Ruangan itu sunyi, hanya ada suara hujan rintik di atap seng dan napas Kirana yang berat. Nadine, Maya, dan Vania duduk diam, menunggu. Selama berbulan-bulan mereka hidup berdampingan dengan Kirana, gadis yang selalu menunduk, yang tulisannya paling rapi, yang jarang bicara lebih dari satu kalimat. Mereka tahu hampir tidak apa-apa tentang dia.
Kirana memeluk lututnya sendiri di pojok, seperti anak kecil yang takut. Lalu, perlahan, ia mulai.
"Ayahku dulu punya usaha konveksi kecil," katanya. "Di Tegal. Tidak besar, tapi cukup. Belasan penjahit, semua tetangga sendiri. Kami menjahit baju untuk merek-merek lokal." Ia menelan ludah. "Lalu datang sebuah perusahaan besar. Mereka bilang ingin bermitra. Mereka ramah sekali. Mereka menjanjikan pesanan besar, modal, masa depan. Ayahku percaya. Dia menandatangani kontrak yang tidak dia pahami sepenuhnya."
Nadine merasakan sesuatu yang dingin merayap. Pola itu terlalu familiar.
"Pelan-pelan, mereka mengambil alih. Pesanan dialihkan ke pabrik mereka sendiri. Utang yang ayahku tidak mengerti tiba-tiba muncul. Dalam dua tahun, konveksi ayahku bangkrut. Para penjahit, tetangga-tetangga kami, kehilangan pekerjaan. Ayahku..." Suara Kirana pecah. "Ayahku tidak tahan menanggung malu. Dia sakit. Stroke. Dia tidak pernah pulih sepenuhnya. Sampai sekarang dia di kursi roda, tidak bisa bicara jelas."
Maya menutup mulutnya dengan tangan.
"Aku ke Jakarta untuk membayar pengobatan ayahku," lanjut Kirana. "Aku masuk Astra karena tubuhku tinggi, karena tidak ada cara lain yang lebih cepat menghasilkan uang. Aku diam selama ini karena aku belajar satu hal: kalau kamu bicara, kalau kamu melawan, mereka menghancurkanmu lebih cepat. Ayahku bicara. Lihat apa yang terjadi padanya." Ia mengangkat wajahnya, dan ada air mata di sana, tapi juga ada keberanian yang baru. "Tapi aku salah. Aku melihat kamu, Nadine. Kamu bicara, kamu melawan, dan Astra yang hancur, bukan kamu. Itu mengubah segalanya buatku."
Nadine bergeser mendekat, menggenggam tangan Kirana yang dingin. "Lalu kenapa kamu bilang kamu tahu cara Vertikal bekerja?"
Kirana mengusap matanya. "Karena perusahaan yang menghancurkan ayahku juga seperti itu. Wajah ramah. Janji etis. Modal misterius. Mereka tidak menyerang dari depan seperti Astra. Mereka memelukmu sampai kamu tidak bisa bernapas, lalu mereka mengambil semuanya pelan-pelan, sampai kamu sadar kamu sudah tidak punya apa-apa lagi yang menjadi milikmu." Ia menatap Nadine. "Vertikal tidak ingin merekrut kita. Vertikal ingin membubarkan kita. Mereka tidak butuh model. Mereka butuh menghapus Akar. Karena Akar membuktikan model bisa hidup tanpa mereka. Dan itu berbahaya bagi siapa pun yang untung dari model yang bergantung."
Kalimat itu mengendap di ruangan seperti kebenaran yang selama ini mereka raba dalam gelap.
"Investor misterius," gumam Vania. "Yang sama yang menelepon sebelum kita viral. Yang sudah mengamati kita sejak lama."
"Seseorang yang lebih besar dari Dimas," kata Nadine pelan. "Dimas cuma wajah ramah di depan. Seperti Renata cuma alat Astra." Ia teringat misteri yang belum terjawab dari runtuhnya Astra: siapa yang membocorkan kontrak ke media malam itu, siapa pemilik Astra yang sebenarnya, sosok yang lebih tinggi dari Renata yang tidak pernah menampakkan wajah. "Mungkin ini orang yang sama. Mungkin Astra dan Vertikal cuma dua topeng dari wajah yang sama."
Mereka semua terdiam, menyadari bahwa perang yang mereka kira sudah selesai ternyata baru memasuki babak baru, dengan musuh yang lebih licik, yang menyerang bukan dengan kontrak kejam, tapi dengan kebaikan palsu.
Tapi malam itu, sesuatu juga telah berubah ke arah yang lebih baik. Kirana, gadis yang selama berbulan-bulan jadi bayangan diam, kini bagian penuh dari mereka. Ia telah memilih.
"Aku bisa pergi ke Vertikal," kata Kirana, suaranya kini lebih mantap. "Tawaran mereka untukku besar. Mereka tahu ayahku sakit, mereka tahu titik lemahku, mereka pakai itu. Tapi aku tidak akan pergi." Ia menggenggam balik tangan Nadine, erat. "Aku sudah pernah melihat keluargaku dihancurkan oleh serigala berbulu domba. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi dua kali. Aku tinggal di Akar. Aku bertahan di sini, bersama kalian."
Maya tersenyum di sela air matanya. Vania, yang sorenya terluka oleh kata-kata Rini, kini merasakan sesuatu yang lebih kuat dari luka itu: solidaritas yang teruji justru saat retak.
Nadine memandang ketiga perempuan di ruangan kecil berjamur itu. Anggota mereka berkurang. Uang mereka tipis. Musuh mereka tak terlihat dan jauh lebih besar dari yang mereka kira. Tapi mereka masih punya akar yang dalam, dan akar yang dalam tidak tumbang oleh angin.
"Kalau begitu," kata Nadine, "kita cari tahu siapa serigala di balik Vertikal. Kita telusuri sampai ke wajahnya yang sebenarnya." Ia menatap hujan yang menderas di luar jendela. "Mereka mengincar kita karena kita bukti bahwa cara mereka bisa dilawan. Berarti kita tidak boleh runtuh. Bukan demi kita saja. Demi semua model yang akan datang setelah kita."
Di luar, hujan terus turun, tapi di dalam ruangan sempit itu, empat akar saling mengikat lebih erat dari sebelumnya, bersiap menghadapi badai yang baru saja mereka sadari sedang berkumpul di cakrawala.