Kantor Lúmin Paris menempati sebuah gedung bersejarah di dekat Avenue Montaigne, jantung dunia mode mewah. Lobinya berkilau dengan marmer putih dan lampu kristal, sebuah dunia yang berbeda jauh dari gang sempit tempat Akar lahir. Nadine datang bersama Maya dan Vania — Kirana memilih tinggal menjaga pameran, dan kebenaran lain, ia masih belum nyaman di ruang-ruang mewah yang mengingatkannya pada perusahaan yang menghancurkan ayahnya.
Claire Vautrin menyambut mereka di sebuah ruang rapat dengan jendela besar menghadap jalanan Paris. Tidak ada kemewahan berlebihan dalam sikapnya kali ini, tidak ada penerjemah, tidak ada simulasi wajah di layar. Hanya dirinya, dan sebuah map sederhana di atas meja.
"Terima kasih sudah datang," katanya. "Aku tahu kalian punya banyak alasan untuk tidak percaya pada Lúmin. Jadi aku akan langsung saja, tanpa berputar-putar."
Ia membuka map itu. Tidak ada foto simulasi wajah Nadine yang dipermak. Sebaliknya, ada foto-foto Nadine apa adanya — dari peragaan gang, dari koleksi "Tangan", dari liputan Majalah Elegan. Wajah sawo matang, tulang pipi tegas, rambut hitam. Wajah yang dulu ingin mereka ubah.
"Lúmin sedang berubah," kata Claire. "Dunia berubah, dan kami harus berubah bersamanya, atau mati. Konsumen muda muak dengan keseragaman. Mereka ingin keaslian. Mereka ingin melihat wajah yang nyata, cerita yang nyata, manusia yang nyata." Ia mendorong foto-foto itu ke arah Nadine. "Kami ingin meluncurkan kampanye global baru. Tema keaslian. Wajah-wajah dari seluruh dunia, apa adanya, tanpa dipermak. Dan kami ingin kau menjadi wajah utamanya."
Hening di ruangan itu.
"Bertahun-tahun lalu," lanjut Claire, "kami memintamu mengubah segalanya tentang dirimu. Memutihkan kulit, mengoperasi hidung, mungkin tulang pipi, mengganti namamu, mengarang cerita latar palsu." Ia menatap Nadine lurus. "Hari ini, aku datang dengan tawaran yang berlawanan secara total. Kami tidak ingin kau mengubah apa pun. Kami ingin kau menjadi persis seperti dirimu sekarang. Kulit sawo matang. Tulang pipi ibumu. Rambut hitam. Cerita nyatamu sebagai anak nelayan dari Pasir Putih. Itulah yang kami inginkan. Bukan meskipun begitu — justru karena itu."
Nadine memandang foto-foto dirinya di atas meja. Tangannya gemetar sedikit. Ini adalah momen yang, bertahun-tahun lalu di aula Astra, ia tidak pernah berani membayangkan. Lúmin — merek dari billboard merah impiannya — datang kembali, kali ini meminta maaf, kali ini ingin dirinya apa adanya.
"Kenapa harus aku?" tanya Nadine pelan. "Ada ribuan model di dunia."
"Karena kau yang pertama menolak kami," kata Claire sederhana. "Karena saat kami menawarkan dunia dengan syarat menjual jati dirimu, kau bilang tidak. Bertahun-tahun aku menyimpan rekaman pertemuan itu. Aku memutarnya berkali-kali, mendengarmu berkata bahwa keasliannyalah yang berharga. Saat itu aku pikir kau naif. Sekarang aku tahu kau melihat masa depan yang aku, dengan semua pengalamanku, gagal lihat." Ia menarik napas. "Kau bukan sekadar wajah, Nadine. Kau adalah bukti hidup dari apa yang kampanye ini ingin sampaikan. Tidak ada model lain yang bisa menggantikan itu."
Maya menyenggol Nadine, matanya lebar. Angka yang Claire sebutkan kemudian — bayaran untuk kampanye ini — membuat Maya menahan napas. Itu jauh lebih besar dari apa pun yang pernah ditawarkan kepada mereka. Lebih besar dari tawaran Vertikal. Dengan uang itu, Akar bisa punya kantor, asuransi, dana darurat untuk setiap anggota, beasiswa untuk model muda — semua yang Dimas bilang mustahil bagi mereka.
Tapi Nadine tidak langsung tergoda oleh angka. Ia sudah belajar. Ia menatap Claire dengan mata yang waspada namun terbuka.
"Madame Vautrin," katanya. "Bertahun-tahun lalu aku menolak Lúmin karena syaratnya menghancurkan jati diriku. Sekarang Anda bilang tidak ada syarat seperti itu. Tapi aku sudah belajar satu hal sejak saat itu: tidak ada tawaran tanpa syarat. Selalu ada harga. Jadi katakan terus terang. Apa yang Lúmin minta dariku sebagai gantinya?"
Claire tersenyum, dan kali ini ada rasa hormat yang tulus di senyumnya. "Kau sudah jauh lebih bijak dari gadis yang kutemui di Jakarta dulu." Ia menutup map. "Yang kami minta sederhana: eksklusivitas. Selama masa kampanye, kau hanya menjadi wajah Lúmin, tidak merek mewah lain. Itu wajar dalam industri ini." Ia menatap Nadine. "Tapi aku tahu kau. Aku tahu kau tidak akan langsung berkata ya. Kau akan punya syaratmu sendiri." Ia mencondongkan tubuh. "Jadi aku bertanya balik padamu, Nadine. Apa yang kau inginkan? Apa syaratmu?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Nadine memandang keluar jendela, ke jalanan Paris, lalu kembali ke foto-foto dirinya yang apa adanya di atas meja. Ia memikirkan Akar. Bu Sekar dan amplop berisi uang lecek. Para pedagang gang yang patungan agar bordir mereka sampai ke Paris. Kirana yang tidak ikut hari ini karena masih takut pada ruang-ruang mewah. Rini yang harus dipercaya kembali. Tika yang ibunya butuh cuci darah.
Ia tidak datang ke Paris untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Aku punya syarat, Madame Vautrin," kata Nadine pelan, dan dalam suaranya ada ketenangan baja. "Beberapa syarat. Dan kalau Lúmin tidak bisa memenuhinya, dengan hormat, aku akan menolak Anda untuk kedua kalinya."
Claire bersandar, ekspresinya tertarik, sama sekali tidak gentar. "Aku mendengarkan."