Seminggu setelah kunjungan ke kantor Vertikal, Dimas menelepon Nadine secara pribadi. Bukan untuk Akar kali ini. Untuk Nadine sendiri.
"Aku ingin bertemu," katanya. "Hanya kita berdua. Ada sesuatu yang ingin kutawarkan, dan kupikir lebih baik kau dengar sendiri sebelum membawanya ke kolektif."
Nadine ragu, tapi Maya mendorongnya. "Pergi saja. Dengar tawarannya. Kita perlu tahu apa yang dia inginkan. Lebih baik tahu musuh daripada menebak-nebak."
Mereka bertemu di kafe sepi yang elegan, jauh dari hiruk-pikuk. Dimas datang dengan map kulit dan senyum hangatnya yang selalu ada.
"Nadine," ia membuka, "aku akan langsung saja. Vertikal ingin menjadikanmu wajah utama kami. Kampanye nasional. Billboard di seluruh kota. Bayaran—" ia menyebut angka yang membuat Nadine harus menahan ekspresinya, angka yang lebih besar dari seluruh penghasilan Akar setahun penuh.
"Hanya kau," lanjut Dimas. "Kontrak personal. Kau tetap bisa menjalankan Akar di sela-sela. Tapi sebagai wajah Vertikal, kau akan punya panggung yang Akar tidak akan pernah bisa berikan. Internasional. Pekan mode dunia. Semua yang dulu dijanjikan Lúmin padamu, tapi tanpa harus mengubah wajahmu. Kau jadi dirimu sendiri, dan kau jadi bintang."
Nadine memandang angka di kertas itu. Pikirannya melayang ke kontrakan berjamur, ke tagihan sewa yang selalu mepet, ke wajah-wajah anggota Akar yang menggantungkan makan mereka padanya. Dengan uang sebesar ini, ia bisa membeli kantor untuk Akar. Asuransi. Dana darurat. Semua yang Dimas bilang Akar tidak punya.
"Kenapa aku?" tanya Nadine pelan. "Kau bisa pakai model mana pun. Yang lebih cantik, lebih berpengalaman, tidak punya reputasi pembuat onar."
Dimas tersenyum. "Justru karena reputasimu. Kau simbol, Nadine. Kau wajah perlawanan. Kalau Vertikal bisa menggandengmu, dunia akan percaya kami benar-benar etis. Kau memberi kami legitimasi yang tidak bisa dibeli dengan uang."
Dan di sanalah, di kalimat itu, Nadine menangkap kebenaran yang dingin. Dimas tidak menginginkan Nadine si model. Ia menginginkan Nadine si simbol. Ia ingin membeli citra perlawanan untuk menutupi sesuatu.
"Dan Akar?" tanya Nadine, menjaga suaranya tetap tenang.
"Akar adalah eksperimen yang indah," kata Dimas, nadanya berubah halus tapi tegas. "Tapi eksperimen tidak bertahan, Nadine. Idealisme tidak membayar tagihan. Cepat atau lambat, anggota-anggotamu akan butuh keamanan yang tidak bisa kau berikan. Mereka akan pergi satu per satu. Bukan karena tidak setia, tapi karena mereka punya keluarga, punya cicilan, punya hidup." Ia mencondongkan tubuh. "Aku menawarkanmu cara menyelamatkan mereka. Bawa mereka semua ke Vertikal. Kami beri mereka kontrak adil, asuransi, masa depan. Kau tinggal mengatakan ya."
Itu bukan sekadar tawaran untuk Nadine. Itu tawaran untuk membubarkan Akar dengan cara yang terdengar penuh belas kasih.
Nadine menatap mata Dimas lama-lama. Ada sesuatu di balik kehangatan itu, sesuatu yang ia kenal dari Renata Wijaya, dari setiap orang yang pernah memperlakukan model sebagai aset. Bedanya, Renata dingin dan terbuka soal keserakahannya. Dimas membungkusnya dengan poster-poster indah dan senyum hangat.
"Boleh aku jujur, Pak Dimas?" kata Nadine akhirnya.
"Tentu."
"Kau benar bahwa Akar rapuh. Kau benar bahwa kami tidak punya modal, tidak punya asuransi, tidak punya pengaman. Setiap malam aku takut tidak bisa menggaji teman-temanku." Ia menarik napas. "Tapi ada satu hal yang Akar punya dan Vertikal tidak akan pernah bisa beli. Di Akar, tidak ada yang memilikinya selain kami sendiri. Tidak ada investor misterius di belakang layar. Tidak ada filantropi tanpa nama. Setiap rupiah bisa diperiksa siapa saja."
Senyum Dimas memudar sedikit.
"Kau menawarkan keamanan," lanjut Nadine, "tapi dengan harga kepemilikan. Begitu kami masuk Vertikal, kami berhenti memiliki diri kami sendiri. Kami kembali jadi aset, cuma aset yang dirawat dengan lebih baik. Aku sudah pernah jadi boneka yang dipoles bagus, Pak. Aku menolak Lúmin yang menawarkan miliaran untuk mengubah wajahku. Aku tidak akan menukar jiwa Akar demi kantor ber-AC."
Dimas menutup mapnya pelan-pelan. Kehangatannya masih ada, tapi kini ada sesuatu yang lebih dingin di baliknya. "Sayang sekali," katanya. "Aku berharap kau lebih bijak. Tapi tidak apa-apa. Tawaran ini tetap terbuka." Ia berdiri, merapikan kemeja linennya. "Hanya saja, Nadine, ingat satu hal. Kau bisa menolak untuk dirimu sendiri. Tapi kau tidak bisa menolak untuk semua anggotamu. Cepat atau lambat, mereka akan dengar tawaran ini sendiri. Dan tidak semua orang sekuat kamu."
Ia melangkah pergi, meninggalkan secangkir kopi yang nyaris tak tersentuh dan ancaman yang dibungkus sopan santun. Nadine duduk sendiri di kafe sepi itu, dan untuk pertama kalinya sejak mendirikan Akar, ia merasakan ketakutan yang berbeda. Bukan ketakutan akan kelaparan. Ketakutan kehilangan orang-orangnya satu per satu, bukan lewat paksaan, tapi lewat bujukan.