Vania tahu cara membaca dunia orang kaya, karena ia tumbuh di dalamnya.
"Ayahku pengusaha," katanya pagi itu, menggelar laptop di meja makan asrama. "Aku besar di rapat-rapat membosankan, dengar orang dewasa bicara soal saham, holding, nominee. Perusahaan cangkang itu mainan favorit mereka. Kamu sembunyikan kepemilikan di balik nama orang lain — sopir, pembantu, kerabat — yang resminya pemilik, tapi sebenarnya cuma pinjam nama."
Nadine, Maya, dan Kirana berkumpul di sekelilingnya. Kirana — yang pendiam, yang jarang bicara — duduk paling dekat, matanya mengikuti layar dengan tajam yang mengejutkan.
Vania melacak PT Cakrawala Investama lewat situs administrasi badan usaha yang ia tahu dari ayahnya. Lapis pertama: tiga nama orang. Lapis kedua: dua perusahaan lain. Lapis ketiga buntu di sebuah perusahaan luar negeri.
"Di sini biasanya orang menyerah," kata Vania. "Tapi lihat ini." Ia menunjuk satu nama yang muncul berulang di tiga perusahaan berbeda sebagai komisaris kecil. "Orang yang sama menandatangani di tiga lapis. Itu bukan kebetulan. Itu pengurus kepercayaan. Orang yang dipercaya sang pemilik untuk mengurus semua perusahaan cangkangnya."
"Siapa namanya?" tanya Nadine.
"Suryanto Halim. Notaris." Vania menyandar. "Kalau kita bisa tahu siapa klien utama Pak Suryanto, kita tahu siapa pemilik Astra."
Kirana, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berkata pelan, "Aku pernah dengar nama itu."
Semua menoleh. Kirana jarang bicara lebih dari satu kalimat.
"Dulu, sebelum aku masuk Astra," lanjut Kirana, suaranya nyaris bisikan, "aku sempat ditawari agensi lain. Namanya beda. Tapi yang menemui orangtuaku, yang bawa kontrak, namanya Pak Suryanto. Notaris. Aku ingat karena ibuku bilang aneh, kenapa notaris yang datang, bukan orang agensi."
Ruangan hening.
"Agensi yang berbeda," kata Nadine perlahan, "tapi notaris yang sama."
"Yang berarti," sambung Maya, "pemilik yang sama. Astra bukan satu-satunya. Ada agensi lain di bawah orang yang sama."
Nadine merasakan sesuatu yang besar dan dingin bergerak di balik tabir yang selama ini ia kira hanya berisi Renata. Bukan satu agensi pemeras. Sebuah jaringan. Banyak Astra, banyak Renata, semua menyuapkan model-model ke dalam mesin yang sama, semua keuntungannya mengalir ke satu kantong yang tak bernama.
"Kita catat ini," kata Bu Laras saat Nadine meneleponnya malam itu, suara pengacara itu berubah serius. "Tapi dengar baik-baik, Nadine. Suryanto Halim itu notaris berpengaruh. Klien-kliennya orang kuat. Kalau kita salah langkah, kita bukan lagi menggugat agensi nakal — kita berhadapan dengan orang yang punya cara membuat saksi menghilang dalam semalam."
"Seperti Lina," bisik Nadine.
"Seperti Lina."
Nadine menatap piramida yang ia gambar semalam, ruang kosong di puncaknya. Ia belum bisa menulis nama di sana. Tapi sekarang ia tahu — ada nama. Nyata. Bersembunyi di balik notaris, di balik perusahaan cangkang, di balik Renata yang ketakutan di telepon.
"Bu Laras," katanya, "untuk sekarang, kita menangkan dulu sidang ini. Tapi setelah Astra jatuh, aku nggak akan berhenti."
"Aku tahu," kata Bu Laras lembut. "Itu yang aku takutkan, Nak. Dan itu juga yang membuatku percaya pada kalian."