Ancaman Dimas bukan gertakan kosong. Dalam dua minggu, Vertikal mulai mendekati anggota Akar satu per satu. Bukan secara terang-terangan. Lewat pesan pribadi, lewat undangan kopi, lewat tawaran yang disesuaikan untuk masing-masing orang.
Tika yang pertama bercerita. Ia datang ke kontrakan dengan wajah gelisah, duduk di hadapan Nadine dan Maya, menggenggam ponselnya.
"Mereka menawariku kontrak," katanya pelan. "Dua puluh juta sebulan. Tetap, dijamin. Plus asuransi yang menanggung ibuku yang sakit ginjal." Suaranya bergetar. "Nadine, di Akar bulan kemarin aku dapat tiga juta. Bulan sebelumnya cuma satu setengah. Aku bersyukur, sungguh, tapi ibuku butuh cuci darah dua kali seminggu. Aku tidak bisa..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu.
Nadine merasakan sesuatu yang berat menekan dadanya. Bagaimana ia bisa menyalahkan Tika? Idealisme tidak membayar cuci darah. Dimas benar tentang itu, dan kebenaran itu menyakitkan.
Dalam minggu-minggu berikutnya, lebih banyak retakan muncul. Tiga anggota mengundurkan diri, lalu dua lagi. Mereka pergi dengan air mata dan permintaan maaf, bukan dengan pengkhianatan. Tapi setiap kepergian terasa seperti potongan tubuh Akar yang teriris.
Yang lebih buruk, perpecahan mulai menjalar di antara yang tinggal. Suatu malam, dalam rapat kolektif, ketegangan pecah.
"Mungkin kita harus pertimbangkan tawaran Vertikal," kata seorang anggota bernama Rini. "Maksudku, bukan menyerah, tapi... kita realistis saja. Kita tidak bisa bersaing dengan asuransi dan gaji tetap. Beberapa dari kita punya tanggungan."
"Jadi kita jual semua yang kita bangun?" balas anggota lain, Sasa, dengan nada tinggi. "Kita lupa kenapa kita di sini? Kita lupa Astra?"
"Vertikal bukan Astra!" sahut Rini. "Mereka etis. Mereka bayar adil. Apa salahnya keamanan?"
"Kamu tidak lihat ada yang aneh? Investor tanpa nama? Tawaran yang terlalu manis?" Sasa berdiri. "Vania sudah memperingatkan—"
"Vania anak orang kaya!" potong Rini, dan ruangan langsung hening. "Maaf, Van, tapi gampang bagimu bicara idealisme. Kalau Akar bangkrut, kamu tinggal pulang ke ayahmu. Kami tidak punya jaring pengaman."
Vania terdiam, dan di wajahnya Nadine melihat luka yang dalam, luka karena kalimat itu separuh benar dan itulah yang membuatnya menyakitkan.
Nadine berdiri sebelum keadaan makin panas. "Cukup," katanya, dan suaranya tenang tapi tegas. "Rini benar. Aku tidak akan berpura-pura idealisme bisa membayar cuci darah ibu Tika. Aku tidak akan menghakimi siapa pun yang pergi karena harus menghidupi keluarga." Ia memandang sekeliling, menatap mata setiap orang. "Akar tidak pernah dibangun untuk memenjarakan kalian. Kalau Vertikal lebih baik untuk hidup kalian, pergilah dengan restuku. Itu hakmu."
Ruangan terdiam. Tidak ada yang menyangka Nadine akan berkata begitu.
"Tapi," lanjutnya, "sebelum kalian memutuskan, aku minta satu hal. Beri aku waktu mencari tahu siapa di balik Vertikal. Kenapa mereka begitu ingin membubarkan kita. Kenapa investor mereka bersembunyi. Kalau Vertikal benar-benar sebersih yang mereka katakan, aku akan ikut mengantar kalian ke sana sendiri. Tapi kalau ada yang busuk di baliknya, kalian berhak tahu sebelum melompat."
Keadilan dalam kata-katanya meredakan ruangan. Mereka sepakat memberi waktu dua minggu.
Setelah semua pulang, hanya tersisa empat orang inti. Vania duduk diam, masih terluka oleh kata-kata Rini. Maya memandang catatan keuangan dengan wajah lelah. Dan Kirana, di pojok seperti biasa, memandang Nadine dengan tatapan yang aneh, seperti sedang menimbang sesuatu yang berat.
"Aku menyakiti mereka," kata Nadine pelan, menyandarkan kepalanya ke dinding. "Aku menjanjikan masa depan, tapi yang kuberikan cuma ketidakpastian. Mungkin Dimas benar. Mungkin idealisme memang racun yang lebih halus dari uang Astra."
"Jangan bicara begitu," kata Maya, tapi suaranya tidak seyakin biasanya.
Lalu, dari pojok ruangan, terdengar suara yang jarang sekali bicara. Kirana.
"Aku tahu siapa di balik Vertikal."
Ketiganya menoleh serempak. Kirana mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya sejak Nadine mengenalnya, gadis pendiam itu menatap langsung tanpa menunduk.
"Atau setidaknya," kata Kirana, suaranya bergetar, "aku tahu cara orang seperti mereka bekerja. Karena keluargaku pernah dihancurkan oleh orang yang persis seperti itu." Ia menarik napas dalam-dalam. "Sudah waktunya aku bercerita."