“SIAPA YANG MENUTUPI SESUATU DARI SIAPA DISINI?!”
Adian tersentak.
“Chiya?”
Mulanya ia tak mengerti apa yang diteriaki kekasihnya.
Bertahun-tahun keduanya menjalin hubungan. Chiya tak pernah bicara pada Adian dalam nada suara yang tinggi.
Adian mengklaim dirinya sebagai seseorang yang paling mengenal siapa calon istrinya itu.
Tidak akan ada sesuatu yang membuat Chiya amat marah seperti sekarang ini. Sampai seolah dari pancar manik toscanya menyiratkan kebencian yang amat dalam kepada Adian..
“Chiya..?”
‘Mustahil kan orang yang aku cintai menatap begitu?’ Adian membatin pilu.
Namun ujaran yang keluar dari mulut Chiya selanjutnya tak ayal membuat dadanya menclos.
“KAU EMERLAD KAN?! KAU MERENCANAKAN MISI BALAS DENDAM PADA SADRACH KAN! KAU TAU AKU ADALAH SATU DARI 13 KETUA DI PASUKAN 13 SADRACH ADIAN, APA MAKSUDMU SEBENARNYA?!”
Adian membelalak semakin lebar.
.
.
Chiya mengatur napasnya yang berantakan.
“Kau bajingan..”
Ia membuang napas. Kembali memahami dan menerima kenyataan pahit menyoal asal-usul Adian.
Ya.. itulah Emerlad.
Katanya, Emerlad itu memiliki kutukan sendiri terhadap Sadrach.
Disetiap generasi, disetiap pergantian pemimpin klan yang baru yang terjadi setidaknya puluhan tahun sekali, ada saja bentrok besar yang terjadi antara Emerlad dan Sadrach. Emerlad sendiri memiliki dendam kesumat kepada Sadrach dengan berbagai macam alasan.
Mereka akan melakukan apa saja untuk menghancurkan Sadrach dari luar maupun dalam. Secara halus maupun kasar.
Baru-baru ini, keberadaan Emerlad memang jadi lebih sedikit bekas perang seratus tahun sebelumnya yang membuat mereka hampir punah dan bergerak dalam kelompok kecil.
Mereka tersebar dan gosipnya membangun kekuatan untuk kembali menantang Sadrach yang telah mengalahkan mereka.
“Hhhh..!”
Chiya menghela napas keras.
Mengetahui kalau Adian, ternyata menjadi salah satu sebab mengapa 13 divisi di Sadrach tak bisa menurunkan pengawasannya, tak pelak membuatnya marah. Namun Adian adalah pria yang begitu dicintainya..
Chiya dengan frustasi menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menumpunya didashboard mobil. Emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluap keluar.
Kecewa berat. Putus dengan Adian tidak pernah terbesit bahkan sekalipun itu didalam mimpi buruknya. Tapi bahkan Adian tidak memacarinya karena alasan cinta.
Chiya dengan kecerdasan yang ia miliki—sebab ia perempuan pertama yang lulus akademi dengan nilai diatas 90—sekejap saja mampu menganalisa dan menyimpulkan kalau selama ini dirinya hanya dijadikan alat.
Ironis. Dirinya yang disebut-sebut pemikir yang taktis dan strategis malah dibutakan oleh cinta. Parahnya orang yang ia anggap kekasih sehidup semati bahkan tidak mencintainya sama sekali.
Chiya mencoba menegakkan duduknya. Matanya sudah sembap dan merah. Ia menatap jalanan sepi yang mulai diselimuti malam.
“Ada apa? Kau bahkan tidak menyangkal atau memberi pembelaan?” tanyanya serak.
Bahkan ditengah realita yang menyayat, Chiya masih berharap bahwa semua ini kebohongan.
Namun Adian tidak menjawab. Membuat Chiya semakin sakit seolah hatinya diiris sembilu dan dihujam ribuan jarum.
“Asshh…”
Chiya mendesah kecewa. Mati-matian menahan isak agar tak lolos dari bibirnya.
Bagaimanapun ia mencintai Adian.
Hubungan mereka tinggal selangkah lagi menuju altar suci. Chiya membiarkan air matanya menetes-netes.
Kenyataan begitu menyakitkan. Keduanya sadar bahwa mereka tidak pada posisi dalam menego pekerjaan.
Chiya takkan meninggalkan posisinya sebagai kapten divisi 10. Pun dengan Adian sebagai penerus Emerlad itu sendiri.
“Yah.. kukira semuanya sudah jelas. Aku akan bilang pada nenek dan Kakak kalau kau takkan datang kerumah minggu depan. “
Chiya berujar final. Tegaskan kenyataan bahwa salah satu mimpi yang selama ini mereka damba memang kandas di tengah jalan.
Mencoba menguatkan diri dan hati, Chiya melepaskan sabuk pengaman dan membereskan bawaannya.
“Terima kasih untuk selama ini. Kita putus Adian,”
.
Chiya keluar dan menutup pintu mobil dengan keras. Minggu depan adalah jadwal yang sudah mereka persiapkan untuk acara lamaran secara resmi dimana kedua keluarga akan bertemu.
Sekarang semua itu hancur. Begitu saja, tanpa Adian mampu mencegahnya.
Bahkan langkah cepat Chiya tidak bisa dikejarnya. Adian terpaku diam melihat kekasih hatinya lari sambil menghapus air matanya.
“AHH!”
Adian memukul stir dengan kalut. Kehilangan Chiya bahkan tanpa mampu menahannya.
Keluarga besarnya memang bilang kalau penyamarannya akan berakhir begitu Chiya tau identitas sejatinya.
Tapi ia tak pernah diberitau kalau semua itu akan semenyesakkan ini..
“Persetan soal Emerlad dan Sadrach..”
Adian mengumpat. Bentur-benturkan keningnya di stir mobil sambil menyumpah serapah.
Adian sejatinya tak pernah peduli dengan Emerlad atau Sadrach itu sendiri.
Namun mendapati Chiya semudah itu mengatakan putus padanya, bahkan belum sehari Sadrach b*****t itu mengangkatnya menjadi kapten.. mereka sudah sekurang ajar ini mengobok-obok hubungannya dengan Chiya yang sudah dibangun bertahun-tahun.
“Kenapa kau harus peduli dengan jabatan bodoh seperti itu Chiya? Tidakkah aku dan hubungan kita lebih penting dari itu semua?”
Adian bermonolog sedih meratapi kepergian Chiya.
Bahkan, andaikan Chiya minta Adian lepas dari Emerlad, rasanya ia sanggup-sanggup saja mengingat segala hal yang telah mereka lalui bersama lebih berharga baginya daripada sejarah bodoh pembalasan dendam antar klan yang tidak pernah berakhir.
Sebenarnya sekolot apa para Sadrach itu diajari untuk membenci siapapun yang berada diluar mereka terutama klannya?
Adian sejak dulu selalu ogah-ogahan menjalani tugas dan segudang pelajaran tambahan untuk persiapan menjadi penerus Emerlad.
Apalagi begitu bertemu Chiya dan orang itu.. Adian selalu merasa ia tak punya alasan untuk saling membunuh dengan para Sadrach.
Chiya adalah manusia yang pantas dicintai dan dilindungi. Terlepas dari bangsa manapun ia berasal. Seseorang yang begitu melengkapi Adian selalu selayak itu diperjuangkan.
Oke, memang dirinya tau kalau Sadrach dan Emerlad itu tak pernah akur. Tapi bukankah itu tugas mereka sebagai generasi baru untuk mengakhiri semuanya? Membuat awal dan kehidupan baru yang lebih damai untuk kedua pihak?
Karena Adian adalah penerus tunggal Jeallopes, ia dibebaskan menjalankan rencananya sendiri.
Bertahun-tahun menjalin hubungan, ia berhasil menyembunyikan identitas aslinya. Kelak saat menikah nanti, Ia mau jadikan Chiya sebagai ratu. Sebagai permaisuri Jeallopes terakhir yang berasal dari Sadrach.
Maka dengan itu rakyat yang bergantung padanya tidak perlu berperang. Maka dengan itu semoga Emerlad dan Sadrach dapat hidup dengan tenang tanpa dendam..
Tapi kenyataan selalu lebih pahit dari impian.
Ia tidak berencana ketauan secepat ini pada momen seperti ini. Chiya bahkan tidak mau membicarakannya dulu dan langsung minta putus begitu saja. Adian tidak siap kalau ditanya sekarang!
‘Setiap Emerlad membutuhkan alasan yang kuat untuk balas dendam dengan Sadrach. ‘
Persetan dengan harga diri sebagai Emerlad.
Adian dengan gemeletuk gigi menahan marah mengangkat wajahnya dari stir.Suara kakaknya terngiang seperti mantra yang membangkitkan kebencian dihati Adian.
Katanya.. memang sudah kutukan kalau Emerlad akan selalu memiliki dendam menyakitkan karena perilaku Sadrach kepada mereka.
Sehingga Emerlad yang meskipun kecil dan lemah takkan berhenti menggoyahkan Sadrach hingga kejayaan kembali mereka dapatkan.
Dendam adalah sumber kehidupan. Membalaskannya akan memberimu alasan untuk melanjutkan masa depan. Begitulah cara seorang Emerlad hidup.
Adian semula berpikir kalau itu sangat konyol.
Tapi begitu cinta merantainya hingga sesak dan mengikatnya sampai lecet. Barulah Adian sadar.
Bahwa ia memanglah seorang keturunan asli Emerlad. Yang harus hidup dalam dendam demi kejatuhan klan Sadrach yang telah merebut bahagia bangsanya.
Merebut bahagianya.
.
.
.
Ah.
Rasanya Adian sudah punya. Alasan untuk meletuskan kembali perang dengan Sadrach.
Demi membawa Chiya kembali ke dalam peluknya.