Pagi-pagi sekali, sebelum lampu jalan padam, Nadine sudah duduk di lantai kamar kontrakan baru mereka di gang sempit Jakarta Selatan. Bukan asrama Astra lagi. Tempat ini lebih kecil, dindingnya berjamur di sudut, tapi tak ada timbangan, tak ada Madame Sylvia yang menyalak jam lima pagi, tak ada potongan empat puluh persen yang menggerogoti setiap rupiah. Bebas. Kata itu terdengar manis dua minggu lalu, ketika putusan belum keluar, ketika kemenangan masih segar. Sekarang kata itu terasa seperti perut yang kosong.
"Sudah lima," kata Maya, menutup ponselnya dan melemparkannya ke kasur tipis. "Lima agensi menolak. Yang ini bahkan tidak repot-repot bohong. Dia bilang terus terang: 'Maaf, Mbak, nama kalian terlalu panas. Klien takut.'"
Nadine memungut ponselnya sendiri. Layar penuh pesan yang tidak dibalas. Casting director yang dulu mengejar-ngejar wajahnya setelah editorial Metamorfosis kini diam seperti laut sebelum badai. Ia tahu apa yang mereka pikirkan. Nadine Pratiwi, gadis yang meruntuhkan Astra. Gadis yang membocorkan kontrak ke media. Pembuat onar. Di industri yang berputar di atas relasi dan ketakutan, keberanian seperti itu bukan sertifikat, melainkan kutukan.
Vania masuk membawa dua bungkus nasi uduk untuk dibagi berempat. Anak pengusaha Surabaya itu kini menawar harga di warung seperti orang lain. Ada sesuatu yang tegar pada caranya melakukannya, seolah ia menemukan dirinya yang sebenarnya hanya setelah kehilangan uang ayahnya.
"Ayahku menelepon lagi," kata Vania, duduk bersila. "Dia bilang aku bisa pulang kapan saja. Kembali jadi anak baik. Kuliah, menikah dengan anak relasi bisnis." Ia tertawa pendek, getir. "Aku bilang aku lebih suka makan nasi uduk separuh di gang ini."
Kirana, yang sejak tadi diam di pojok seperti biasa, akhirnya bicara dengan suara nyaris berbisik. "Uang sewa jatuh tempo lusa."
Ruangan hening. Itulah kenyataan yang tidak bisa ditawar. Mereka memenangkan persidangan, menghapus utang fiktif, membebaskan belasan model dari rantai kontrak Astra. Tapi bebas dari rantai bukan berarti bebas dari lapar. Tidak ada agensi berarti tidak ada pekerjaan. Tidak ada pekerjaan berarti tidak ada uang. Dan tanpa uang, kebebasan hanyalah nama lain dari terlantar.
Nadine berdiri, berjalan ke jendela kecil yang menghadap tembok rumah sebelah. Ia teringat ayahnya, teringat laut Pasir Putih yang tidak pernah berjanji ikan tapi selalu menuntut nelayan turun ke perahu setiap subuh. Ayahnya pernah bilang: laut tidak peduli kamu lapar, kamu yang harus pintar membaca arusnya.
"Kita salah," kata Nadine pelan.
"Salah bagaimana?" Maya mengangkat kepala.
"Kita masih menunggu seseorang merekrut kita. Kita masih berpikir seperti model Astra, menunggu agensi datang membawa kerja." Nadine berbalik. Ada cahaya di matanya yang tidak ada sejak putusan. "Tidak ada agensi yang akan datang. Mereka takut. Selama kita menunggu pintu mereka, kita akan kelaparan di tanah tak bertuan ini."
"Lalu apa?" tanya Vania. "Kita tidak punya gedung, tidak punya nama, tidak punya modal."
Nadine tidak langsung menjawab. Ia memandang ketiga perempuan di ruangan itu, perempuan-perempuan yang berani berdiri di belakangnya di aula Astra ketika kalah berarti hancur. Mereka tidak punya gedung. Tidak punya modal. Tapi mereka punya satu sama lain, dan mereka punya sesuatu yang tidak dimiliki agensi mana pun lagi: kepercayaan.
"Kita punya kaki," kata Nadine. "Kita punya wajah. Kita punya tangan yang bisa menjahit. Dan kita punya cerita yang sudah didengar separuh Jakarta." Ia menarik napas. "Kalau tidak ada yang mau menaungi kita, kenapa kita harus dinaungi siapa-siapa?"
Maya menegakkan punggung. Ada kilat di matanya, kilat yang Nadine kenal, kilat orang yang baru saja mendengar gagasan gila yang mungkin menyelamatkan mereka semua.
"Tunggu," kata Maya. "Kamu sedang memikirkan apa yang kupikirkan?"
Sebelum Nadine sempat menjawab, ponsel Kirana berdering. Nomor tak dikenal. Kirana ragu, lalu mengangkatnya. Wajahnya berubah pucat. Ia menyerahkan ponsel itu kepada Nadine tanpa kata.
Di seberang, suara seorang lelaki yang asing, halus, hampir terlalu sopan. "Selamat pagi, Nona Nadine. Saya menghubungi atas nama seseorang yang sangat tertarik pada... bakat-bakat yang baru saja bebas. Kami sudah mengamati kalian sejak lama. Mungkin sudah waktunya kita bicara."
Nadine mencengkeram ponsel itu lebih erat. "Siapa ini?"
Hanya ada tawa pelan, lalu sambungan terputus.