Pameran "Mode dari Pinggir" dibuka di sebuah galeri di kawasan Marais, gedung tua yang langit-langitnya tinggi dengan balok kayu terbuka. Karya-karya dari seluruh penjuru dunia dipajang: tenun dari pegunungan Peru, bordir dari pengungsi Suriah, daur ulang kain dari pemulung Manila. Dan di sudut yang diberikan Élise untuk Akar, koleksi "Tangan" terpajang — gamis Bu Sekar yang bertambal, kebaya yang dijahit ulang, batik dengan jahitan kontras yang sengaja diperlihatkan.
Di samping setiap busana, Nadine memasang kartu kecil bertuliskan cerita: nama pedagang yang membuatnya, dari gang mana, dan kisah sabotase yang mengubah busana itu jadi seperti sekarang. Pengunjung berdiri lama membaca, dan banyak yang berkaca-kaca.
Élise berbisik pada Nadine, "Kau tahu apa yang membuat karyamu berbeda dari semua yang ada di sini? Yang lain memamerkan keindahan. Kau memamerkan keberanian. Dan keberanian selalu lebih jarang."
Malam pembukaan, galeri penuh dengan kritikus mode, kolektor, jurnalis, dan tokoh industri. Nadine, mengenakan kebaya hitam bertambal yang sama dengan yang ia pakai di Pekan Mode Nasional, menyapa tamu dengan bahasa Inggris terbatas tapi tulus. Maya menjadi penerjemah, Vania mengamati setiap orang dengan kewaspadaan lamanya, dan Kirana, yang ternyata punya mata seni yang tajam, menjelaskan teknik jahit pada pengunjung yang penasaran.
Lalu, di tengah keramaian, Nadine merasakan tatapan. Tatapan yang ia kenal, meski sudah lama.
Ia berbalik. Di seberang ruangan, berdiri tiga orang berpakaian rapi sempurna, dengan aura kekuasaan yang langsung membedakan mereka dari pengunjung lain. Di tengahnya, seorang perempuan elegan berusia paruh baya, rambut pirang ditata sempurna, mengenakan setelan mahal berwarna merah anggur. Wajahnya familiar.
Nadine ingat. Tim Lúmin Paris. Tiga orang yang datang ke Astra bertahun-tahun lalu, yang menawarkan kontrak miliaran dengan syarat mengubah wajahnya. Pemimpin tim itu — perempuan yang dulu bicara lewat penerjemah, yang menunjukkan simulasi wajah Nadine yang dipermak hingga tak dikenali.
Jantung Nadine berdebar, tapi ia menegakkan dagu. Pandangan ke satu titik. Menunduk berarti kalah.
Perempuan itu melangkah mendekat, melewati kerumunan, sampai berdiri di hadapan Nadine. Untuk sesaat, keduanya saling menatap dalam diam. Lalu, hal yang tidak Nadine duga: perempuan itu tersenyum, senyum yang tulus, bukan senyum bisnis.
"Nadine Pratiwi," kata perempuan itu, dalam bahasa Inggris, mengucapkan nama lengkap Nadine dengan tepat — nama yang dulu Renata larang ia pakai. "Aku Claire Vautrin. Direktur kreatif Lúmin. Kita pernah bertemu. Bertahun-tahun lalu, di Jakarta."
"Aku ingat," kata Nadine, suaranya tenang. "Anda menawarkan saya menjadi seseorang yang bukan saya."
Claire tidak mengelak. Ia mengangguk pelan, dan di matanya ada sesuatu yang menyerupai penyesalan. "Ya. Kami menawarkan itu." Ia memandang sekeliling galeri, pada koleksi "Tangan", pada cerita-cerita yang terpajang. "Dan kau menolak. Kau menolak miliaran rupiah dan kontrak internasional, demi mempertahankan wajah yang kami pikir perlu 'diperbaiki'." Ia menatap Nadine lurus. "Aku ingin kau tahu sesuatu. Penolakanmu itu menghantuiku selama bertahun-tahun."
Nadine terdiam, tidak menyangka arah percakapan ini.
"Dulu," lanjut Claire, "kami pikir kami tahu apa yang dunia inginkan. Wajah-wajah seragam. Kulit putih. Fitur yang 'universal'. Kami pikir keaslianmu adalah cacat yang harus diperbaiki." Ia menggeleng pelan. "Lalu aku menyaksikan industri berubah. Aku melihat dunia mulai muak dengan keseragaman. Aku melihat karya seperti ini —" ia menunjuk koleksi "Tangan" — "dipuji karena kejujurannya. Dan aku menyadari, kau benar dan kami salah. Bertahun-tahun yang lalu."
Vania, yang berdiri di dekat situ, mengamati dengan kewaspadaan tajam. Ia tidak percaya begitu saja. Ia melangkah maju. "Maaf, Madame Vautrin. Tapi kami sudah belajar untuk waspada pada orang yang datang dengan kata-kata manis. Astra juga manis. Vertikal juga manis. Apa maksud Anda sebenarnya datang ke sini?"
Claire menatap Vania, dan alih-alih tersinggung, ia menghormati pertanyaan itu. "Pertanyaan yang adil. Dan kalian benar untuk curiga." Ia menarik napas. "Aku tidak datang ke pameran ini secara kebetulan. Aku datang karena mendengar Akar ada di Paris. Aku datang untuk menemui Nadine." Ia menatap Nadine lagi. "Lúmin ingin bicara denganmu. Bukan tawaran yang sama dengan dulu. Tawaran yang sangat berbeda. Tapi aku tidak akan membahasnya malam ini, di tengah keramaian." Ia menyerahkan sebuah kartu nama. "Besok. Di kantor kami. Datanglah, dengar dulu, lalu putuskan. Kau tidak punya kewajiban apa-apa pada kami. Tapi aku berutang padamu, setidaknya, kesempatan untuk meminta maaf dengan benar."
Claire berbalik, lalu berhenti. "Oh, satu hal lagi." Ia menatap Nadine dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kau harus tahu. Ada orang lain yang menanyakan tentangmu di Paris. Bukan dari Lúmin. Seseorang yang sangat berkuasa, yang tidak ingin namanya disebut, tapi yang tampaknya sangat tertarik pada gerakanmu — dan tidak dengan cara yang baik." Wajahnya serius. "Berhati-hatilah, Nadine. Kau membuat marah orang-orang besar. Lebih besar dari yang kau kira. Bahkan sampai ke sini."
Lalu ia pergi, meninggalkan Nadine memegang kartu nama Lúmin di satu tangan, dan di benaknya, bayangan investor misterius yang menelepon sebelum mereka viral, dalang tak berwajah di balik Vertikal, mata-mata dalam mobil hitam berkaca gelap. Sosok yang sama. Mengikuti mereka. Bahkan sampai ke Kota Cahaya.
"Vania," kata Nadine pelan. "Dia tahu. Claire tahu siapa yang mengincar kita."
"Atau," kata Vania, menatap punggung Claire yang menghilang di kerumunan, "dia tahu lebih banyak dari yang dia katakan. Pertanyaannya, dia di pihak siapa."