Penerbangan ke Paris memakan waktu lebih dari empat belas jam, hampir sama dengan perjalanan bus oranye yang dulu membawa Nadine dari desa ke Jakarta. Tapi kali ini ia melintasi awan, melintasi lautan yang luasnya tak terbayangkan, melintasi negeri-negeri yang dulu hanya ada di buku pelajaran sekolah desanya yang sudah lusuh.
Nadine menghabiskan separuh penerbangan menatap keluar jendela dengan kekaguman seorang anak. Maya tertidur di sebelahnya. Vania, yang sudah pernah ke luar negeri bersama keluarganya dulu, bersikap tenang tapi diam-diam menikmati melihat ketakjuban sahabat-sahabatnya. Kirana menggenggam tangan Nadine erat-erat saat pesawat lepas landas, dan tidak melepaskannya sampai roda menyentuh tanah Eropa.
Bandara Charles de Gaulle terasa seperti kota tersendiri — luas, dingin, penuh papan petunjuk dalam bahasa yang tidak mereka mengerti, penuh orang dari segala bangsa berlalu-lalang. Nadine, yang baru tujuh bulan lalu pertama kali melihat gedung dua belas lantai, kini berdiri di tengah arus dunia, koper berisi koleksi "Tangan" tergenggam erat seolah itu jangkar.
Élise Moreau menjemput mereka, perempuan ramping berambut abu-abu elegan dengan syal sutra dan senyum hangat. Ia memeluk Nadine seperti teman lama. "Selamat datang di Paris," katanya. "Selamat datang di kota yang akan kalian taklukkan."
Perjalanan dari bandara ke kota terasa seperti mimpi. Nadine menempelkan wajah ke jendela mobil, menyerap segalanya: jalanan batu kuno, bangunan-bangunan berusia ratusan tahun dengan balkon besi tempa, sungai yang membelah kota, dan di kejauhan, menara besi yang ia kenal dari gambar — Menara Eiffel, berdiri menjulang menantang langit kelabu.
"Indah," bisik Maya.
"Megah," koreksi Vania. "Tapi dingin. Lihat orang-orangnya. Buru-buru. Tidak ada yang saling tersenyum di jalan."
Itu benar. Paris megah, tapi asing. Tidak ada gang yang ramah, tidak ada ibu-ibu yang menyapa, tidak ada bau ikan asin yang menenangkan karena mengingatkan rumah. Keindahan kota ini seperti keindahan etalase — sempurna, tapi ada kaca tak terlihat yang memisahkan mereka darinya.
Mereka menginap di sebuah apartemen kecil yang disewa Élise, di lantai lima tanpa lift, di sebuah gang sempit yang, anehnya, mengingatkan Nadine pada kontrakan mereka di Jakarta. Malam pertama, kelelahan dan perbedaan waktu membuat mereka semua terjaga di jam yang salah. Nadine berdiri di jendela kecil, memandang atap-atap Paris yang berkilau basah oleh hujan gerimis.
Lalu ia melihatnya.
Di seberang jalan, di sisi sebuah gedung megah, terbentang sebuah billboard. Merah menyala di tengah malam Paris yang kelabu. Seorang model dalam gaun merah. Dan di sudutnya, dengan diakritik yang ia kenal betul, satu nama: Lúmin.
Nadine membeku.
Bertahun-tahun lalu, di malam pertamanya di Jakarta, ia melihat billboard merah Lúmin yang sama persis dari jendela bus oranye, dan ia bersumpah pada dirinya sendiri: "itu akan jadi aku." Lalu Lúmin datang, menawarkan miliaran, dengan syarat ia mengubah wajahnya, memutihkan kulitnya, mengganti dirinya jadi boneka yang asing. Dan ia menolak. Ia memilih jadi manusia, bukan boneka.
Sekarang, di kota tempat Lúmin lahir, billboard itu menyambutnya kembali, seolah lingkaran takdir baru saja menutup setengah jalannya.
"Tidak bisa tidur juga?" suara Vania pelan di belakangnya. Ia berdiri di samping Nadine, mengikuti arah pandangannya. Ketika melihat billboard itu, Vania terdiam. "Lúmin," gumamnya. "Mereka yang ingin mengubah wajahmu."
"Ya," kata Nadine pelan.
"Apa rasanya?" tanya Vania. "Melihatnya lagi. Di sini. Setelah kamu menolak segalanya yang mereka tawarkan."
Nadine memandang model dalam gaun merah itu, wajah sempurna yang dipoles, kulit putih mulus, fitur yang seragam dengan ribuan model lain di seluruh dunia. Wajah yang seharusnya jadi miliknya kalau ia menyerah dulu.
"Dulu aku ingin jadi dia," kata Nadine. "Aku pikir billboard merah itu adalah puncak. Aku rela mengubah apa pun untuk sampai ke sana." Ia menyentuh tulang pipinya sendiri, warisan ibunya, ciri yang ingin diubah Lúmin. "Sekarang aku berdiri di kota mereka, dan aku tahu, aku tidak pernah ingin jadi wajah di billboard itu. Aku ingin jadi diriku sendiri, di panggung manapun. Dan aku sampai ke sini. Bukan dengan mengubah wajahku. Tapi dengan menolak mengubahnya."
Vania tersenyum tipis. "Kamu tahu Lúmin ada di balik tirai Pekan Mode Paris, kan? Mereka sponsor besar. Kalau pameran Élise cukup besar, mereka akan tahu kita ada di sini. Kita akan bertemu mereka lagi. Cepat atau lambat."
Nadine memandang billboard merah itu untuk terakhir kali sebelum menutup tirai. "Kalau begitu, biarkan mereka datang," katanya pelan. "Kali ini, mereka yang akan melihat siapa aku sebenarnya. Bukan simulasi wajah di komputer mereka. Aku yang sebenarnya."
Di luar, hujan Paris terus turun, dingin dan asing. Tapi di dalam ruangan sempit itu, empat perempuan dari Indonesia tidur saling berdekatan di atas kasur tipis, persis seperti di asrama Astra dulu, persis seperti di kontrakan berjamur di Jakarta. Karena ke mana pun mereka pergi, sejauh apa pun dari rumah, mereka membawa akar mereka bersama.