Jatuh cinta itu untuk siapapun yang ingin membuka hati.
Rumah Chiya. Sebuah bangunan sederhana dengan dua lantai dan pekarangan yang tidak begitu luas.
“Aku pulang..” Chiya memberi salam.
“Selamat datang..”
Chiya dalam temaram bulan diatas waktu selesai jam kerja terpogoh-pogoh mencapai pintu.
Sebilah pedang di punggungnya. Seratus tujuh puluh sentimeter menggantung. Wajahnya lelah. Tubuhnya remuk. Seolah pedang itu yang menguras habis kekuatan sihirnya, menjadi bebannya seharian ini.
“Kau terlihat sangat lelah, Chiya.. Mau makan dulu?” perempuan bersurai hitam sebahu muncul di teras.
“Tidak usah, Kak Hana. Aku mau langsung istirahat.”
Dengan tenaga tersisa, Chiya melepas sepatunya dan menuju ke lantai dua. Chiya melewati Hana tanpa menatapnya.
“Heh? Kau tidak apa-apaaa…?!”
Teriakan khawatir Hana tidak terdengar. Namun Chiya sudah terlanjur menutup pintu kamar.
“Huhh..”
Chiya mengeluh.
Hari sudah gelap. Tanpa menyalakan lampu, Chiya melepaskan pedangnya dan menyandarkannya di sisi tempat tidur.
Lantas ia membanting diri ke kasurnya. Merefleksi kejadian hari ini. Sedikit sesal. Tapi tidak juga. Sebaliknya, ia malah menemukan perasaan menyenangkan dari momen yang beberapa jam lalu terjadi. Sensasi seperti kembang api. Meletup-letup sesekali. Meledak indah. Tapi kemudian hilang silih berganti.
Baiklah, sekarang Chiya merasa ia mulai gila. Emosi memang membutakan semuanya. Ia tidak bisa tidak ingat apa yang beberapa jam lalu terjadi antara dirinya dan Ivander diperpustakaan.
“Hei Chiya. Bagaimana kalau kau berpaling padaku?” tanya Ivander melepaskan pelukan kala tangis Chiya mereda.
“Aku tidak yakin.. bisa mencintai dalam keadaan begini.” Chiya berbalik. Malu menyembunyikan wajahnya yang sembap dan kusut oleh air mata.
Bukan hal umum bagi siapapun untuk menunjukkan sisi lemahnya pada orang asing yang baru bertemu bukan?
Tapi Chiya saat itu barangkali terlalu lelah untuk berpikir. Sehingga Ivander yang mestinya ia tolak, entah mengapa saat ini begitu menarik di mata Chiya.
“Hati itu sifatnya berubah-ubah, Chiya.”
Ujar Ivander lembut bak pujangga.
“Kemarin Adian menjadi pria yang paling kau cintai di dunia, tapi hari ini Adian menjadi pria yang paling kau benci di seluruh galaksi,”
Ivander kemudian menghela napas.
“Pun dengan aku. Hari ini kau tidak merasakan apapun padaku. Kau asing, setengah kesal, tapi terpesona di waktu bersamaan ketika aku muncul di hadapanmu..”
Ivander mendekatkan wajahnya perlahan. Menghias bibirnya dengan seringaian usil yang menawan.
“Tapi tidak tahu besok. Bisa saja aku menjadi belahan jiwamu seumur hidup bukan?”
Chiya mendengus geli. Omongannya di awal memang terdengar bijak. Tapi dua tiga kalimat yang kau dengarkan setelahnya akan membuatmu sadar bahwa orang ini amat penuh kepentingan. Menggunakan kebijaksanaan itu dipermukaan untuk meraih tujuan yang lebih dalam.
“Jadi lebih baik kita jalani dulu. Tak perlu terburu-buru. Meski sepintas aku dan mantan kekasihmu terlihat mirip, kau akan tau bedanya dan memutuskan karena aku lebih baik darinya.” Ivander menjauh. Lantas menolak pinggang dan tersenyum penuh percaya diri kepadanya.
“Begitu..?” Chiya melirik tak minat. Disamping karena kesadarannya yang saat itu masih kemana-mana. Chiya tak memungkiri kalau menangis cukup banyak memakan energinya.
“Tentu saja.” ujar Ivander membenarkan pertanyaan Chiya yang bahkan tidak terdengar seperti pertanyaan.
Chiya diam saja kala Ivander sudah menarik dagunya dengan seringai diwajah.
“Aku janji akan membuatmu bahagia.” Ia menyatukan kening mereka. Mengunci mata emerlad Chiya dengan manik coklat madunya. Memikat. Licik dan berbahaya. Namun disatu sisi penuh kekeras kepalaan untuk mendapatkan persetujuan darinya.
“Terserahmu sajalah.”
Amat familiar bagi Chiya.
Sekarang ia menutup wajahnya malu. Ia yakin saat itu kepalanya kosong.
Bisa-bisanya seorang kapten membiarkan dirinya defendless menghadapi laki-laki.
Saat itu Chiya memejamkan mata. Mengikuti permainan Ivander yang memberikan kecupan di kening alih-alih di bibir seperti yang ia bayangkan.
Tak ayal membuat Chiya membelalak lebar dengan wajah tersipu malu akan dirinya sendiri.
“Sampai sini dulu..” sebelah pipinya disapu ibu jari. Chiya tau Ivander mati-matian menahan diri. Manik madu itu sudah berkabut nafsu. Namun seperti katanya diawal, ia tak mau terburu-buru.
Haduhh gila sekali dia membiarkan pria yang baru ditemuinya hari ini menciumnya begitu. Putus dari Adian tak ayal membuat otaknya koslet. Segitu butuhnya ia akan kasih sayang dan cinta? Gila.
Tapi… Biar bagaimanapun..
Tiba-tiba telponya berbunyi. Membuyarkan lamunan Chiya dan memaksa dirinya bangu meraih ponsel diatas nakas.
Nomor yang tidak dikenal.
“Halo..” Chiya memberi salam.
“Chiya, kau sudah sampai rumah?” suara Ivander.
Eh?! Sejak kapan Ivander punya nomornya?!
“Uhm, ah ya. Begitulah.”
“Baiklah, istirahatlah. Jangan lupa besok kita kerja. Aku akan menjemputmu jam 7. Daah.”
Pip. Chiya mengulang lagi kalimat Ivander sebelum mereka berdua berpisah diperpustakaan.
“Pokoknya mulai hari ini kita pacaran yah!”
Chiya menyembunyikan wajahnya dibantal. Ia merasa wajahnya memerah bak kepiting rebus.
KEMANA PERGINYA KAPTEN PEREMPUAN YANG PALING GANAS SEMILITER SADRACH?!
***
“Ada yang bilang, move on itu tidak sulit.”
“Kau cukup terima dan buka hati mu untuk cinta yang baru.”
Chiya ingin memaki-maki acara radio yang Ivander putar dimobilnya pagi ini. Sialan sekali dia mengomentari sesuatu yang sedang cocok dengan suasana hatinya begini. Ivander dibangku supir tertawa kecil memahami perubahan raut wajah Chiya.
“Misalnya, kalau kau punya pasangan baru tapi belum mampu melupakan yang lama itu tidak apa. Cobalah terima segala kasih sayang yang diberikan pasanga barumu. Tak usah menolak. Tak usah membandingkan. Cukup nikmati saja dan terima dia sebagai dirinya. Yang penting itu, kau harus berusaha du—“
Akhirnya Chiya muak dan mengganti channelnya.
Ivander tidak bisa menahan suaranya lagi. Ia tertawa keras karena kegelian.
“Diam Ivander‼”
“Maaf, maaf.. haduh.. habisnya kau lucu sekali. Itu hanya acara radio, Chiya.. jangan dianggap serius.”
Chiya mendecih dan memalingkan wajah ke jendela. Mobil Ivander memasuki kawasan kantor. Mereka menuju ke basement parkiran dan mencari tempat kososng sesuai arahan petugas parkir.
Pagi ini seperti yang Ivander katakan di telepon semalam, pria itu menjemputnya tepat jam 7 pagi. Tak ayal membuat ribut keluarganya.
“ITU SIAPA CHIYA?!” Hana heboh kala Chiya dengan sepatu boot tinggi memakainya dengan tergesa di teras. Pemandangan yang tidak umum seorang Chiya dalam sibuk di rutinitas kerja pagi hari.
“Supir baru.”
“Astaga.”
Hana tidak percaya tentu saja. Tapi ia lihat bagaimana adiknya yang tidak ada lembut-lembutnya ini lebih cerah wajahnya. Apalagi sejak hubungannya dengan Adian bubaran..
Hana lantas tertawa kecil dan mengusak surai keperakan Chiya dengan gemas.
“Syukurlah supir yang ini lebih tepat waktu ya?!”
Chiya merasa dadanya menclos.
Benar. Tidak seperti Adian yang suka terlambat menjemputnya. Ivander lebih tepat waktu. Bahkan tidak membiarkan Chiya menunggu.
Untuk satu poin. Ivander lebih baik dari Adian.
“Kau benar.” Chiya tersenyum.
“Nah, sudah sampai.”
Suara Ivander memecah lamunan Chiya.
Ivander melepas sabuk pengamannya. “Kau selesai jam berapa?”
“Entahlah, aku tidak janji bisa pulang cepat kalau meeting para kapten jadi dimulai hari ini.”
Sebelum menarik kenop pintu, tangannya ditahan membuat Chiya terkejut.
“Hei, kau langsung pergi begitu saja?”
Tanya Ivander.
Tiba-tiba udara memberat. Sejenak Chiya menemukan dirinya dan Ivander dalam suasana yang lebih intim.
Chiya sekali lihat saja paham apa yang diminta mata cokelat itu. Ia tak pernah melakukan ini dengan Adian mengingat pemuda itu sering telat saat menjemputnya mengharuskan Chiya terburu-buru meninggalkan mobil tatkala mereka sudah sampai di area kantornya.
Chiya menelan ludah. Meski Ivander sudah mengecupnya sekali, ia belum terbiasa menerima afeksi orang lain selain Adian.
“Maaf aku belum bisa.” Akunya menunduk.
Ivander melepas pegangan dan mengangguk maklum.
Chiya menatap Ivander. Eh?
Apakah orang ini tidak marah?
Kelihatannya tidak. Karena Ivander saat ini dengan cekatan melepas sabuk pengamannya sendiri dan sabuk pengaman Chiya dengan penuh perhatian.
Tiba-tiba rasa bersalah membuncah. Lantas kedengaran ocehan penyiar radio yang barusan ia matikan dengan kesal di dalam kepala.
Bahwa move on tidak akan terjadi jika tidak ada usaha yang kau lakukan..
Chiya menghela napas. Menenangkan debaran jantung yang entah kenapa malah menjadi menyebalkan. Ayolah, Chiya ini perempuan terkuat di seluruh Sadrach. Ia seorang kapten divisi 10 kemiliteran yang diakui ketangkasan dan kejeniusannya. Masa kalah oleh lompatan jantung seperti anak SMA?!
“Ivander.”
Ivander yang sudah membuka kunci mobil dan mematikan mesin berhenti dan menoleh. Kembali duduk tenang di kursi pengemudi sambil memperhatikan lamat-lamat penyihir cantik di sampingnya.
“Iya, Chiya?”
“Kalau kau mau memulai..” dengan rona merah dipipi yang tak bisa ia tahan, Chiya melirik malu-malu pada Ivander yang sudah membolakan matanya. “Aku takkan menolak.”
Katakanlah ia diracuni talkshow pagi acara radio barusan. Ya, siapapun itu tak masalah. Chiya sedang butuh objek disalahkan atas perilaku absrudnya barusan.
Ivander melepas tawa. Memajukan tubuh dan meraih dagu Chiya dengan lembut. “Astaga kau manis sekali Chiya..”
Lantas Ivander maju. Tidak menahan diri dari kesempatan yang ditawarkan pujaan hati pagi ini.
Memulai sesuatu yang baru tidak ada salahnya. Kau harus bahagia di masa mendatang. Chiya samar-samar merasakan batu diantara dadanya. Tapi kemudian matanya terpejam. Mengabaikan kerikil yang menusuk pelan membawa perih dari ingatan akan wajah seseorang.