Kantor imigrasi penuh sesak pada pagi itu. Nadine duduk di kursi plastik di antara ratusan orang lain, menggenggam map berisi berkas-berkas: kartu tanda penduduk, akta kelahiran yang sudah menguning, surat keterangan, dan selembar formulir yang tangannya gemetar saat mengisinya.
Tempat lahir: Desa Pasir Putih.
Ia menatap baris itu lama-lama. Bertahun-tahun, di Astra, ia dipaksa mengaku dari Bandung. Renata Wijaya bilang "model kosmopolitan tidak lahir di desa nelayan". Setiap formulir, setiap wawancara, ia berbohong tentang asalnya, sampai ia hampir lupa rasanya menuliskan kebenaran. Sekarang, di formulir resmi negara, untuk dokumen yang akan membawanya melintasi dunia, ia menulis dengan tinta yang jelas: Desa Pasir Putih. Bukan Bandung. Bukan kota mana pun. Desanya.
Tangannya berhenti gemetar.
Maya menemaninya, duduk di sebelahnya, sesekali menjelaskan prosedur yang membingungkan. "Nanti dipanggil untuk wawancara, foto, sidik jari. Jangan tegang. Kamu cuma perlu menjawab jujur."
"Jujur," ulang Nadine, dan ia tersenyum kecil. "Aku sudah ahli berbohong soal asalku. Sekarang aku harus belajar jujur lagi."
Ketika namanya dipanggil, ia masuk ke bilik wawancara. Petugas imigrasi, seorang lelaki muda yang lelah, memeriksa berkasnya, lalu mengangkat alis melihat tujuan perjalanan.
"Paris?" tanyanya. "Mau apa ke Paris, Mbak?"
Nadine ragu sejenak. Lalu ia menjawab dengan jujur, "Saya model, Pak. Ada pameran mode di sana. Karya kelompok saya diundang."
Petugas itu memandangnya lagi, kali ini lebih lama, seolah baru menyadari sesuatu. "Mbak ini... yang di berita itu, ya? Yang melawan agensi? Yang bikin peragaan di gang?" Ia tersenyum. "Anak saya tahu Mbak. Dia bilang Mbak modelnya ramah, senyum ke nenek-nenek." Ia menstempel berkas dengan lebih bersemangat. "Selamat jalan ke Paris, Mbak. Bawa nama Indonesia baik-baik."
Nadine keluar dari bilik itu dengan mata berkaca-kaca, untuk alasan yang sulit ia jelaskan.
Sambil menunggu paspor jadi, kekhawatiran yang lebih besar membayangi. Hanya dua tiket. Élise hanya bisa membiayai dua orang. Bagaimana mungkin momen sebesar ini, kemenangan seluruh Akar, hanya dinikmati dua orang? Malam itu, dalam rapat kolektif, mereka membahasnya.
"Aku usul," kata Nadine, "uang tiket tambahan kita kumpulkan dari kas Akar. Tapi kas kita tipis. Cuma cukup untuk satu tiket lagi, paling banyak dua."
"Berarti empat orang," hitung Vania. "Masih kurang. Kita seharusnya membawa lebih banyak, kalau ingin ini berarti bagi semua."
Lalu sesuatu yang tak terduga terjadi. Bu Sekar datang ke kontrakan malam itu, membawa amplop cokelat. Di belakangnya, beberapa pedagang gang lain. Penjual kebaya yang hampir bangkrut. Penjual batik yang anaknya putus sekolah. Tukang listrik yang dulu memasang lampu peragaan gratis.
"Kami dengar kalian mau ke Paris," kata Bu Sekar, meletakkan amplop di meja. "Membawa gamis saya. Membawa kebaya, batik, bordir kami semua ke sana." Suaranya bergetar. "Kami orang kecil, Nak. Tidak punya banyak. Tapi gamis saya akan dipajang di Paris. Di Paris! Dua puluh tahun saya menjahit di gang sempit, saya tidak pernah membayangkan bordir tangan saya bisa sampai sejauh itu." Ia mendorong amplop itu. "Ini patungan kami. Tidak banyak. Tapi ini cara kami ikut terbang bersama kalian."
Nadine membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, lembaran-lembaran uang lecek, recehan, hasil sisihan para pedagang kecil yang penghasilannya sendiri pas-pasan. Dan di antara uang itu, secarik kertas dengan tulisan tangan Bu Sekar: "Bawa pulang kabar baik untuk gang kita."
Nadine tidak bisa bicara. Maya menangis. Vania, yang besar dengan uang besar dan tahu betul betapa kecilnya jumlah ini secara nominal tapi betapa besarnya secara makna, harus berpaling agar tidak ikut menangis.
Dengan sumbangan itu, ditambah kas Akar, mereka bisa membiayai empat orang. Nadine memutuskan: ia, Maya, Vania, dan Kirana. Empat akar yang sejak awal mengikat, yang berdiri bersama di reruntuhan Astra, kini akan berdiri bersama di kota mode dunia.
Beberapa hari kemudian, paspor itu jadi. Nadine memegangnya, buku kecil hijau dengan lambang negara di sampulnya. Ia membuka halaman datanya. Fotonya menatap balik — wajah sawo matang, tulang pipi tegas warisan ibunya, rambut hitam, mata cokelat gelap. Wajah yang dulu ingin diubah Lúmin menjadi sesuatu yang asing demi miliaran rupiah. Wajah yang ia pertahankan.
Tempat lahir: Pasir Putih.
"Halo, dunia," bisiknya pada foto di paspor itu. "Aku Nadine. Anak nelayan dari Pasir Putih. Dan aku datang sebagai diriku sendiri."
Ia menelepon ayahnya malam itu, dari telepon umum yang sama yang dulu ia pakai untuk menolak Lúmin. Ketika suara ayahnya yang serak terdengar di seberang, Nadine hampir tidak bisa bicara karena haru.
"Pak," katanya akhirnya. "Anakmu akan terbang. Melintasi laut, melintasi benua. Lebih jauh dari yang pernah kita bayangkan."
Di seberang, ayahnya terdiam lama. Lalu, dengan suara yang dipenuhi air mata yang ditahan, ia berkata, "Pergilah, Nak. Tapi ingat satu hal yang Bapak ajarkan sejak kecil." Jeda. "Sejauh apa pun perahu pergi, ia selalu tahu jalan pulang ke pantainya. Jangan pernah hilangkan pantaimu, Nadine."