Peragaan koleksi "Tangan" di Pekan Mode Nasional ternyata menanam benih yang tak terduga. Foto-foto busana bertambal Akar menyebar tidak hanya di media lokal, tapi juga di kanal-kanal mode internasional yang selalu memburu hal baru dan otentik. Di tengah dunia mode global yang lelah dengan kemewahan dingin dan keseragaman, kisah sekelompok perempuan Indonesia yang menjahit ulang busana yang disabotase menjadi seni — tanpa tahu mereka sedang melakukan apa yang disebut desainer Eropa sebagai "high concept" — adalah cerita yang menjual.
Suatu sore, ponsel Nadine berdering dengan nomor asing berkode negara yang tidak ia kenali. Ia hampir mengabaikannya, mengira penipuan. Tapi sesuatu membuatnya mengangkat.
"Halo, apakah ini Nadine, dari kolektif Akar?" Suara perempuan, berbahasa Inggris dengan aksen Prancis yang kental. "Nama saya Élise Moreau. Saya kurator mode independen dari Paris."
Nadine menggenggam ponselnya lebih erat, memberi isyarat pada Maya yang langsung mendekat. Bahasa Inggris Nadine tidak sempurna, tapi cukup untuk mengerti.
"Saya melihat karya Akar di Pekan Mode Nasional kalian," lanjut Élise. "Koleksi 'Tangan'. Busana bertambal itu. Awalnya saya pikir itu pilihan desain yang berani. Lalu saya membaca ceritanya — bahwa busana itu disabotase dan kalian menjahitnya kembali dalam tiga jam, dan menjadikannya pernyataan." Ada jeda. "Nadine, dalam dua puluh tahun karier saya, saya jarang melihat sesuatu yang sejujur itu di runway. Kebanyakan yang saya lihat adalah kemewahan yang dipoles agar terlihat menderita. Karya kalian benar-benar lahir dari penderitaan, lalu diubah jadi keindahan. Itu langka."
Nadine tidak tahu harus berkata apa. "Terima kasih, Ibu Moreau."
"Élise saja." Suara itu tersenyum. "Saya sedang mengkurasi sebuah pameran global di Paris. Temanya 'Mode dari Pinggir' — karya dari komunitas, dari mereka yang tidak punya akses ke industri besar, dari pinggiran dunia mode. Karya yang lahir bukan dari modal, tapi dari kebutuhan dan keberanian." Jeda lagi, dan kalimat berikutnya membuat jantung Nadine berhenti. "Saya ingin mengundang Akar. Saya ingin koleksi 'Tangan' ada di pameran itu. Dan saya ingin kalian datang sendiri ke Paris untuk mempresentasikannya."
Nadine harus duduk. Maya, yang menguping, menutup mulutnya. Vania, yang baru masuk, melihat ekspresi mereka dan langsung tegang.
"Paris," ulang Nadine pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar. Bayangan billboard merah Lúmin di malam pertamanya tiba di Jakarta melintas di benaknya. Mimpi yang dulu terasa seperti dongeng. "Anda... Anda mengundang kami ke Paris."
"Ya. Pameran berlangsung tiga bulan lagi. Saya akan mengurus biaya pameran, ruang, dan publikasi. Tapi saya jujur, anggaran saya terbatas — saya kurator independen, bukan rumah mode besar. Saya hanya bisa menanggung perjalanan untuk dua orang dari kalian. Sisanya..." Ada nada menyesal. "Sisanya, kalau kalian ingin membawa lebih banyak orang, kalian harus cari cara sendiri."
Setelah panggilan ditutup, ruangan kontrakan meledak. Maya berteriak, memeluk Nadine. Vania, yang biasanya skeptis, untuk sekali ini tersenyum lebar. Bahkan Kirana, gadis pendiam itu, tertawa.
Tapi euforia itu cepat berbenturan dengan kenyataan. Vania, dengan kalkulator di benaknya, segera menghitung.
"Dua tiket dibiayai," katanya. "Tapi kalau kita ingin ini berarti sesuatu untuk seluruh Akar, kita tidak bisa pergi cuma berdua dan pulang. Ini momen yang harus dibagi. Dan ada masalah lain." Ia menatap Nadine. "Untuk ke Paris, kamu butuh paspor. Kamu punya paspor, Nadine?"
Nadine terdiam. Ia, gadis nelayan dari Desa Pasir Putih yang naik bus oranye empat belas jam ke Jakarta, yang seumur hidup tidak pernah naik pesawat, yang baru pertama kali melihat kota besar tujuh bulan lalu.
"Aku bahkan tidak pernah keluar dari pulau ini," katanya pelan.
Maya tertawa, tapi lembut. "Kalau begitu, kita urus paspormu dulu. Tapi Nadine —" ia menggenggam tangan sahabatnya, "— kamu sadar apa artinya ini, kan? Mimpi yang kamu lihat di billboard malam pertama itu. Paris. Kamu akan ke sana. Bukan sebagai boneka yang diubah wajahnya. Sebagai dirimu sendiri. Sebagai Nadine dari Pasir Putih."
Nadine memandang keluar jendela, ke arah langit Jakarta yang oranye di senja hari, warna yang sama dengan bus yang dulu membawanya pergi dari desa. Ia memikirkan ayahnya yang sedang menjaring ikan di laut yang sama, di bawah langit yang sama. Ia ingin meneleponnya. Ia ingin bilang: Pak, anakmu akan terbang melintasi separuh dunia.
Tapi di balik kegembiraan itu, ada bayangan yang tidak ia ucapkan. Karena ke mana pun Akar bersinar lebih terang, di sanalah mata-mata yang tak terlihat — investor misterius di balik Vertikal — akan mengawasi lebih dekat. Sorotan internasional adalah berkah. Tapi sorotan juga berarti target yang lebih besar, di panggung yang lebih jauh dari rumah.