Ruang sidang penuh sesak hari itu. Wartawan berdiri berdesakan di belakang, kamera siaga. Model-model Astra duduk berbaris, sebagian masih takut, sebagian mengangkat dagu untuk pertama kalinya dalam hidup mereka. Di luar, papan-papan dukungan dibawa orang-orang yang bahkan tak kenal Nadine tapi mengenali ketidakadilan saat mereka melihatnya.
Bu Laras berdiri menyampaikan argumen penutup, suaranya tenang tapi setiap kata terasa berat oleh dua puluh tahun membela orang-orang yang tak punya siapa-siapa.
"Yang Mulia," katanya, "kami tidak meminta belas kasihan. Kami meminta hukum ditegakkan. Kontrak Astra Talent Agency memuat klausa yang melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan: pemotongan upah hingga sembilan puluh persen, utang akumulatif fiktif yang dirancang agar tak pernah lunas, penalti pindah lima ratus juta rupiah yang mengikat manusia layaknya benda. Ini bukan kontrak kerja. Ini perbudakan dengan kop surat."
Dewi, kini bersaksi sepenuhnya di pihak para model, telah menyerahkan bukti internal — komunikasi tentang penyetelan ulang timbangan, denda yang dikarang, instruksi menekan keluarga model. Bersama tumpukan dokumen keuangan yang dikumpulkan Nadine dan Maya selama berbulan-bulan, kasus ini menjadi tak terbantah.
Pak Hendra membela dengan segala keahliannya, tapi untuk pertama kalinya wajahnya tampak lelah. Ia membela kapal yang sudah bocor.
Hakim menyatakan sidang ditunda untuk putusan. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun.
Lalu, hari putusan tiba.
Nadine duduk di antara Maya dan Vania, foto ibunya di saku dekat jantungnya. Ia menggenggamnya saat hakim mulai membaca.
"Menimbang bahwa klausa-klausa dalam kontrak Astra Talent Agency bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan ketenagakerjaan dan asas keadilan..."
Suara hakim seakan datang dari kejauhan. Nadine menahan napas.
"...maka pengadilan memutuskan: klausa pemotongan upah yang melampaui batas wajar, klausa utang akumulatif, dan klausa penalti pindah agensi sebesar lima ratus juta rupiah, dinyatakan BATAL DEMI HUKUM."
Gemuruh menyebar di ruangan.
"Seluruh utang fiktif yang dibebankan kepada para model dinyatakan TIDAK SAH dan DIHAPUSKAN. Para model bebas dari ikatan kontrak eksploitatif ini terhitung sejak putusan dibacakan. Pengadilan juga memerintahkan dilakukannya audit dan penyelidikan lebih lanjut atas struktur keuangan agensi."
Palu hakim mengetuk.
Sesaat, ruangan hening — seakan tak satu pun percaya. Lalu pecah. Para model berpelukan, menangis, beberapa terjatuh ke lantai karena kaki mereka tak kuat menahan beban yang tiba-tiba diangkat dari pundak mereka. Bertahun-tahun mereka percaya utang itu nyata, bahwa mereka memang berutang pada Astra. Sekarang sebuah palu menyatakan: itu semua bohong. Mereka tidak pernah berutang apa pun.
Nadine tidak bisa bergerak. Maya memeluknya, menangis di pundaknya. Vania, gadis kota yang dulu sinis, terisak tanpa malu. Bu Laras menutup mapnya pelan dengan tangan gemetar dan tersenyum — kemenangan yang ia tunggu sepanjang karier.
Wartawan menyerbu. "Nadine! Bagaimana perasaan Anda?"
Nadine berdiri, mengeluarkan foto ibunya dari saku, menggenggamnya, dan menatap kamera dengan mata basah tapi punggung tegak.
"Hari ini," katanya, suaranya gemetar lalu menguat, "belasan perempuan baru saja diberi tahu bahwa mereka bukan utang berjalan. Mereka manusia. Selalu manusia." Ia menarik napas. "Tapi ini baru satu agensi. Dan saya tahu ada orang di balik layar yang berpikir ini hanya kerugian kecil baginya. Kepada orang itu — yang namanya belum berani saya sebut karena saya belum punya buktinya — saya cuma mau bilang: saya tahu kamu ada. Dan saya tidak akan berhenti."
Di belakang kerumunan, tak terlihat siapa pun, Renata Wijaya berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Dan untuk pertama kalinya, ia tampak bukan seperti predator, melainkan seperti orang yang baru saja mendengar lonceng kejatuhannya sendiri.