Renata Wijaya tidak tidur dua hari ini, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun karier, ia takut.
Nadine melihatnya di koridor pengadilan keesokan paginya. Bukan kemenangan yang ia rasakan — justru sesuatu yang lebih dekat ke kasihan. Renata yang biasa berjalan seperti memiliki seluruh gedung kini melangkah cepat, menempelkan ponsel ke telinga, suaranya tertekan rendah.
Nadine memperlambat langkah di balik pilar.
"...sudah saya urus. Lina tidak akan bicara," bisik Renata. "Tapi dokumen itu sudah viral, Pak. Saya tidak bisa menahan apa yang sudah keluar. Saya butuh— Pak. Pak, dengarkan saya."
Jeda. Renata menutup mata.
"Jangan ancam saya begitu. Saya yang menjalankan semua ini bertahun-tahun. Saya yang menanggung—" Suaranya pecah sebentar, lalu mengeras lagi. "Baik. Baik, saya mengerti. Tidak ada nama yang disebut. Tidak akan pernah."
Telepon ditutup. Renata berdiri sendirian, menatap dinding, dan untuk sekejap bahunya turun seperti perempuan yang jauh lebih tua dan jauh lebih lelah. Lalu ia menarik napas, menegakkan punggung, dan memasang kembali wajah dingin itu seperti orang memakai topeng.
Nadine mundur perlahan sebelum ketahuan.
Ia menemui Bu Laras di kantin pengadilan. Pengacara itu sedang menyeruput teh tawar dari gelas plastik.
"Bu," kata Nadine, "Renata bukan pemilik Astra."
Bu Laras meletakkan gelasnya. "Apa yang membuatmu yakin?"
Nadine menceritakan percakapan yang ia curi dengar. "'Pak.' Dia memanggil seseorang 'Pak'. Dan dia bilang dia 'menanggung' sesuatu. Renata takut, Bu. Bukan takut kalah sidang. Takut pada orang itu."
Bu Laras mengeluarkan map dari tasnya, membuka dokumen pendirian Astra Talent Agency. Ujung jarinya menyusuri baris-baris. "Direktur Talent: Renata Wijaya. Komisaris: Renata Wijaya. Pemilik saham mayoritas..." Ia berhenti. "PT Cakrawala Investama. Perusahaan cangkang. Pemilik saham PT Cakrawala adalah perusahaan lain. Yang itu dimiliki perusahaan lain lagi. Berlapis-lapis."
"Seperti sengaja dibuat susah dilacak," kata Nadine.
"Persis." Bu Laras menutup map. "Renata cuma wajah yang kelihatan. Dia yang menandatangani kontrak, dia yang ditimpa skandal, dia yang akan dijatuhkan kalau perlu. Tapi uangnya — dan kuasanya — mengalir ke atas, ke seseorang yang namanya tidak pernah tercantum di mana pun."
Maya, yang ikut duduk, bergidik. "Jadi kalaupun kita menjatuhkan Renata, kita cuma menjatuhkan boneka."
"Untuk sekarang, kita jatuhkan dulu boneka yang di depan kita," kata Bu Laras tenang. "Tapi Nadine benar. Ada dalang. Dan kalau kita tidak menemukan namanya, Astra akan mati hari ini dan lahir kembali besok dengan papan nama baru, dengan model-model baru, dengan kontrak yang sama busuknya."
Malam itu Nadine tak bisa tidur. Ia teringat billboard merah Lúmin di hari pertama ke Jakarta, bagaimana ia mengira industri ini adalah cahaya. Sekarang ia tahu cahaya itu punya bayangan, dan bayangan itu punya tuan.
Ia mengambil buku catatan, dan di halaman baru, ia menulis satu kata dengan huruf besar:
SIAPA?
Di bawahnya, ia menggambar piramida. Di puncak, ia membiarkan ruang kosong.