Tidak ada yang tidur malam itu. Posko Akar terbelah oleh keheningan tegang. Vania duduk di pojok, menelepon ayahnya berbisik-bisik di lorong. Bu Laras menatap dinding. Renata membungkuk di kursi seperti orang yang punggungnya dipatahkan.
Menjelang subuh, satu per satu mereka mulai bicara, dan kata-kata yang keluar adalah kata-kata mundur.
"Mungkin Wirakusuma benar bahwa ini butuh waktu," kata seseorang. "Mungkin kita terlalu cepat."
"Kalau ayahku jatuh, perusahaannya jatuh, ribuan karyawan kehilangan kerja," kata Vania, matanya merah. "Aku tidak bisa menanggung itu, Nadine. Aku tidak bisa."
"Tanpa izin praktikku, siapa yang akan membela tiga ratus aduan itu?" kata Bu Laras. "Kalau aku jatuh, seluruh kasus runtuh. Mungkin lebih bijak aku mundur diam-diam dan menyerahkan ke pengacara lain di lain waktu."
Setiap argumen masuk akal. Itulah yang membuatnya begitu beracun. Wirakusuma tidak menyuruh mereka melakukan kejahatan; ia hanya membuat mundur terdengar seperti tanggung jawab, dan teguh terdengar seperti keegoisan.
Nadine duduk diam, mendengarkan, perutnya terasa berat. Lalu, saat langit di luar mulai pucat keabu-abuan, ia berdiri.
"Boleh aku cerita sesuatu?" katanya.
Ruangan menoleh.
"Dua tahun lalu," kata Nadine, "Renata menawarkanku kontrak Lúmin. Miliaran rupiah. Wajah Asia Tenggara. Billboard yang aku impikan sejak di desa." Ia menatap Renata, yang mengangkat wajahnya pelan. "Syaratnya cuma satu: aku harus mengubah diriku. Putihkan kulit. Operasi hidung, tulang pipi. Rambut jadi cokelat. Karang cerita keluarga palsu. Mereka tunjukkan foto simulasi, dan di foto itu aku melihat orang asing yang cantik dan sukses dan sama sekali bukan aku."
Ia berjalan pelan ke tengah ruangan.
"Aku menelepon ayahku waktu itu. Dan dia bilang sesuatu yang tidak pernah aku lupa. Dia bilang yang dia takutkan bukan aku gagal. Yang dia takutkan adalah hatiku yang berubah. Sukses yang membuatku membenci cermin. Dia bilang itu penjara." Suara Nadine merendah. "Aku menolak miliaran rupiah karena aku tidak mau hidup di penjara itu. Karena begitu kau menukar dirimu untuk keselamatan, kau tidak pernah berhenti membayar. Kau membayar selamanya."
Ia menatap mereka satu per satu.
"Yang Wirakusuma tawarkan malam ini bukan keselamatan. Itu kontrak yang sama. Dia bilang serahkan kebenaranmu, dan aku akan menjaga rahasiamu. Tapi begitu kita mundur, kita miliknya. Selamanya. Setiap kali dia mau, dia tarik talinya. Vania, ayahmu akan tetap di genggamannya seumur hidup. Bu Laras, Ibu akan jadi pengacara yang dia kontrol. Renata—" Nadine menelan ludah. "Kita semua akan jadi boneka lagi. Hanya saja kali ini kita memilihnya dengan mata terbuka."
Keheningan turun, beda dari keheningan sebelumnya. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih dalam.
"Aku tidak bisa memutuskan untuk kalian," lanjut Nadine, suaranya gemetar sekarang. "Vania, kalau kau perlu melindungi ayahmu, aku tidak akan pernah menyalahkanmu. Bu Laras, kalau Ibu perlu mundur, kita cari jalan lain. Aku tidak akan menukar keluarga kalian untuk perangku." Air matanya turun. "Tapi aku akan tetap bersaksi. Sendirian kalau perlu. Karena di luar sana ada gadis tujuh belas tahun yang gemetar memegang slip utang dua ratus juta, dan dia tidak punya ayah kaya atau pengacara atau apa pun untuk dilindungi. Dia cuma punya kita. Dan kalau kita mundur, kita meninggalkan dia di tangan orang yang sama."
Lama tidak ada yang bicara.
Lalu Vania berdiri. Wajahnya basah, tapi rahangnya keras. "Aku menelepon ayahku tadi," katanya pelan. "Aku ceritakan semua. Aku kira dia akan minta aku mundur." Ia tersenyum getir. "Tapi dia bilang... dia bilang dia sudah lelah jadi orang yang membayar diam orang lain. Dia bilang kalau dia harus jatuh, lebih baik jatuh sambil melakukan satu hal yang benar." Suaranya pecah. "Dia akan menyerahkan dirinya sendiri ke pihak berwenang. Sebelum Wirakusuma sempat memakainya."
Bu Laras berdiri perlahan, menyeka kacamatanya. "Kalau begitu," katanya, "aku tidak punya alasan untuk lebih pengecut dari ayah Vania." Ia menarik napas. "Aku akan mengaku kesalahan lamaku sendiri ke organisasi advokat. Di depan, sebelum Wirakusuma membongkarnya. Senjata cuma berbahaya kalau yang dibidik takut. Kalau aku sudah mengaku, dia tidak punya peluru."
Semua mata berpaling ke Renata.
Renata berdiri dengan tubuh gemetar. "Catatanku yang dia simpan," katanya serak. "Tanda tanganku di kontrak-kontrak itu." Ia menegakkan punggungnya yang lelah. "Aku akan menyerahkannya sendiri ke komisi. Setiap lembar. Sebagai pengakuan, dan sebagai bukti. Biar dunia tahu apa yang kuperbuat. Aku sudah lari dari cermin terlalu lama."
Nadine menatap mereka — empat orang yang baru saja memilih membayar harga kebenaran dengan rahasia paling rapuh mereka sendiri. Di luar jendela, matahari pertama menerobos celah gang.
"Kalau begitu," bisik Nadine, "dia tidak punya kartu lagi."