Asrama Astra terletak di sebuah rumah bertingkat tiga di kawasan elit Jakarta Selatan. Dari luar tampak mewah, tetapi di dalam, kamar-kamarnya disekat sempit, masing-masing memuat dua ranjang susun. Nadine berbagi kamar dengan tiga gadis lain, termasuk Maya, yang ternyata juga model Astra.
"Selamat datang di kandang," kata Maya sambil membantu Nadine menaruh kopernya. "Ranjang atas yang itu kosong. Penghuni sebelumnya... pergi."
"Pergi ke mana?"
Maya ragu sejenak. "Pulang kampung. Beratnya tidak pernah turun sesuai target. Astra mencoret namanya."
Nadine merasakan dingin merayap di tengkuknya. Ia mulai memahami bahwa di tempat ini, tubuh bukanlah milik sendiri, melainkan aset yang diukur, ditimbang, dan dinilai.
Penghuni kamar lainnya adalah Vania, gadis tinggi semampai dari keluarga berada di Surabaya, dan Kirana, yang pendiam dan jarang bicara. Vania menatap Nadine dari atas ke bawah dengan ekspresi yang sudah Nadine kenali sejak di lobi.
"Jadi ini anak baru dari desa itu," kata Vania, menggigit apel. "Renata pasti sedang putus asa kalau merekrut yang seperti ini."
"Vania," tegur Maya pelan.
"Apa? Aku cuma jujur." Vania mengedikkan bahu. "Industri ini tidak ramah, Nona Desa. Lebih baik kau tahu dari sekarang. Wajah manis saja tidak cukup. Kau harus punya nyali untuk menginjak orang lain sebelum mereka menginjakmu."
Nadine tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan membongkar kopernya, mengeluarkan satu-satunya foto yang ia bawa, foto keluarganya di depan rumah panggung kayu di tepi pantai. Ia meletakkannya di samping ranjang.
Vania melirik foto itu dan mendengus. "Kampung sekali."
Malam itu, sebuah amplop diselipkan ke bawah pintu kamar. Di dalamnya ada selembar kertas berjudul "ATURAN ASRAMA ASTRA". Nadine membacanya dengan jantung yang semakin berat.
Bangun pukul empat tiga puluh. Latihan catwalk dan pose pukul lima sampai delapan. Sarapan diatur ahli gizi, tidak boleh menambah porsi. Penimbangan badan setiap Senin dan Kamis. Tidak boleh keluar asrama tanpa izin. Tidak boleh memiliki media sosial pribadi tanpa persetujuan. Tidak boleh berpacaran. Semua tawaran kerja harus melalui agensi. Pelanggaran akan dikenai denda yang dipotong dari penghasilan.
"Denda?" Nadine mengangkat kepala. "Kita digaji, kan? Kenapa ada denda?"
Maya tersenyum getir dari ranjang seberang. "Gaji, ya. Setelah dipotong biaya asrama, makan, pakaian latihan, perawatan kulit, foto, dan macam-macam. Sebagian besar dari kami malah berutang pada agensi di tahun pertama."
"Berutang?"
"Mereka menyebutnya investasi. Astra berinvestasi pada kita, jadi kita harus membayar balik. Dengan bunga, tentu saja." Maya berbaring, menatap langit-langit. "Aku sudah dua tahun di sini, Nadine. Aku baru saja mulai impas bulan lalu."
Nadine duduk diam di tepi ranjang. Ia membuka kembali salinan kontraknya, kali ini membaca dengan teliti klausa demi klausa yang tadi pagi ia tandatangani tanpa benar-benar mengerti. Dan semakin ia membaca, semakin perutnya mual.
Potongan biaya pelatihan: tiga puluh persen. Potongan biaya akomodasi: dua puluh persen. Komisi agensi dari setiap pekerjaan: empat puluh persen. Denda keterlambatan, denda berat badan berlebih, denda melanggar citra. Klausa yang menyatakan ia tidak boleh pindah agensi selama tiga tahun, dan jika melanggar, harus membayar penalti sebesar lima ratus juta rupiah.
Lima ratus juta. Angka yang bahkan tidak bisa ia bayangkan. Seumur hidup ayahnya melaut tidak akan menghasilkan angka itu.
"Aku terjebak," bisik Nadine, lebih pada diri sendiri.
"Kita semua terjebak," sahut Maya pelan. "Tapi ada dua jalan keluar. Yang pertama, gagal, dan dicoret seperti gadis sebelum kau. Yang kedua, berhasil. Berhasil sampai kau cukup besar untuk membeli kebebasanmu sendiri."
Nadine menatap foto keluarganya. Wajah ayahnya yang teduh, senyum ibunya yang sudah lama tiada, dirinya yang masih kecil dengan kaki telanjang di pasir. Ia datang ke sini bukan untuk gagal dan pulang membawa luka, seperti kata ibu di bus itu.
"Kalau begitu," kata Nadine, suaranya mengeras, "aku akan berhasil."
Vania, yang pura-pura tidur, membuka mata sedikit dan menyeringai dalam gelap. Ia sudah sering mendengar tekad seperti itu. Dan ia sudah sering melihat tekad seperti itu hancur.
Di luar jendela, lampu-lampu Jakarta tetap menyala, indah dan tak peduli. Nadine menutup matanya dan mencoba tidur. Empat jam lagi, latihan pertamanya dimulai.