Malam itu, posko Akar di gang sempit berubah jadi markas perang. Layar laptop berserakan, kertas-kertas menutupi meja, kopi instan dingin di gelas-gelas plastik. Renata duduk di antara orang-orang yang dulu ia takut-takuti, dan keganjilan itu tidak luput dari siapa pun, tapi tidak ada yang membahasnya. Mereka punya pekerjaan.
"Kalau kesaksian Renata mau berdiri di pengadilan," kata Bu Laras, mengusap matanya yang lelah, "kita butuh bukti dokumen. Nama cangkang saja tidak cukup. Kita perlu garis yang menghubungkan rekening, instruksi, tanda tangan."
"Aku tahu sebagian," kata Renata. "Tapi tidak semua. Wirakusuma terlalu hati-hati."
"Madame Sylvia punya sebagian lagi," kata Nadine pelan. Sylvia, yang duduk di sudut, mengangguk. Beberapa hari lalu ia membongkar bahwa selama bertahun-tahun ia menyimpan bukti — surat-surat lama, kontrak masa mudanya, catatan tentang bagaimana Wirakusuma dulu menghancurkan kariernya di panggung internasional. "Dan ada rekaman dari mantan asisten Renata," lanjut Nadine. "Kita kumpulkan semuanya, kita punya rantai yang utuh."
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada harapan di ruangan itu. Vania tersenyum lebar. Maya mulai membuat daftar.
Lalu ponsel Nadine berdering. Nomor tak dikenal.
Ia mengangkatnya. "Halo?"
Suara di seberang halus, hangat, seperti beludru. Nadine langsung mengenalinya, dan tubuhnya menegang.
"Selamat malam, Saudari Nadine," kata Wirakusuma. "Maaf menelepon larut. Saya pikir kita sudah waktunya bicara langsung, tanpa pengacara, tanpa kamera."
Ruangan menatap Nadine. Ia mengaktifkan pengeras suara dan meletakkan ponsel di tengah meja.
"Bicara," kata Nadine.
"Saya menghormati apa yang Anda lakukan," kata suara itu. "Sungguh. Tapi saya juga seorang yang realistis, dan saya pikir Anda juga. Jadi izinkan saya jujur." Jeda. "Anda mengelilingi diri dengan orang-orang yang Anda cintai. Itu indah. Tapi setiap orang punya rahasia, Saudari Nadine. Dan saya, selama bertahun-tahun mengumpulkan informasi, kebetulan tahu banyak rahasia."
Mata Nadine menyapu ruangan. Renata memucat. Vania menegang.
"Teman Anda Vania," lanjut Wirakusuma, dan suara itu tetap ramah, itulah yang paling mengerikan. "Ayahnya membangun kekayaannya tidak sepenuhnya bersih. Ada beberapa transaksi yang kalau dibuka ke publik, akan menghancurkan keluarganya, menyeret mereka ke meja hijau. Pengacara Anda, Bu Laras — ada kasus lama yang ia tangani, sebuah kesalahan, yang bisa membuat izin praktiknya dicabut. Dan Renata." Tawa kecil. "Renata sayang. Apakah para model itu tahu seberapa banyak yang kau tandatangani dengan senang hati, Renata? Apakah mereka tahu nama-nama yang kau coret, gadis-gadis yang kau usir sampai mereka pulang dengan utang? Aku punya semua catatan itu. Dengan tanda tanganmu."
Renata menunduk. Tangannya gemetar di atas meja.
"Saya bisa membuat semua ini hilang," kata Wirakusuma. "Untuk Anda semua. Cukup mudah. Saudari Nadine, Anda mundur dari kesaksian. Anda umumkan bahwa setelah dipikir ulang, masalahnya lebih rumit, bahwa industri butuh waktu untuk berbenah dari dalam. Saya akan pastikan Akar tidak pernah diganggu lagi. Saya bahkan akan mendanainya. Anda akan jadi pahlawan yang dewasa dan bijaksana. Dan rahasia teman-teman Anda tetap terkubur." Jeda panjang. "Atau Anda lanjutkan, dan saya bongkar semuanya, satu per satu, dan saya saksikan orang-orang yang Anda cintai jatuh bersama saya. Pikirkan, Saudari Nadine. Anda punya waktu sampai sidang dibuka kembali."
Telepon terputus.
Ruangan itu sunyi total. Kopi dingin. Lampu berdengung.
Vania-lah yang pertama bicara, suaranya bergetar. "Dia tidak bohong soal ayahku. Ada... ada beberapa hal." Ia menutup wajahnya. "Kalau itu keluar, ayahku bisa dipenjara. Setelah semua, setelah dia akhirnya berdiri di pihakku—"
"Bu Laras," kata Maya pelan. "Kasus lama itu—"
"Itu nyata," kata Bu Laras, suaranya datar. "Kesalahan dua belas tahun lalu. Aku bisa kehilangan izin praktik. Dan kalau begitu, aku tidak bisa membela siapa pun lagi."
Semua mata berpaling ke Renata. Ia tidak mengangkat wajahnya. Air mata menetes di atas kertas-kertas di meja. "Catatan itu ada," bisiknya. "Aku menandatanganinya. Semuanya."
Nadine menatap ponsel yang kini diam di tengah meja, seperti benda hidup yang baru saja menggigit mereka semua. Ia merasakan ketakutan menjalar di ruangan, ketakutan yang akrab, ketakutan yang sama yang dulu membuat ribuan model menandatangani kontrak tanpa membaca, membuat Renata menjadi boneka selama enam tahun, membuat industri ini bertahan sekejam ini selama puluhan tahun.
Ketakutan adalah senjata terkuat Wirakusuma. Dan ia baru saja menembakkannya ke jantung mereka.