Tiga minggu berlalu seperti badai. Nadine bangun sebelum fajar, berlatih sampai tubuhnya menjerit, makan porsi kecil yang tidak pernah cukup, dan jatuh tertidur kelelahan setiap malam. Tumitnya yang melepuh mengeras menjadi kapalan. Langkahnya yang dulu kaku kini mulai mengalir, walau masih jauh dari sempurna.
Pada penimbangan Kamis pagi, jarum timbangan menunjuk lima puluh lima koma dua. Ahli gizi mengernyit. "Turun tiga kilo. Bagus, tapi masih jauh dari target. Kurangi karbohidrat. Tambah kardio."
Nadine mengangguk lemah. Ia sudah berhari-hari merasa pusing karena lapar, tetapi ia tidak berani mengeluh.
Pagi itu, Renata memanggilnya ke kantor. "Ada pemotretan untuk katalog butik kecil. Bukan pekerjaan besar, tapi cukup untuk mengisi portofoliomu. Berangkat sekarang. Maya akan menemanimu."
Studio foto itu terletak di sebuah gedung tua yang disulap menjadi ruang kreatif. Lampu-lampu sorot, latar berwarna-warni, rak penuh pakaian. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Jakarta, Nadine merasakan getar kegembiraan yang murni. Inilah yang ia impikan.
Fotografernya bernama Pak Bram, seorang pria paruh baya dengan kamera mahal menggantung di lehernya dan sikap yang tidak sabaran. Penata gaya mendandani Nadine dengan gaun cokelat sederhana, lalu mendorongnya ke depan latar putih.
"Oke, kita mulai. Pose," kata Pak Bram, mengangkat kamera.
Nadine berdiri kaku, tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya. Ia mencoba tersenyum, tetapi senyumnya terasa palsu.
Klik. Klik. Pak Bram menurunkan kameranya dan menghela napas. "Kaku. Kamu seperti patung lilin. Rileks. Pundakmu, turunkan. Tanganmu jangan menggantung seperti itu."
Nadine mencoba lagi. Tetapi semakin ia berpikir, semakin kaku tubuhnya. Setiap pose terasa salah. Wajahnya tegang. Keringat mulai membasahi dahinya, mengancam riasan.
"Ini tidak berhasil," gerutu Pak Bram pada penata gaya. "Renata mengirimiku amatir lagi."
Wajah Nadine memanas karena malu. Ia melirik Maya yang berdiri di pinggir, dan Maya memberinya isyarat dengan tangan, menepuk dadanya sendiri, lalu menunjuk ke arah Nadine. Bernapas. Rasakan.
Nadine menutup matanya sejenak. Ia membuang semua pikiran tentang Pak Bram, tentang kamera, tentang penilaian. Ia membayangkan dirinya kembali di Pasir Putih, berdiri di tepi pantai saat senja, angin laut menerpa wajahnya, ombak berdebur di kakinya. Ia membayangkan rasa bebas itu, rasa menjadi dirinya sendiri tanpa ada yang menghakimi.
Ketika ia membuka mata, sesuatu telah berubah. Bahunya rileks. Dagunya terangkat dengan alami. Dan tatapannya, tatapannya menyimpan sesuatu yang dalam, kerinduan, ketegaran, dan kelembutan sekaligus.
Klik.
Pak Bram terdiam. Ia menurunkan kamera dan menatap layar di belakangnya. Lalu ia mengangkat kamera lagi.
"Lagi. Tahan ekspresi itu. Bagus. Sekarang putar sedikit. Dagu ke arah cahaya. Ya. Ya. Bagus sekali."
Klik. Klik. Klik.
Selama satu jam berikutnya, studio itu hidup. Nadine bergerak dari satu pose ke pose lain, tidak lagi memikirkan teknik, tetapi membiarkan tubuhnya menceritakan kisah. Pak Bram yang tadinya sinis kini bergumam puas, berpindah-pindah sudut, memujinya berulang kali.
"Dari mana kau menemukan anak ini?" tanya Pak Bram pada Maya saat istirahat. "Ada sesuatu di matanya. Kamera menyukainya. Itu tidak bisa diajarkan."
Maya tersenyum bangga. "Dia istimewa, Pak."
Saat hasil foto ditampilkan di layar besar, bahkan Nadine sendiri terkejut. Gadis di foto itu... apakah benar itu dirinya? Ada keanggunan yang tidak ia sadari ia miliki, kedalaman yang membuat mata orang tertahan. Untuk pertama kalinya, ia mulai percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, ia memang punya tempat di dunia ini.
Tetapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Sore harinya, kembali di asrama, Vania menghampirinya dengan senyum manis yang mencurigakan. "Dengar-dengar pemotretanmu sukses. Selamat, ya, Nona Desa."
"Terima kasih," jawab Nadine hati-hati.
"Sayang sekali," Vania mendesah pura-pura prihatin, "kabarnya katalog itu butuh gaya yang lebih... berkelas. Tapi yah, untuk pemula, lumayanlah."
Nadine tidak menanggapi. Ia sudah belajar bahwa kata-kata Vania adalah jebakan. Tetapi malam itu, saat ia memeriksa ponsel pinjaman Maya, ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Di sebuah grup obrolan model Astra yang Nadine tidak tahu keberadaannya, seseorang telah memposting foto Nadine yang sedang tersandung di latihan hari pertama, lengkap dengan keterangan kejam. "Inilah harapan baru Astra. Petani jadi model. Tunggu saja, sebentar lagi balik ke sawah."
Puluhan tanda tawa dan komentar menghina mengikuti. Dan pengirim pertamanya, Nadine bisa melihat dengan jelas, adalah akun bernama Vania_S.