, dan hidupnya sendiri itu tiba-tiba kembali menjadi anak kecil yang takut dianggap tidak berbakti.
"Aku akan cari jalan."
Marlina tersenyum.
"Nah. Begitu."
Alya tidak menyadari bahwa sejak saat itu, permintaan ibunya mulai berubah menjadi kewajiban.
---
Ia tidak menceritakan kejadian itu kepada Raka.
Bukan karena ingin berbohong.
Ia hanya takut masalah akan semakin besar.
Namun rahasia kecil sering kali tidak tinggal kecil.
Suatu malam Raka pulang lebih cepat.
"Aku tadi bertemu ibumu."
Alya yang sedang memasak langsung menoleh.
"Di mana?"
"Di kantor."
Alya berhenti mengaduk masakan.
"Ibu ke sana?"
"Iya."
Raka meletakkan tasnya.
"Dia meminta sesuatu."
Alya diam.
"Kenapa kamu tidak cerita?"
"Aku takut kamu marah."
"Aku bukan marah karena ibumu minta bantuan."
"Lalu?"
"Aku marah karena kamu menyembunyikannya."
Alya mengusap tangannya.
"Aku tidak mau masalah keluargaku masuk ke rumah kita."
Raka menatapnya lama.
"Masalah keluargamu sudah masuk ke rumah kita sejak lama."
Alya terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa Raka sedang berdiri di sisi lain sebuah masalah.
---
Beberapa hari kemudian, Raka menemukan bukti transfer.
Namanya tercantum sebagai pengirim.
Tujuannya rekening Marlina.
Jumlahnya cukup besar.
Raka menatap layar ponselnya.
"Alya."
Alya menoleh.
"Ini apa?"
Ia melihat layar tersebut dan langsung membeku.
"Aku..."
"Kamu bilang tidak meminta uang dariku."
"Aku tidak meminta."
"Lalu kenapa rekeningku digunakan?"
Alya menelan ludah.
"Aku terpaksa."
"Kenapa?"
"Ibu sedang membutuhkan."
Raka mengusap wajah.
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu berpikir keluargaku memanfaatkanmu."
Raka tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana.
"Dan sekarang?"
Alya tidak mampu menjawab.
"Aku tidak tahu mana yang harus aku percaya."
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Alya memandang suaminya.
"Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu."
"Aku tahu."
"Tapi?"
Raka menarik napas panjang.
"Aku mulai merasa kamu menyembunyikan terlalu banyak hal dariku."
Malam itu mereka tidur di kamar yang sama.
Tetapi tidak ada percakapan.
Tidak ada pelukan.
Hanya jarak yang sebelumnya tidak pernah ada.
---
Hari-hari berikutnya menjadi semakin dingin.
Raka mulai pulang lebih larut.
Alya tidak langsung curiga.
Sampai suatu malam ia melihat nama seorang perempuan muncul di layar ponsel Raka.
Clara.
"Siapa?"
Raka menoleh.
"Teman kantor."
"Oh."
Alya kembali makan.
Clara bukan perempuan yang secara terang-terangan mendekati Raka.
Ia hanya seseorang yang sering menjadi tempat Raka berbicara tentang pekerjaan.
Namun ketika rumah mulai penuh tekanan, orang di luar rumah yang tidak memiliki kepentingan apa pun bisa terasa seperti tempat paling nyaman untuk berbicara.
Suatu sore Alya pulang lebih awal.
Dari ruang tengah, ia mendengar Raka sedang menelepon.
"Kalau aku terus begini, aku tidak tahu harus bagaimana."
Suara Clara terdengar samar dari seberang.
"Kamu sudah bicara dengan Alya?"
"Sudah."
"Lalu?"
"Aku tidak tahu."
Alya berdiri di balik pintu.
Ia tidak mendengar percakapan selanjutnya.
Bukan karena tidak ingin tahu.
Ia hanya takut.
Malamnya Alya bertanya.
"Kamu tadi telepon Clara?"
Raka terdiam.
"Iya."
"Kenapa cerita masalah kita kepada dia?"
"Dia teman."
"Aku tahu."
Alya menatapnya.
"Tapi aku istrimu."
Raka menghela napas.
"Aku juga manusia, Alya."
"Aku juga."
Mereka saling menatap.
Tidak ada yang menang.
Tidak ada yang benar-benar salah.
Tetapi untuk pertama kalinya, Alya merasa mereka sedang berdiri di sisi yang berbeda.
---
Malam itu, ketika Raka sudah tidur, Alya membuka kembali beberapa pesan lama dari ibunya.
Ia ingin memastikan sesuatu.
Semakin lama membaca, semakin ia merasa ada bagian dari cerita yang tidak sesuai.
Beberapa transaksi ternyata dilakukan tanpa sepengetahuannya.
Ada permintaan yang tidak pernah ia setujui.
Lalu ia menemukan satu pesan dari nomor yang tidak dikenal.
> Jangan sampai Raka tahu semuanya.
Alya menatap layar ponselnya.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Siapa yang mengirim pesan itu?
Apa yang sebenarnya disembunyikan ibunya?
Dan mengapa seseorang begitu takut jika Raka mengetahui semuanya?
Alya belum sempat mencari jawabannya.
Di luar kamar, Raka berdiri sambil memegang sebuah amplop cokelat.
Amplop itu baru saja diberikan kepadanya oleh seseorang yang tidak ingin disebut namanya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar bukti.
Bukti yang, jika dibaca tanpa penjelasan, akan membuat Alya terlihat sebagai orang yang selama ini berbohong kepada suaminya.
Raka menatap amplop itu cukup lama.
Kemudian memandang pintu kamar.
Tangannya mengepal.
Ia masih mencintai Alya.
Tetapi untuk pertama kalinya, cinta itu harus berhadapan dengan keraguan.
Dan keraguan, jika dibiarkan terlalu lama, bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kebencian.
Di dalam kamar, Alya masih menatap pesan di ponselnya.
Ia belum tahu apa yang akan terjadi setelah malam ini.
Ia hanya tahu satu hal.
Ada sesuatu yang sedang disembunyikan keluarganya.
Dan ketika kebenaran itu akhirnya muncul, mungkin bukan hanya kepercayaan Raka yang akan hancur.
Mungkin rumah yang selama ini ia pikir aman tidak pernah benar-benar berdiri di atas tanah yang kokoh.
BERSAMBUNG
PART III — KETIKA RUMAH ITU RUNTUH