Ruang sidang pengadilan negeri itu lebih kecil dari yang Nadine bayangkan. Tidak megah seperti di televisi — cat dindingnya kusam, kipas angin berputar lelah di langit-langit, kursi-kursi kayu berderit. Tapi pagi itu ruangan penuh sesak. Wartawan memenuhi barisan belakang. Model-model Astra — yang berani — duduk berbaris di bangku penggugat, mengenakan pakaian sederhana, wajah tegang tapi tegak. Vania di antara mereka, dan di sampingnya, datang jauh-jauh dari Surabaya, ayahnya, Pak Hartono, duduk diam dengan tangan terlipat, hadir seperti janjinya.
Di meja seberang, kubu Astra. Pak Hendra memimpin tiga pengacara berjas mahal, map-map tebal tersusun rapi. Dan di belakang mereka, Renata. Mengenakan jas hitam termahalnya, rambut sempurna, wajah tanpa cela. Ia tidak tampak terguncang sedikit pun. Ia tampak, seperti biasa, tak terkalahkan.
Bu Laras berdiri sendirian di meja penggugat. Tas kanvas pudar, kemeja katun, pensil di sanggul. Di antara para pengacara berjas Italia di seberang, ia tampak seperti guru sekolah negeri yang tersesat. Tapi ketika ia berdiri dan membuka berkasnya, suaranya mengisi ruangan dengan ketenangan yang membuat semua orang diam.
"Yang Mulia," kata Bu Laras. "Perkara ini sederhana. Para penggugat adalah pekerja — model, talenta — yang terikat kontrak dengan tergugat, Astra Talent Agency. Kami akan membuktikan bahwa kontrak itu memuat klausa-klausa yang batal demi hukum: penalti yang membelenggu kebebasan bekerja, utang fiktif berbunga yang ditagihkan termasuk kepada anak di bawah umur, dan potongan upah yang melanggar ketentuan ketenagakerjaan."
Ia mengangkat setumpuk dokumen — dokumen yang sama yang dikumpulkan Nadine dan Maya berbulan-bulan, kini disusun rapi sebagai alat bukti bernomor. "Bukti pertama. Kontrak baku Astra. Pasal penalti pindah agensi sebesar lima ratus juta rupiah."
Hendra berdiri. "Yang Mulia, klausa itu adalah perlindungan investasi yang sah—"
"Bukti kedua," lanjut Bu Laras tanpa goyah. "Buku besar potongan upah. Komisi empat puluh persen, pelatihan tiga puluh persen, akomodasi dua puluh persen — total sembilan puluh persen sebelum utang investasi ditambahkan. Yang Mulia, jika seorang pekerja menyerahkan sembilan puluh persen upahnya kepada pemberi kerja, dan sisanya habis oleh utang yang dikarang pemberi kerja, maka secara matematis pekerja itu bekerja tanpa upah. Itu bukan kontrak. Itu kerja paksa yang dibungkus kertas."
Bisik-bisik menjalar di ruangan. Wartawan mencatat cepat. Hakim, seorang perempuan paruh baya berkacamata, mengangkat alis dan menulis sesuatu.
Lalu Bu Laras memanggil saksi pertama: Nadine.
Nadine berjalan ke kursi saksi. Seratus tujuh puluh delapan sentimeter, kulit sawo matang, tulang pipi tegas warisan ibunya — tidak diputihkan, tidak diubah, persis seperti yang ia pertahankan. Ia bersumpah, lalu duduk, dan menceritakan semuanya. Bus oranye empat belas jam. Uang lima ratus ribu. Dua menit untuk membaca kontrak tiga tahun. Penimbangan dua kali seminggu. Sepatu yang hilang lalu didenda. Dan utang yang, setelah ia tampil di sampul Majalah Elegan, justru bertambah, bukan lunas.
"Saudari Nadine," tanya Hendra ketika gilirannya, suaranya halus dan tajam, "bukankah Anda menandatangani kontrak itu secara sukarela? Tidak ada yang memaksa tangan Anda memegang pena, benar?"
"Benar," jawab Nadine tenang. "Tidak ada yang memaksa tangan saya. Yang memaksa adalah keadaan. Saya tujuh belas tahun, dari keluarga miskin, baru tiba di kota asing tanpa kenalan, tanpa uang untuk pulang. Anda menyebut itu sukarela. Saya menyebut itu tidak punya pilihan. Di antara keduanya, Yang Mulia yang akan menilai bedanya."
Hakim menulis lagi.
Hendra tersenyum tipis dan kembali ke meja. Renata, di belakangnya, menatap Nadine dengan ekspresi yang tak berubah. Tenang. Yakin. Dan di situlah Nadine merasakan firasat dingin — Renata tahu sesuatu yang mereka tidak tahu. Astra punya pengacara terbaik, uang tak terbatas, dan koneksi yang menjangkau jauh ke atas. Bukti mereka kuat, tapi kekuasaan di seberang itu jauh lebih dalam dari satu ruang sidang.
Sidang ditunda untuk hari berikutnya. Ketika palu hakim mengetuk dan orang-orang mulai berdiri, Bu Laras mendekati Nadine. "Hari pertama yang baik," katanya pelan. "Bukti kita kuat."
"Tapi?" Nadine menangkap nada di suaranya.
Bu Laras menatap ke seberang ruangan, ke arah Renata yang sedang berbisik pada Hendra, sama sekali tidak gentar. "Tapi orang yang sudah kalah biasanya terlihat takut," gumamnya. "Renata tidak terlihat takut sama sekali. Itu yang membuatku khawatir." Ia mengetatkan tas kanvasnya. "Entah dia sangat berani — atau dia tahu ada kartu yang belum dimainkan. Kartu yang lebih besar dari kita semua."
Di luar gedung pengadilan, di tengah blitz kamera dan teriakan wartawan, Nadine menengadah ke langit Jakarta yang kelabu. Mereka memenangkan hari pertama. Tapi Sylvia benar — di atas Renata ada seseorang. Dan seseorang itu, Nadine mulai mengerti, belum menunjukkan wajahnya. Belum bergerak. Hanya menunggu, di suatu tempat tinggi yang tak terlihat dari kursi saksi, sampai saatnya tiba untuk menjatuhkan kartu yang akan mengubah segalanya.