Markas Besar Militer Pasukan 13 Sadrach selalu sibuk.
Bahkan dengan 13 divisi yang mereka punya, seringkali pekerjaan overload dan meminta korps intelejen bahkan administrasi yang kurang berkepentingan dari sektor lain turut campur membantu mereka mengurus Markas Besar Sadrach.
Chiya bersyukur karena ia suka bekerja.
Kali ini ia ditugaskan melengkapi beberapa laporan yang ada di divisi nomor lainnya.
Di perpustakaan yang luas ini. Dimana rak-rak kayu jati menjulang tinggi dan berdebu dibeberapa sisi.
Chiya ditengah tumpukan berkas dan buku-buku referensi seperti akan tenggelam di sana. Pandangannya fokus. Sibuk meneliti apa-apa saja yang tertulis demi menemukan informasi yang ia cari.
“Nona Hitsuya, tolong bantu divisi 9 dan 5 ya.”
Senyum Urumi saat mendatangi mejanya terbayang lagi.
Sebagai kapten berdedikasi dan baru di Markas ini, Chiya jelas tidak bisa menolak permintaan kapten yang puluhan tahun lebih berpengalaman darinya.
“Baik, kapten.”
Bahkan meski kedudukan mereka setara. Chiya yang bahkan membenci intimidasi belum bisa bersikap lurus dengan ideologi yang ia miliki.
“Baiklah.. dimana kalian semua hm, dokumen menyebalkan?”
Ia baru saja menerima dokumen dari divisi 9. Kapten divisi 5 dan 9 sedang kosong. Tak jarang ia ditugaskan membantu pekerjaan disana mengingat kapasitas yang ia punya sebagai kapten divisi 10 dinilai besar dengan kejeniusan yang ia punya.
Chiya mengehela napas. Ia ingin mengeluh karena kerjaannya tak kunjung usai. Tapi ia bersyukur kesibukannya ini sedikit membantunya melupakan Adian.
Maka dengan langkah agak terburu mengejar waktu, Chiya yang telah mendapat apa yang ia inginkan berjalan menuju ruangannya.
“Nona Hitsuya..” sapaan Urumi membuat langkahnya terhenti. Urumi berdiri dihadapannya seperti mencegat.
“Aku sudah dengar tentang hubunganmu. Maafkan aku.”
Pria paruh baya berambut putih dan panjang itu menunduk sedih.
Bagaimanapun Urumi yang menunjukkan padanya kebenaran itu.
Terlepas dari jabatan yang Urumi miliki. Chiya diam-diam kagum pada senior setaranya yang memiliki kepribadian selembut bunga lili yang membuatnya mudah berempati. Meski pertumpahan darah dan peperangan menyakitkan tak terhitung ia lewati.
Chiya menunduk.
“Tak masalah. Cepat atau lambat, hal ini pasti terjadi padaku.”
Yah, mau sekarang atau nanti pasti sama saja. Ia harus tetap meninggalkan Adian.
“Kau hebat. Kau sangat dewasa meskipun usiamu masih semuda ini.” Urumi tersenyum.
“Jadi. Ada apa?” Chiya enggan mengungkit hubungannya yang baru berakhir.
Cepat-cepat mengalihkan pembicaraan sebelum emosinya kembali tak karuan. Lagipula ia banyak kerjaan.
“Ah, aku hampir lupa. Ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu. Mungkin dia bisa menjadi temanmu..” Urumi mengedipkan sebelah matanya penuh makna.
“Eh? Aku tidak berencana mencari pengganti-“
“Sudahlah sudahlah, coba saja dulu!”
Tanpa sempat protes, punggung Chiya yang kecil dan ringkih sudah kembali terdorong masuk ke perpustakaan.
“AYO SINI.”
Urumi berujar semangat. Seolah sengaja ingin Chiya kembali sibuk disana.
“Hhh.. astaga Kapten Urumi..”
Chiya mengusak wajahnya. Sadar kalau kebanyakan mengeluh makin berat menjalaninya.
Akhirnya Chiya memilih menyusuri perpustakaan dan menemukan seorang pria jangkung berambut oranye tengah menaruh buku-buku diatas rak tinggi.
“Dia petugas lapangan dari divisiku. Tapi sekarang sedang ditugaskan membantu divisi 5 dan 9 yang kosong sepertimu! Cobalah ngobrol dengannya!”
Kemudian Urumi melambai pergi.
Chiya mengehla napas. Kerjaannya masih banyak. Dan ia memang tidak berencana mencari pengganti Adian secepat ini. Secara hubungan sekian tahun yang ia bangun tidak akan semudah itu tergantikan dengan siapapun.
Baiklah Chiya belum move on.
Setidaknya ia masih agak trauma dengan yang kemarin dan ingin jauh-jauh dulu dengan hal yang berbau cinta-cintaan.
Kegiatan pemuda itu terhenti tatkala ia menyadari keberadaan Chiya.
“Hai.” Sapanya menoleh. Tersenyum.
“Kau yang dibicarakan Urumi ya.”
Chiya tak menjawab. Malah memalingkan wajah malas bertemu pandang. Alibinya sih membantu pemuda itu membereskan buku-buku.
Makanya Chiya seperti orang bodoh menuruti saja skenario tersebut.
“Hm.”
“Namamu?” tanyanya lembut.
“Hitsuya Chiya.”
Dia mengangguk kecil. Tak keberatan dengan respon sedingin es yang Chiya berikan.
“Ivander Ragnette.” Tetap memberikan senyum diakhir perkenalannya.
“Aku tau.”
“Eh?” pemuda itu terkejut.
Ivander Ragnette.
Salah satu lulusan terbaik Akademi Militer Sadrach. Karirnya juga bagus. Belakangan Chiya dengar dia menolak dicalonkan menjadi kapten dan memilih pasukan lapangan saja.
“Pasti dari Urumi ya.” Si oranye tersenyum lembut hingga matanya menyipit.
Menariknya, bahkan anak ini bukan keturunan Sadrach murni. Katanya, ibunya Ragnette. Dan ayahnya tidak jelas asal usulnya, sepertinya dari klan kecil sampai dinas sosial Sadrach tidak mencatatanya.
Karena sebuah kecelakaan dengan Tentara Sadrach lain, akhirnya Ivander Ragnette memiliki kekuatan magis Sadrach.
Chiya tak ambil pusing. Itu bukan urusannya. Tidak ada hubungannya juga dengannya. Jadi kenapa ia harus peduli?
Ia mengambil posisi disamping Ragnette Ivander. Mengambil buku-buku dari kardus dan menaruhnya sesuai tempat dimana buku itu berada seharusnya.
Mereka bekerja dalam diam. Chiya sengaja mengeluarkan aura ‘jangan ajak aku bicara’ dan mengambil buku-buku yang tempatnya mengharuskan dirinya menjauh dari Ragnette Ivander.
Baru sekitar 10 menit berlalu, buku dikardus telah berkurang. Dan saat Chiya kembali ketempat kardus itu, tak sengaja Ragnette Ivander juga kembali dari wilayah buku selainnya.
“Oh, sudah habis bukunya.” Ujar Ivander.
“Ada yang bisa kubantu lagi Ragnette?”
“Panggil saja aku Ivander.”
Chiya menatap pemuda itu. Lalu pemuda itu membalasnya tersenyum meyakinkan.
“Maaf, aku menolak terlalu akrab dengan orang.” Ujar Chiya memallingkan wajah. Bersiap pergi karena merasa tidak ada lagi yang perlu ia lakukan.
“Hee.. padahal aku berpikir kau menuruti saran Urumi karena bersedia membuka hatimu. Masih secinta itu ya pada mantan Emerlad tersayangmu.”
Deg.
Chiya yang sudah berbalik menoleh cepat. Mendapati seringai Ivander yang sama sekali berbeda dengan senyum lembut yang tadi. Matanya merendahkan. Alisnya terangkat sebelah seolah ia tau segalanya.
“Seberapa banyak yang kau tau?” tanya Chiya penuh selidik.
Ia selalu sensitif terkait apa saja yang menyangkut privasinya. Apalagi kali ini masalahnya tentang Adian. Tidak siapapun bahkan dirinya sendiri ia izinkan membahas masalah itu untuk saat-saat seperti ini.
“Entah. Mungkin semuanya.”
Ujarnya santai sambil mengangkat bahu menantang. Ivander membungkuk mengambil kardus yang kosong hendak membereskan.
Dia bukan orang sembarangan.
Antena kewaspadaan Chiya menyala cepat. Terlampau berbahaya mengetahui informasi yang bahkan ditutup rapat oleh anggota Pasukan 13 selainnya.
Ya, hubungan Chiya dan Adian bisa saja jadi skandal mengingat status keduanya. Ia bisa saja dituduh pengkhianat Sadrach dan bekerja sama dengan Adian untuk menghancurkan Pasukan 13 dari dalam.
Urumi dan Kyoshi sudah membantunya menutupi masalah ini dan membiarkan Adian menjadi lembaran masa lalu yang tak akan pernah ia buka lagi.
“KAU!”
Makanya ketika ada seseorang yang dengan kurang ajar membuka hal itu dan mempermainkannya demi kepentingan pribadinya.. Chiya merasa ia tak punya alasan untuk tidak menghajarnya.
Ia sudah mengorbankan segalanya untuk jabatan kapten ini.. ia takkan membiarkan semuanya hilang begitu saja karena mulut besar seseorang yang haus perhatian darinya.
Pukulan tangannya ditangkap dan Chiya dijatuhkan kepelukkan dengan satu gerakkan pengunci. Kardus yang Ivander pegang jatuh kelantai menimbulkan suara pelan. Mereka disudut ruangan.
Hanya ada tembok dibalik punggung Ivander yang memeluknya erat dari belakang.
“LEPASKAN!” Chiya meronta marah.
“Kau marah karena aku sangat mirip dengannya kan?”
Deg!
Ivander berbisik berat tepat ditelinganya. Dengan suara sarat intimidasi yang seolah memaksanya menyerah. Jatung Chiya berdegup cepat. Tubuhnya membeku seolah skakmat dengan ucapan yang Ivander lontarkan barusan.
“Apa-apaan kau.. kenapa kau melakukan ini padaku?” kata-kata Ivander tak pelak menyayat kembali lukanya yang masih basah karena batal nikah dengan Adian.
Matanya muai berkaca-kaca.
Sekali lihat saja Chiya sudah tau kalau Ivander adalah tipe yang sama seperti kekasihnya. Berada didekat Ivander hanya membuatnya teringat lagi dengan Adian yang tidak bisa digapainya.
Ivander malah memeluknya semakin erat. Ia sembunyikan wajahnya diantara perpotongan leher Chiya seolah memahami dengan baik rasa sedih yang menyelimuti hatinya.
“Sudah pasti karena aku menyukaimu kan..?”
Pelukannya melembut. Menjadi lebih hangat dan menenangkan. Bahkan auranya sama persis.
Dulu.. saat Adian menembaknya, juga blak-blakan model begini. Semua kenangan manis bersama kekasihnya, tetiba saja menyeruak dalam memori Chiya dan memaksa meluap keluar.
Kenangan yang selamanya akan menjadi kenangan.. tak mungkin terulang lagi..
Chiya memejamkan mata menelan isak tangisnya.
Ivander perlahan melepaskan dekapan hanya untuk memutar tubuh Chiya dan membenamkan wajah itu kedadanya.
Ivander mengusap punggung Chiya lembut. Sesekali menepuk-nepuk pelan seolah mengisyaratkan agar Chiya tidak menahannya. Menyuruhnya agar mengeluarkan kesedihan karena cintanya tak bisa saling memiliki.
“AAAAAAAH!”
Diperpustakaan yang sepi, Chiya meluapkan air mata dan sesak di hatinya sejak beberapa minggu yang lalu.
Didada seseorang yang bahkan Chiya tak peduli siapa dia.