Di sebuah cafe sederhana. Ya, Cafe milik Zen, Safeer sebenarnya sudah menganggap Zen sebagai sahabatnya. Zen yang baik hati dan selalu mengingatkan dirinya untuk terus belajar tanpa melupakan kewajiban kita sebagai hamba Allah.
Dan di Cafe milik Zen inilah, Safeer mengajak adiknya untuk makan siang. Atau lebih tepatnya makan sore menjelang senja. Tak tahu lah, sekarang sudah pukul empat sore, dan adiknya itu masih mengunyah sari persatu makanan yang ia pesan.
"Sepertinya masakannya enak ya?" Suara yang familiar itu rupanya menyadari kehadiran Safeer. Ya Safeer memang tak mengabari Zen kalau dirinya akan datang ke tempat ini. Sedangkan saat dirinya sedang fokus melihat makan adiknya yang lahap, Zen menghampirinya.
"Sepertinya begitu." Jawab Safeer yang langsung berdiri dan menyalami sahabatnya itu.
Sedangkan Afa, hanya mendongak sebentar lalu kembali melanjutkan makannya. Tak lagi peduli selain dengan semua hidangan di depannya. Safeer sendiri tak heran. Adiknya itu memang suka sekali makan, meskipun hal itu tak terlihat sama sekali di tubuhnya. Dan hal itu pula yang membuat Afa sangat senang untuk belajar memasak dari om mereka.
"Lo gak makan?" Tanya Zen yang sudah duduk di dekat Safeer. Sedangkan Safeer hanya mengangguk.
"Sudah tadi." Ya dia sudah makan. Dua porsi menu yang hanya ia makan sedikit saja dan setelahnya sang adik menghabiskannya. Safeer sendiri heran lambung apa karet sih isi perut adiknya itu.
Lalu pandangan Zen tertuju pada Afa yang masih sibuk menyuapkan nasi ke mulutnya. Langsung menggunakan tangan. "Cewek lo?"
Dan Safeer tertawa saat itu juga. "Oh ya, lo belum gue kenalin sama dia ya, Afa adik gue."
"Oh, jadi dia yang buat lo pindah ke sini?"
Tak disangka kalau ucapan Zen tersebut mendapatkan balasan dari Afa. "Bukan bang, Dia pindah sekolah kesini bukan karena gue. Tapi karena mamanya dia." Sahut afa yang rupanya sudah terlihat akan menyelesaikan makannya itu.
Safeer mendengarnya tak suka. Sepertinya adiknya ini masih ngambek dengan mama Ziha. Ah ya sudah lah.
"Udah makannya?" Tanya Safeer melihat adiknya yang tengah meneguk air putihnya hingga tandas.
Hanya mengacungkan dua jempolnya sudah cukup untuk memberi jawaban pada kakaknya itu.
"Bentar ya Zen!" Safeer berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kasir untuk membayar makanannya. Lalu kembali lagi dan melihat Zen yang tampaknya sedang menanyakan beberapa hal pada adiknya itu.
Safeer segera menghampiri Afa dan mengajaknya pulang. Adiknya ini baru keluar rumah sakit harusnya banyak istirahat dan bukannya dia ajak nongkrong lama-lama fi cafe. Kalau nyonya Ziha tahu, beuh bisa kena demo dia.
"Oh ya Saf, hari minggu besok lo jangan lupa datang ya?" Celetuk Zen setelah sahabatnya itu berpamitan.
"Sip deh." Jawab Safeer pasti. Lalu dirinya berbalik menyusul sang adik yang sudah keluar terlebih dahulu.
Safeer kembali melajukan mobilnya, lalu melewati sebuah masjid yang tak asing. Ia memperlambat kemudinya dan membuat Afa terlihat heran.
"Ada apa sih bang? Solat ashar di rumah aja ya, masih keburu kok. Afa pengen cepat sampai rumah nih." Gerutu Afa mengira abangnya itu ingin berhenti di masjid itu.
Padahal bukan. Entah mengapa, Safeer masih merasa penasaran dengan keadaan Feera. Bukannya gadis itu izin pulang cepat juga seperti dirinya? Ah, lagi-lagi pikiran Safeer selalu ke sana.
Sampai akhirnya, mobil yang Safeer kendarai sampai di depan rumah yang mereka sewa. Ah bukan mereka yang menyewa. Tapi tuan Alfian lah yang menyewa untuk tiga tahun ke depan buat mereka.
Di saat Afa yang langsung melenggang begitu saja masuk rumah, Safeer masih harus membawa tas berisi pakaian kotor milik adiknya dan juga beberapa obat milik Afa. Begini nih yang ia tak sukai saat di suruh mamanya pindah sekolah dengan alasan menjaga adiknya itu. Hidupnya benar-benar seperti bodyguard saja.
"Nih!" Seru Safeer menyerahkan plastik berisi obat kepada Afa yang kini tengah duduk kursi tamu.
"Makasih bang."
"Hmm," Safeer hanya bergumam dan setelahnya ia pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri sekaligus sholat asar. Pertama yang ia lakukan ialah melepas jaket yang sejak tadi menutupi seragam putihnya, lalu melepas sepatu dan menyimpannya di rak dekat kamarnya.
Setelah selesai asar, Safeer merebahkan tubuhnya sejenak. Menatap langit langit kamar yang ternyata tanpa plafon itu. Namun cukup bersih karena ia tak melihat sarang atau pun kotoran yang menggelantung di sana.
Mengambil ponsel lalu ia teringat sesuatu. Ah, ia lupa untuk meminta nomor Feera. Entah kenapa gadis itu selalu saja menyita perhatiannya. Rasa penasaran yang tinggi begitu menguat saat ia melihatnya. Padahal selama ini, dirinya tak pernah seperti itu pada gadis manapun. Tak mungkin kan ia jatuh cinta pada pandangan pertama? Sepertinya memang tak mungkin. Apalagi mengingat sikap acuh Feera padanya.
Namun, Safeer seolah yakin kalau sikap diam Feera itu menyimpan sesuatu yang besar. Namun entah apa ia tak tahu.
Sampai menunjukkan waktu magrib, Safeer baru sadar kalau sedari tadi dirinya hanya di kamar. Entah melamun atau merenung. Namun ia tak melakukan apa pun. Setelah mendengar panggilan Adzan, ia baru beranjak keluar kamar.
Di depan televisi, adiknya itu sudah senderan saja di lantai dan menikmati beberapa snack ringan yang entah kapan dibeli.
"Widih, lagi nyantai, gak denger suara azan neng?" Sindir Safeer pada sang adik yang bahkan tak berniat untuk bergerak sedikit pun.
"Denger lah, mushola deket rumah ini."
"Terus, kenapa masih santai begitu? Coba kalau di rumah pasti sudah ada barang yang melayang." Sindir Safeer lagi. Pasalnya, dari ketiga anak mama Ziha, sepertinya hanya Afa yang paling sering kena marah.
"Justru karena itu bang, Afa tuh lagi bersyukur. Kenapa Afa nolak disekolahkan di sini. Kalau kenyataanya jauh dari mama bisa bikin Afa bebas." Ucap Afa penuh semangat. Membuat sang kakak malas mendengarnya.
"Ya gak bisa gitu dong Afa sayang, mama kan udah nitipin lo ke gue. Jadi, untuk sementara, lo jadi tanggung jawab gue."
"Ya, dan abang gak bakal berani jewer Afa, apalagi pake lempar barang."
"Tapi gue bisa ancam lo gak bakal kasih uang jajan lo." Seru Safeer merasa menang dengan ucapannya. Dan itu sukses membuat sang adik beranjak dari duduknya.
"Ah, gak asik lo bang."
"Makanya, buruan ambil Wudhu. Keburu habis waktu magrib."
"Ck, Afa lagi halangan. Jadi gak Shalat."
"Oh, bilang dong dari tadi." Jawab Safeer yang kemudian berlalu meninggalkan Afa yang masih menatapnya jengkel.
"Lo gak nanya sih." Seru Afa saat sang kakak itu sudah menghilang di balik pintu rumahnya. "Ish, dasar punya abang sama aja cerewetnya sama emak gue."