Malam terakhir Nadine di Pasir Putih, ayahnya mengajaknya duduk di tepi pantai. Ombak memukul lembut, bulan menggantung rendah di atas laut, dan suara jangkrik berbaur dengan deburan air.
"Bapak punya sesuatu," kata ayahnya. Ia mengeluarkan dari saku kemejanya sebuah benda yang dibungkus sapu tangan, dilipat hati-hati, sudah usang oleh tahun. Ia membukanya perlahan.
Sebuah foto. Hitam putih, pinggirannya menguning, sudutnya melengkung. Seorang perempuan muda berdiri di depan rumah panggung yang sama tempat mereka tinggal, mengenakan kebaya jahitan tangan, tersenyum ke kamera. Tulang pipinya tegas. Matanya cokelat gelap.
Nadine merasakan tenggorokannya tercekat. "Ini... Ibu?"
"Sebelum kamu lahir. Bapak yang foto, pakai kamera pinjaman dari guru sekolah. Cuma ada satu foto ini. Ibumu nggak suka difoto, katanya buang-buang film." Ayahnya tersenyum di tengah kenangan. "Tapi Bapak maksa hari itu. Bapak bilang, suatu hari Bapak mau punya bukti betapa cantiknya istri Bapak."
Nadine menatap wajah ibunya — wajah yang ia warisi, tulang pipi yang dulu dipuji Renata sebagai "tidak bisa diajarkan", yang sama yang ditolak Nadine ubah demi kontrak miliaran Lúmin. Air matanya jatuh ke foto.
"Ibumu penjahit," kata ayahnya. "Tangannya bisa membuat kain mati jadi hidup. Kamu mewarisi itu — tangannya, wajahnya. Tapi yang paling Bapak harap kamu warisi adalah hatinya." Ia menatap laut. "Waktu agensi pertama kali kirim surat, waktu kamu mau berangkat, Bapak ke makam Ibumu. Bapak bilang, 'Anak kita mau ke kota besar. Tolong jaga dia.' Dan Bapak pikir Bapak gagal jaga kamu. Bapak biarkan kamu pergi ke tempat yang menyakiti kamu."
"Pak, jangan—"
"Tapi sekarang Bapak lihat," ayahnya menoleh, matanya berkaca, "kamu nggak hancur. Kamu malah berdiri. Kamu melawan untuk gadis-gadis lain yang nggak punya ayah seperti Bapak, yang nggak punya desa untuk pulang. Itu... itu yang Ibumu akan banggakan. Bukan kamu jadi terkenal. Tapi kamu tetap jadi orang baik di tempat yang bikin orang jahat."
Ia mengulurkan foto itu ke tangan Nadine. "Bawa ini. Dulu kamu bawa koper Ibumu. Sekarang bawa wajahnya. Biar setiap kali kamu takut, kamu lihat dari siapa tulang pipi itu datang, dan kamu ingat — kamu bukan boneka siapa-siapa. Kamu anak perempuan dari perempuan yang membuat keindahan dengan tangannya sendiri."
Nadine memegang foto itu dengan kedua tangan seperti memegang sesuatu yang kudus. Ia memeluk ayahnya, dan untuk waktu yang lama mereka duduk begitu, dua tubuh kecil di tepi laut yang luas, dan untuk sesaat seluruh dunia yang penuh pengacara dan kontrak dan dalang tak bernama terasa sangat jauh dan sangat kecil.
"Pak," bisik Nadine, "aku janji. Aku akan menang. Dan aku akan kembali. Dan suatu hari, aku akan bawa panggung mode itu ke pantai ini, supaya desa kita lihat apa yang anak nelayan bisa lakukan."
Ayahnya tertawa lembut. "Bapak tunggu, Nak. Bapak tunggu."
Saat fajar, bus oranye membawa Nadine kembali ke Jakarta. Tapi kali ini, di saku dekat jantungnya, ada foto seorang perempuan dengan tulang pipi tegas yang tersenyum dari masa lalu — jimat keberanian, restu yang ia bawa pulang ke medan perang.
Vania, di kursi sebelah, memandang Nadine yang menggenggam foto itu. "Kamu beruntung," katanya pelan. "Punya ayah seperti itu."
"Aku tahu," kata Nadine. "Sekarang ayo kita selesaikan ini. Untuk semua yang nggak seberuntung aku."