Bus oranye itu lebih tua dari yang Nadine ingat, atau mungkin matanya yang sudah berubah. Empat belas jam, jalan yang sama, debu yang sama. Tapi gadis yang duduk di kursi dekat jendela ini bukan lagi Nadine yang dulu — yang menggenggam koper kulit imitasi berikat rafia dan uang lima ratus ribu seperti memegang seluruh hidupnya.
Kali ini ia kembali dengan nama yang dikenal, dengan musuh yang nyata, dengan ketakutan yang berbeda.
Vania memaksa ikut. "Kamu nggak boleh pulang sendiri kalau ada orang yang mengincarmu," katanya, dan tak menerima penolakan. Maya menjaga asrama dan koordinasi dengan Bu Laras.
Saat bus memasuki jalan tanah merah menuju Pasir Putih, Nadine menahan napas. Laut. Bau garam dan ikan. Rumah-rumah panggung kayu di tepi pantai. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki di pasir. Untuk sesaat, semua tekanan Jakarta luruh dari pundaknya.
Ayahnya menunggu di depan rumah, punggung sedikit lebih bungkuk, rambut lebih putih. Saat melihat Nadine turun, wajah tua itu berkerut oleh senyum dan air mata sekaligus. Nadine berlari dan memeluknya, mencium bau matahari dan air laut di kemeja lusuh ayahnya, dan untuk satu menit penuh ia hanya jadi anak nelayan, bukan model, bukan pejuang, bukan apa pun selain anak yang pulang.
"Kamu kurus," kata ayahnya, menatapnya dari kepala ke kaki. "Mereka bikin kamu kurus."
"Aku sehat, Pak."
Vania, yang berdiri canggung di belakang, menunduk hormat. "Selamat sore, Pak. Saya Vania, teman Nadine."
Ayahnya memandang gadis kota berpakaian rapi itu, lalu tersenyum. "Teman Nadine, teman Bapak. Masuk. Ada ikan bakar."
Malam itu, di lantai kayu rumah panggung, di bawah cahaya lampu temaram, mereka makan ikan bakar dengan tangan. Vania — gadis pengusaha kaya Surabaya yang dulu menertawakan Nadine sebagai "petani jadi model" — makan dengan tangan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dan menangis diam-diam karena makanan sesederhana ini terasa lebih hangat dari semua restoran mewah yang pernah ia datangi.
Tapi keesokan paginya, kenyataan kembali.
Mobil hitam itu datang lagi.
Nadine melihatnya dari beranda — sedan mengkilap yang sama sekali tak cocok dengan jalan tanah merah desa. Dua pria turun, berpakaian rapi, kacamata hitam, senyum yang dilatih. Mereka berjalan menuju rumah dengan map di tangan.
"Selamat pagi," kata yang lebih tua, ramah berlebihan. "Kami mencari keluarga Nadine. Ada kabar gembira soal kontrak besar untuk putri Bapak. Kami dari pihak yang ingin membantu menyelesaikan... salah paham antara Nadine dan agensi. Kami bawa tawaran damai. Sangat menguntungkan."
Nadine melangkah keluar, berdiri di samping ayahnya. "Saya Nadine."
Senyum pria itu sedikit goyah. "Ah. Nona Nadine sendiri. Kebetulan sekali." Ia membuka map, mengeluarkan amplop tebal. "Begini. Klien kami menghargai posisi Anda. Mereka tidak ingin masalah ini berlarut. Cukup Anda cabut gugatan, tanda tangan kesepakatan diam, dan semua selesai. Ayah Anda bisa hidup tenang. Desa ini bisa tenang. Dan ada... apresiasi yang sangat layak." Ia menyodorkan amplop.
Nadine tidak menyentuhnya. "Siapa klien kalian?"
"Itu... tidak penting, Nona. Yang penting niat baiknya."
"Niat baik nggak datang dengan mengancam ayah nelayan tua di desa kecil," kata Nadine, suaranya tenang tapi setiap kata menusuk. "Pulang. Katakan pada klien kalian yang namanya nggak berani disebut: kalau mereka berani menyentuh keluargaku, semua yang aku tahu — yang lebih banyak dari yang mereka kira — akan aku bawa ke pengadilan dan ke media. Sekarang pergi dari tanah keluargaku."
Pria itu menutup mapnya pelan-pelan. Senyumnya hilang. "Anda gadis pintar, Nona. Sayang sekali gadis pintar sering lupa bahwa keberanian tidak melindungi orang yang kita cintai."
Ayah Nadine melangkah maju, dan meski ia tua dan bungkuk, ada sesuatu di pundaknya yang membuat kedua pria itu mundur selangkah. "Saya sudah hidup di sini sebelum kalian lahir," katanya pelan. "Saya tidak takut laut. Saya tidak takut kalian. Pergi."
Mobil hitam itu pergi, debu mengepul di belakangnya. Tapi Nadine tahu — ini bukan akhir. Hanya jeda.