Gedung Astra Talent Agency menjulang dua belas lantai dengan dinding kaca yang memantulkan langit pagi Jakarta. Nadine berdiri di trotoar di seberangnya, merasa seperti semut di kaki raksasa. Ia mengenakan satu-satunya pakaian terbaiknya, blus putih dan rok hitam yang dijahit ibunya dulu, dan ia merasa sangat tidak pantas.
Lobi gedung itu dingin oleh pendingin udara dan penuh dengan orang-orang cantik. Gadis-gadis jangkung berlalu-lalang dengan gaya yang seakan mereka dilahirkan di atas catwalk, mata mereka menyapu Nadine sekilas lalu mengabaikannya seperti perabot. Nadine merapikan kerah blusnya yang basah oleh keringat dan menghampiri resepsionis.
"Permisi, saya Nadine. Ada wawancara pukul sembilan."
Resepsionis itu mengetik sesuatu tanpa menatapnya. "Lantai delapan. Ruang Casting B. Tunggu dipanggil."
Lift membawanya naik dengan mulus tanpa suara. Di lantai delapan, Nadine duduk di antara belasan gadis lain di ruang tunggu. Mereka semua memandanginya dengan tatapan menilai, dari sepatu kanvas kuningnya sampai koper rafia yang masih ia bawa karena tidak tahu harus ditaruh di mana. Seorang gadis berambut pirang berbisik pada temannya, lalu keduanya tertawa kecil.
Nadine menundukkan kepala. Wajahnya panas.
"Jangan dipikirkan." Suara halus terdengar di sampingnya. Nadine menoleh dan melihat seorang gadis seusianya, dengan rambut hitam dipotong pendek dan senyum hangat yang tulus. "Mereka selalu begitu. Aku Maya."
"Nadine."
"Pertama kali?"
Nadine mengangguk. "Sangat kelihatan, ya?"
Maya tertawa pelan. "Kopernya sedikit membongkar rahasiamu. Tapi tenang, dulu aku juga datang ke sini dengan tas plastik. Astra suka anak baru yang... mentah. Lebih mudah dibentuk."
Ada sesuatu dalam cara Maya mengucapkan kata "dibentuk" yang membuat Nadine sedikit merinding, tetapi sebelum ia sempat bertanya, pintu Ruang Casting B terbuka.
"Nadine Pratiwi," panggil seorang asisten.
Di dalam ruangan luas dengan latar putih, tiga orang duduk di balik meja panjang. Di tengah, seorang wanita berusia sekitar empat puluhan dengan rambut disanggul rapi dan setelan jas hitam yang tampak mahal. Wajahnya cantik tetapi dingin, seperti patung marmer. Plang nama di mejanya bertuliskan: Bu Renata Wijaya, Direktur Talent.
"Berdiri di garis itu," kata Renata tanpa basa-basi. "Putar perlahan."
Nadine menurut, jantungnya berdegup. Ia berputar canggung, merasa seperti hewan ternak yang sedang diperiksa.
"Jalan ke sini. Lalu balik."
Nadine berjalan. Ia tahu langkahnya tidak seanggun gadis-gadis di luar tadi. Lututnya kaku. Tetapi ketika ia mencapai ujung dan berbalik, sesuatu terjadi. Ia teringat ayahnya, teringat laut, teringat kata-kata, jangan pernah lupa siapa dirimu. Punggungnya menegak. Dagunya terangkat. Dan untuk sesaat, ia berjalan bukan seperti gadis ketakutan, tetapi seperti seseorang yang punya alasan untuk ada di sana.
Renata mengangkat alisnya sedikit. Hanya sedikit. Tetapi cukup.
"Tinggi?"
"Seratus tujuh puluh delapan, Bu."
"Berat?"
"Lima puluh delapan."
Renata mengetuk pena ke meja. "Kurang. Untuk runway kami butuh angka di bawah lima puluh tiga di tinggi itu. Tapi tulangmu bagus. Tulang pipi itu," ia menunjuk dengan pena, "itu yang tidak bisa diajarkan. Sisanya bisa kami perbaiki."
Diperbaiki. Lagi-lagi kata itu.
"Kamu dari mana?"
"Pasir Putih, Bu. Desa nelayan di—"
"Tidak perlu cerita kampungmu." Renata memotong, lalu menulis sesuatu. "Mulai sekarang, kalau ada yang tanya, kamu dari Bandung. Lebih menjual. Nadine saja, tanpa Pratiwi. Pratiwi terlalu... biasa."
Nadine mengepalkan tangan di balik punggungnya. Nama itu pemberian ibunya. Tetapi ia diam.
"Kontrak tiga tahun," lanjut Renata, mendorong setumpuk kertas ke arahnya. "Astra menanggung tempat tinggal, pelatihan, foto portofolio, dan koneksi. Semua biaya itu dipotong dari penghasilanmu nanti. Kamu tinggal di asrama agensi. Latihan mulai besok pukul lima pagi. Tanda tangan di halaman terakhir."
Nadine menatap tumpukan kertas itu. Tulisannya rapat dan penuh istilah yang tidak ia mengerti. Angka-angka. Persentase. Klausa.
"Boleh saya baca dulu, Bu?"
Ruangan menjadi hening. Renata menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, lalu tersenyum tipis. "Tentu. Bacalah. Tapi ingat, ada dua belas gadis lain di luar yang akan menandatanganinya tanpa membaca, hanya untuk kesempatan yang kuberikan padamu."
Tangan Nadine yang memegang pena bergetar. Ia memikirkan ayahnya, uang lima ratus ribu yang dilipat berkali-kali, billboard merah di malam itu. Ia memikirkan bus oranye yang membawanya pergi dan tidak punya tiket untuk kembali.
Lalu ia menandatangani.
Renata menarik kontrak itu, memeriksanya, dan untuk pertama kalinya tersenyum lebar. "Selamat datang di Astra, Nadine. Mulai hari ini, hidupmu bukan lagi milikmu sepenuhnya. Tapi kalau kau menurut, aku akan menjadikanmu bintang."
Nadine tersenyum. Tetapi di dalam dadanya, kata-kata ibu paruh baya di bus malam itu bergema. Manis di depan, pahit di dalam.