Sylvia memintanya datang ke ruang latihan malam itu, ketika yang lain sudah tidur. Ia duduk di lantai kayu — hal yang tak pernah Nadine lihat sebelumnya; Sylvia selalu berdiri, selalu tegak, seolah lantai adalah tempat orang kalah. Malam itu ia duduk, dan di tangannya ada sebuah amplop tua yang sudah menguning di sudut-sudutnya.
"Duduk," kata Sylvia. Nadine duduk berhadapan dengannya.
"Aku mau menceritakan sesuatu yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun selama dua puluh tahun," kata Sylvia. Cahaya lampu satu-satunya membuat garis-garis di wajahnya tampak lebih dalam. "Supaya kau mengerti apa yang sedang kalian lawan. Karena yang kalian lawan lebih besar dari Renata. Lebih besar dari Astra."
Ia membuka amplop dan mengeluarkan sebuah foto. Foto lama, agak buram, seorang perempuan muda berdiri di runway — tinggi, anggun, berkulit gelap eksotis, dagu terangkat dengan kepercayaan diri yang menyilaukan. Latar belakangnya bertuliskan nama kota dalam huruf yang tak Nadine kenali.
"Itu aku," kata Sylvia. "Milan. Tiga puluh tahun lalu. Aku perempuan Indonesia pertama yang berjalan di pekan mode di sana. Anak desa, sama sepertimu — dari pesisir Sulawesi. Mereka bilang aku punya sesuatu yang tidak bisa diajarkan." Ia tersenyum getir. "Kalimat itu, kau pernah dengar, bukan?"
Nadine mengangguk pelan. Pak Bram pernah mengatakannya tentangnya. Renata pernah memuji tulang pipinya dengan kata yang sama.
"Aku punya agensi yang membawaku ke Eropa," lanjut Sylvia. "Sama seperti Astra. Kontrak yang tidak kubaca. Potongan yang tidak kumengerti. Aku pikir karena aku berjalan di Milan, di Paris, aku pasti kaya, pasti aman. Ternyata di atas kertas aku selalu berutang. Setiap show, setiap sampul, hanya menambah angka utangku, bukan menguranginya." Suaranya merendah. "Pemiliknya bukan direktur agensi yang kulihat sehari-hari. Ada orang di atasnya. Orang yang tidak pernah kutemui, yang memiliki banyak agensi, banyak model, di banyak negara. Aku cuma tahu inisialnya dari dokumen yang sekali kucuri lihat."
Nadine merasakan dingin menjalar di tengkuknya. "Apa yang terjadi?"
"Aku melawan," kata Sylvia. "Seperti kau sekarang. Aku mengumpulkan bukti, aku bicara pada wartawan, aku berani." Matanya menerawang. "Dan mereka menghancurkanku. Bukan dengan pengadilan — mereka terlalu pintar untuk itu. Mereka menyebarkan rumor bahwa aku sulit diatur, tidak profesional, berbahaya. Dalam enam bulan tidak ada satu pun rumah mode yang mau memakaiku. Karierku, yang kubangun dari nol, dari desa nelayan ke runway dunia, lenyap. Aku pulang ke Indonesia tanpa apa-apa. Tanpa uang, tanpa nama, tanpa cara membuktikan bahwa akulah yang benar."
Ia menatap Nadine. "Kau tahu kenapa aku jadi pelatih di Astra? Tempat yang menjalankan sistem yang sama persis yang menghancurkanku?"
Nadine menggeleng.
"Karena itu satu-satunya pekerjaan yang masih mau menerima nama yang sudah dicap berbahaya," kata Sylvia pahit. "Dan karena... aku menyerah, Nadine. Selama dua puluh tahun aku berdiri di ruangan ini, mengajari gadis-gadis muda berjalan, sambil tahu bahwa banyak dari mereka sedang berjalan masuk ke jebakan yang sama yang menghancurkanku. Aku diam. Aku ikut menjaga timbangan. Aku jadi bagian dari mesin yang dulu menggilasku — karena itu satu-satunya cara aku bertahan hidup." Suaranya pecah. "Aku pengecut, Nadine. Selama dua puluh tahun."
Nadine menggenggam tangan tua itu. "Ibu bukan pengecut. Ibu sendirian. Tidak ada yang berdiri untuk Ibu."
Air mata mengalir di pipi Sylvia, pertama kali Nadine — mungkin siapa pun di Astra — melihatnya menangis. "Tapi sekarang ada yang berdiri," katanya. "Kau berdiri. Kau, dan gadis-gadis itu. Dan aku terlalu tua untuk diam lagi." Ia mengeluarkan satu lembar lagi dari amplop — fotokopi dokumen lama, pudar, sebagian tulisannya hampir hilang. "Ini yang kucuri tiga puluh tahun lalu. Struktur kepemilikan agensiku dulu. Aku menyimpannya bertahun-tahun, tidak tahu kenapa. Mungkin aku menunggu hari ini."
Nadine menatap dokumen itu. Sebagian besar tak terbaca. Tapi di pojok bawah, ada inisial yang sama — inisial pemilik tertinggi, sosok di atas semua direktur. Inisial yang, ia akan segera tahu, juga muncul dalam dokumen kepemilikan Astra.
"Renata bukan puncaknya," kata Sylvia pelan. "Renata cuma alat, sama sepertiku dulu. Ada seseorang di atasnya. Seseorang yang sama, mungkin, dengan yang menghancurkanku. Dan kalau kalian benar-benar ingin menang — bukan cuma melawan Renata, tapi memenangkan perang ini — kalian harus menemukan siapa dia."
Sylvia meletakkan kedua lembar itu — foto dirinya yang muda dan dokumen tua — ke tangan Nadine. "Bawa ini ke pengadilan. Ke Bu Laras. Aku akan bersaksi. Dengan namaku. Sylvia, dari pesisir Sulawesi, yang dulu berjalan di Milan dan dihancurkan." Ia menegakkan dagunya, postur catwalk yang ia ajarkan, postur seseorang yang menolak menunduk. "Menunduk berarti kalah, Nadine. Aku mengajarimu itu di hari pertama. Sudah waktunya aku mengamalkannya sendiri."