Pengumuman itu ditempel di papan asrama dengan kertas resmi berkop Astra: "Sehubungan dengan situasi yang berkembang, operasional asrama Astra dibekukan sementara per tanggal ini. Seluruh penghuni diminta meninggalkan asrama dalam tujuh hari."
Dibekukan. Diusir. Setelah para model berani bersaksi, Astra membalas dengan cara yang paling sederhana dan kejam: mencabut atap di atas kepala mereka. Tanpa asrama, tanpa pelatih, tanpa jadwal, mereka akan tercerai-berai, kembali ke kota-kota asal, dan kasus itu akan layu karena saksi-saksinya berserakan dan kelaparan.
Tapi yang paling membuat Nadine marah bukan pengumuman pengusiran. Di sampingnya, ditempel pengumuman lain — yang dijadwalkan rutin, seolah dunia tidak runtuh: "Penimbangan terjadwal: Kamis, pukul 06.00. Kehadiran wajib. Denda berlaku bagi yang absen atau tidak memenuhi target berat."
"Mereka masih mau menimbang kita," kata Vania tak percaya, "di tengah semua ini? Mau mengusir kita tapi tetap mau mendenda kita kalau berat kita naik dua ons?"
Nadine menatap dua pengumuman itu berdampingan. Dan di situ, dalam absurditas dua kertas itu, ia melihat seluruh sistem Astra terkuak telanjang: mereka tidak melihat model sebagai manusia yang sedang dalam krisis. Mereka melihat aset yang harus terus diukur, ditimbang, dinilai, sampai detik terakhir sebelum dibuang. Bahkan ketika membuang pun, mereka masih mau memungut denda.
Pagi Kamis, pukul enam, Madame Sylvia berdiri di ruang penimbangan dengan timbangan digital dan buku catatan, sebagaimana ratusan Kamis sebelumnya. Tapi para model tidak datang berbaris satu per satu dengan wajah ketakutan seperti biasa.
Mereka datang bersama-sama. Semuanya. Dipimpin Nadine.
"Kami tidak akan ditimbang," kata Nadine, berdiri di depan timbangan. "Hari ini, atau hari mana pun lagi."
Sylvia menatapnya, ekspresinya tak terbaca. "Aturan asrama—"
"Asrama dibekukan," potong Nadine tenang. "Kalau Astra membekukan kewajibannya menyediakan tempat tinggal buat kami, maka kami juga membekukan kewajiban kami pada aturannya. Termasuk timbangan ini."
Seorang model muda melangkah maju dan, dengan tangan gemetar tapi tekad jelas, mengangkat timbangan digital itu dari lantai. Lalu meletakkannya di sudut ruangan, menghadap dinding. Tindakan kecil, tapi di ruangan yang selama bertahun-tahun menyaksikan air mata, mual, dan rasa lapar yang disengaja, gerakan itu terasa seperti merobohkan tembok.
"Kami tidak akan pergi dari asrama ini dalam tujuh hari," lanjut Nadine, suaranya menggema. "Kami juga tidak akan menjalankan jadwal mereka. Tapi kami akan tetap bangun pukul empat tiga puluh. Kami akan tetap latihan pukul lima. Bukan karena disuruh Astra. Karena kami model, dan inilah keahlian kami, dan tidak ada yang bisa mengambilnya — bukan Renata, bukan Hendra, bukan timbangan ini." Ia menatap berkeliling, ke wajah-wajah yang dulu tunduk dan kini menengadah. "Mulai hari ini, kita atur jadwal kita sendiri. Kita latih diri kita sendiri. Asrama ini milik kita selama kita masih di dalamnya."
Hening sejenak. Lalu Maya melangkah maju, berdiri di samping Nadine. Lalu Vania. Lalu Kirana — yang sepanjang cerita ini hampir tak pernah bicara — melangkah maju juga, diam, tapi berdiri tegak. Lalu satu per satu, sampai seluruh ruangan berdiri di belakang Nadine, menghadap timbangan yang kini membelakangi mereka di sudut.
Sylvia menatap pemandangan itu lama. Sangat lama. Tangannya yang memegang buku catatan penimbangan turun perlahan. Dan kemudian — perlahan, hati-hati, dengan gerakan seseorang yang sudah lama menunggu izin dari dalam dirinya sendiri — ia menutup buku itu.
"Pukul lima," kata Sylvia akhirnya, suaranya berbeda dari biasa. Lebih lembut. Lebih tua. "Aku akan tetap melatih kalian. Catwalk. Postur. Tapi bukan untuk Astra." Ia menatap Nadine, dan untuk pertama kalinya pelatih yang dingin itu tampak rentan. "Untuk kalian sendiri."
Para model bertepuk. Bukan tepuk meriah peragaan busana — tepuk yang lebih dalam, lebih serak, tepuk orang-orang yang baru saja merebut kembali tubuh mereka dari tangan yang selama ini memilikinya.
Tapi Nadine menangkap sesuatu di wajah Sylvia ketika tepuk tangan mereda. Mata pelatih itu menerawang, jauh, ke suatu tempat yang bukan ruangan ini. Seolah keputusannya berdiri di pihak para model bukan keputusan yang baru lahir hari ini — melainkan keputusan yang sudah ia simpan, tertahan, selama berpuluh tahun, menunggu seseorang yang cukup berani membuatnya akhirnya berani juga.
"Madame Sylvia," kata Nadine pelan ketika ruangan mulai bubar. "Kenapa Ibu memihak kami? Ibu pelatih Astra paling lama. Ibu bisa kehilangan segalanya."
Sylvia menatapnya. Lama. "Karena," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik, "aku pernah jadi salah satu nama di dinding itu, Nadine. Bertahun-tahun lalu. Di kota lain. Di bawah orang lain. Dan tidak ada yang berdiri untukku." Ia berbalik, kembali ke postur tegaknya yang biasa, dagu terangkat. "Besok, pukul lima. Jangan terlambat."
Dan ia pergi, meninggalkan Nadine dengan satu petunjuk baru, satu pintu yang baru terkuak sedikit — tentang masa lalu pelatih mereka, dan tentang seseorang, di suatu tempat, yang dulu menghancurkannya.