Nadine menatap layar ponsel itu lama-lama, jari-jarinya gemetar. Komentar-komentar itu seperti jarum yang menusuk satu per satu. Tetapi yang paling menyakitkan bukan hinaannya. Yang paling menyakitkan adalah betapa banyak orang yang ikut tertawa, gadis-gadis yang setiap pagi berlatih di sampingnya, makan di meja yang sama, tidur di bawah atap yang sama.
"Jangan baca lagi," kata Maya lembut, mengambil ponsel itu dari tangan Nadine. "Itu yang mereka mau. Mereka ingin kau hancur."
"Kenapa?" suara Nadine bergetar. "Aku tidak pernah berbuat apa-apa pada mereka."
"Karena kau punya sesuatu yang mereka takutkan." Maya duduk di sampingnya. "Bakat asli. Vania sudah tiga tahun di sini dan belum pernah dapat kontrak besar. Dia melihatmu dipuji Pak Bram, dipuji Madame Sylvia, dan dia ketakutan. Orang yang takut akan jadi kejam."
Nadine menyeka air matanya dengan kasar. "Aku tidak akan membiarkan mereka melihatku menangis."
"Itu sikap yang benar." Maya tersenyum. "Tapi Nadine, kau harus pintar. Di industri ini, bertahan saja tidak cukup. Kau harus belajar bermain."
Keesokan harinya, Nadine memutuskan untuk tidak membalas. Ia tidak mendatangi Vania, tidak membuat keributan, tidak mengadu pada Renata. Sebaliknya, ia menumpahkan semua amarah dan sakit hatinya ke dalam latihan. Ia datang ke aula paling pagi dan pulang paling akhir. Ia mempelajari setiap gerakan Madame Sylvia dengan ketelitian yang nyaris obsesif.
Berat badannya turun ke lima puluh tiga koma lima. Langkahnya semakin halus. Dan dalam pemotretan-pemotretan kecil berikutnya, namanya mulai disebut-sebut di kalangan klien.
Tetapi Vania tidak menyerah. Serangannya menjadi lebih halus dan lebih licik.
Suatu pagi, sepatu hak latihan Nadine menghilang dari lokernya, membuatnya terlambat dan didenda. Pada penimbangan berikutnya, seseorang telah menyetel ulang timbangan, membuat angkanya melonjak dan Nadine dimarahi habis-habisan oleh ahli gizi. Dalam sebuah pemotretan penting, gaun yang seharusnya dikenakan Nadine ternyata sobek di bagian belakang, dan ia nyaris kehilangan pekerjaan itu sebelum Maya buru-buru menjahitnya.
Tidak ada bukti yang mengarah langsung pada Vania. Semuanya tampak seperti kesialan. Tetapi Nadine tahu. Dan setiap kali, ia menelan amarahnya dan bangkit lagi.
"Kau terlalu sabar," kata Maya suatu malam. "Sampai kapan kau mau jadi sasaran?"
"Sampai aku cukup kuat untuk berdiri tanpa perlu menjatuhkan siapa pun," jawab Nadine. "Aku tidak mau jadi seperti Vania. Kalau aku berhasil, aku ingin berhasil dengan tanganku sendiri, bukan dengan menginjak orang lain."
Maya menatapnya lama, lalu tersenyum dengan sesuatu yang menyerupai kekaguman dan kekhawatiran sekaligus. "Itu cita-cita yang indah, Nadine. Tapi aku takut industri ini akan mematahkannya."
Suatu sore, Renata memanggil Nadine ke kantornya. Di sana, sudah duduk seorang wanita anggun berkacamata, dengan map tebal di pangkuannya.
"Nadine, kenalkan, ini Bu Anjani dari Majalah Elegan," kata Renata. "Mereka sedang mencari wajah baru untuk editorial musim depan. Aku merekomendasikanmu."
Jantung Nadine berdebar. Majalah Elegan adalah salah satu majalah mode terkemuka. Tampil di sana bisa mengubah karier seorang model dalam semalam.
Bu Anjani menatap Nadine dengan mata yang menilai, lalu membuka mapnya, memperlihatkan foto-foto hasil pemotretan Nadine selama ini. "Wajahmu menarik. Ada karakter. Tapi," ia menutup map, "aku dengar ada sedikit... drama. Foto memalukan yang beredar. Kami tidak suka model yang membawa masalah."
Nadine merasakan perutnya jatuh. Vania bahkan berhasil menjangkau ke sini.
"Bu Anjani," kata Nadine, suaranya tenang meski jantungnya berpacu, "saya tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain katakan tentang saya. Tapi saya bisa mengendalikan apa yang saya berikan. Beri saya satu pemotretan. Kalau saya tidak memberi yang terbaik yang pernah Ibu lihat, Ibu boleh coret nama saya selamanya."
Ruangan hening. Renata menahan napas.
Bu Anjani menatap Nadine lama, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit. "Berani. Aku suka itu." Ia berdiri. "Baiklah. Satu kesempatan. Lusa, pukul delapan pagi, di studio kami. Jangan kecewakan aku."
Setelah Bu Anjani pergi, Renata menatap Nadine dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kau tahu apa yang baru saja kau pertaruhkan?"
"Tahu, Bu."
"Bagus." Renata bersandar di kursinya. "Karena kalau kau gagal, kau bukan hanya mempermalukan dirimu. Kau mempermalukan Astra. Dan aku tidak suka dipermalukan."
Nadine mengangguk dan keluar dari ruangan dengan kaki yang nyaris tidak menapak. Di lorong, Vania bersandar di dinding, menunggunya, dengan senyum penuh kemenangan yang berubah menjadi heran saat melihat wajah Nadine yang justru bersinar.
"Apa yang membuatmu sebahagia itu, Nona Desa?"
Nadine berhenti di depannya, menatapnya lurus-lurus. "Terima kasih, Vania."
"Untuk apa?"
"Untuk membuatku lebih kuat. Setiap serangan darimu membuatku semakin sulit dijatuhkan." Nadine tersenyum manis, lalu berlalu, meninggalkan Vania yang terdiam dengan ekspresi marah yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.