Malam itu mereka merayakannya — kebebasan.
Di asrama Astra yang kini resmi bukan milik siapa-siapa, belasan model berkumpul. Mereka membakar sate di halaman belakang, menyalakan musik dari ponsel, menari dengan kaki yang dulu hanya boleh melangkah di catwalk dengan disiplin militer. Untuk pertama kalinya tak ada penimbangan besok pagi. Tak ada latihan jam lima. Tak ada utang yang menggantung di leher. Mereka bebas.
Kirana, yang pendiam, tertawa untuk pertama kalinya begitu lepas hingga Maya menatapnya kaget lalu ikut tertawa. Vania menari canggung, gadis kota yang baru belajar bahagia tanpa harga. Dewi datang membawa anak perempuannya yang berusia lima tahun — kini bebas dari ancaman, bebas mencintai anaknya tanpa harus mengkhianati siapa pun. Anak itu berlari di antara para model, dan tawa kecilnya jadi musik paling indah malam itu.
Nadine berdiri di tepi halaman, memandang semua wajah yang bercahaya. Foto ibunya ada di sakunya. Ia tersenyum.
Tapi Maya datang berdiri di sampingnya, dan senyumnya tak sepenuhnya cerah. "Nadine," katanya pelan, agar tak terdengar yang lain. "Kita bebas. Tapi... habis ini gimana?"
Nadine menoleh.
"Kita nggak punya agensi," lanjut Maya. "Nggak ada yang ngatur job. Nggak ada yang nyari klien buat kita. Kontrak kita batal — artinya kita juga nggak punya kerja. Aku cek tadi, dua tawaran yang sempat masuk ke aku, dua-duanya ditarik. Mereka takut, Nadine. Orang takut pakai model yang 'bikin onar'. Mereka takut kena masalah dengan... siapa pun yang ada di atas Astra dulu."
Senyum perlahan memudar dari wajah Nadine. Ia memandang para model yang menari, yang tertawa, yang malam ini begitu bahagia karena mengira pertarungan sudah usai. Mereka bebas dari penjara. Tapi di luar penjara, mereka berdiri di tanah kosong — tanpa naungan, tanpa pekerjaan, tanpa uang. Beberapa dari mereka tak punya rumah untuk pulang seperti Nadine punya Pasir Putih. Asrama ini akan disita audit dalam beberapa minggu. Lalu ke mana?
"Bebas itu mahal," gumam Nadine, mengulang sesuatu yang pernah dikatakan ibu paruh baya di bus, bertahun-tahun lalu, tentang Jakarta yang manis di depan, pahit di dalam.
Vania menghampiri, ikut mendengar. Wajahnya serius. "Aku punya tabungan. Ayahku kaya. Aku bisa bantu beberapa bulan. Tapi belasan orang? Bertahun-tahun? Itu nggak akan cukup. Dan lagi—" ia menurunkan suaranya, "—Renata bilang dia bakal bangun agensi baru. 'Etis', 'adil'. Kalau itu benar, gadis-gadis yang lagi nari ini, yang lagi kelaparan kerja ini, mereka bakal jadi sasaran empuk. Tinggal datang seseorang dengan janji manis dan uang di tangan, dan mereka akan tanda tangan apa pun. Kita baru aja membebaskan mereka dari satu jebakan, langsung ke mulut jebakan berikutnya."
Nadine terdiam lama. Musik terus berputar. Tawa terus mengalun. Anak kecil Dewi tertawa di kejauhan.
Lalu Nadine berkata, perlahan, seakan menemukan sesuatu yang sudah lama ia cari:
"Kalau begitu kita nggak boleh cuma membebaskan mereka, Maya. Membebaskan itu cuma setengah. Kita harus kasih mereka tempat berdiri."
Maya menoleh. "Maksudmu?"
Nadine menatap belasan perempuan yang menari di bawah lampu temaram halaman, perempuan-perempuan yang baru saja keluar dari perbudakan dan tak tahu bahwa esok pagi adalah jurang. Sesuatu mulai terbentuk di benaknya — masih kabur, masih tak bernama, tapi nyata.
"Selama ini kita melawan untuk lepas dari Astra," kata Nadine. "Sekarang kita harus bangun sesuatu sendiri. Sesuatu yang bukan milik dalang mana pun. Sesuatu yang kita atur sendiri, kita bagi adil, kita jaga sendiri." Ia menggenggam foto ibunya di saku — perempuan yang membuat keindahan dengan tangannya sendiri, tanpa tuan, tanpa agensi, tanpa siapa-siapa di atasnya.
"Aku belum tahu bentuknya," lanjut Nadine pelan, matanya berkilau memantulkan cahaya. "Tapi aku tahu satu hal. Kebebasan tanpa tempat untuk berdiri cuma jalan lain menuju kelaparan. Dan aku nggak membawa belasan perempuan keluar dari penjara cuma untuk membiarkan mereka tersesat di jalanan."
Di kejauhan, musik bergeser ke lagu yang lebih lambat. Para model mulai duduk melingkar, lelah dan bahagia. Salah satu mulai bertanya pada yang lain, "Eh, besok kita ngapain?" — dan tak ada yang punya jawaban.
Nadine memandang lingkaran itu. Pertanyaan yang sama menggantung di udara: besok kita ngapain?
Untuk pertama kalinya sejak putusan, ia menyadari bahwa kemenangan kemarin bukanlah akhir cerita. Itu hanya akhir dari babak pertama. Pintu penjara sudah terbuka. Tapi di luar pintu, tak ada jalan — belum.
Mereka harus membangunnya sendiri. Dari nol. Dari akar.