"Fa, Hari minggu gini ada acara apa?" Masih pukul tujuh pagi. Saat Safeer sudah bersiap dengan pakaian tapinya. Celana jeans panjang kemeja pendek yang di balut jaket Boomber warna merah.
Sedangkan Afa, sang adik tengah bereksperimen di dapur yang sudah ditata rapi oleh sang kakak. Tentu saja
Afa sudah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk si abang tampannya itu. Dan kini ia asyik dengan adonan tepung dan yang lainnya.
"Gak ada acara pergi-pergi." Jawab Afa santai sambil beberapa kali menuangkan tepung ke adonannya.
"Ikut gue ya!" Ucap Safeer yang kini membuka tudung saji dan menemukan seporsi nasi goreng. Tanpa bertanya ia pun langsung memakannya.
"Kemana?" Tanya Afa penasaran. Namun ia rak juga berpaling dari kesibukannya itu.
"Ke acara baksos teman gue." Jawab Safeer setelah menelan beberapa sendok nasi dari piringnya.
"Males!" Jawab Afa terlihat tak suka.
"Ya udah, gue pergi sendiri. Jangan salahkan gue kalau lo di rumah sendirian ya!" Seru Safeer kembali melanjutkan sarapannya.
"Gue udah biasa di rumah sendirian kali bang. Jangankan di sini, di rumah papa aja paling sering gue kalau sendirian di rumah." Ucap Afa ringan. Memang benar sih Afa lebih sering di tinggal di rumah sendirian karena jarang sekali ikut acara keramaian.
"Ok lah kalau begitu. Gue pergi sendiri ya?"
"Kenapa musti sendiri?"
"Ya lo gak mau ikut kan?"
"Cari teman lain dong, diajak pergi bareng biar motor lo ada yang dibonceng." Kekeh Afa kemudian.
Di saat Afa merasa berhasil mengejek kakaknya yang memang masih jomblo itu, yang ada di otak Safeer malah pergi dan mengajak Feera pergi. Ah, adiknya ini rupanya telah berhasil memberikan pencerahan untuknya.
"Ya udah. Gue pergi!"
"Eh tunggu Bang!" Seru Afa menghentikan pergerakan Safeer yang telah usai menyelesaikan sarapannya. Lalu terlihat Afa yang mengeluarkan lima roti berbentuk bulat. Dengan aroma yang jelas menggoda. "Bawa ini buat temen-temen lo ya! Gue cuma butuh pendapat mereka aja." Ucap Afa menyodorkan hasil pekerjaannya pada sang kakak.
"Widih, seriusan? Tumben."
"Ck, kalau abang pergi siapa yang jadi tester? Mending dibawa sekalian kan?" Tambah Afa lagi sambil memasukkan satu persatu roti buatannya ke dalam paper bag besar.
Dengan semangat, Safeer menenteng roti buatan sang adik. Lalu meletakkan di depannya tanpa.khawatir akan terjatuh. Sepertinya ia sudah terbiasa melakukan hal tersebut. Padahal motor yang ia kendarai kan tak ada cantolan maupun tempat makanan.
Seperti yang Safeer rencanakan. Ia datang ke rumah Feera dengan tujuan mengajaknya pergi. Maka yang dilakukannya pertama kali adalah harus menemui orang tua Feera.
Namun tak disangka. Ia hanya menemukan Feera sendirian di rumahnya. Dan rumahnya sepi.
"Duduk Saf!" Ucap Feera yang terlihat ramah pada dirinya. Hanya duduk di depan rumah dengan kursi seadanya. Namun Safeer sudah merasa senang karena merasa di hargai sebagai tamu.
"Nih!" Safeer menyerahkan salah satu roti dari ke lima roti yang ia bawa.
"Roti?" Ucap Feera yang merasa segan karena dibawakan makanan.
"Iya. Buatan adik gue. Enak kok, dia hobi masak soalnya."
"Makasih ya. Btw, kamu ke sini mau ngapain?" Aelah to the poin banget sih si Feera ini.
"Gue mau ajak lo ke tempat teman gue. Dia lagi ngadain acara baksos gitu. Mau ya?"
"Oh, gimana ya, om sama tante aku lagi gak di rumah soalnya."
"Mereka kemana? Kita tungguin saja gak apa-apa nanti biar aku yang minta izin."
"Ke gereja." Jawab Feera singkat yang sukses membuat Safeer tertegun sesaat. Gereja?
"Gereja?"
"Ya. Sebentar lagi pulang."
Dan setelah itu Safeer tak banyak bertanya. Lebih tepatnya ia sungkan untuk menanyakan perihal agama. Meskipun sebenarnya Safeer cukup penasaran. Jelas-jelas Feera adalah muslim. Lalu?
"Kamu tinggal sama om dan tante kamu?"
"Iya, orang tuaku sudah meninggal. Jadi om dan tante yang merawat aku sejak kecil." Jawaban yang sebenarnya biasa saja. Namun sukses membuat seorang Safeer ikut bersedih mendengarnya.
Dan benar apa yang dikatakan oleh Feera. Di depan sana, sudah datang seorang laki-laki dan wanita dengan sepeda motornya. Lalu dengan hormat Safeer mendekat dan memberikan sapaan tang sopan.
"Pagi om, tante."
"Kamu lagi. Kamu pacaran ya sama si Feera?"
"Bukan Om, dia Safeer teman sekolah Feera, dia kesini mau mengajak Feera ke acara temannya."
Safeer mengangguk membenarkan ucapan Feera dengan penuh harapan agar si paman menyetujuinya. Namun, melihat wajah tak bersahabat dari pamannya itu membuat Safeer berpikir yang bukan-bukan. Apalagi dengan wajah judes tantenya itu.
"Jangan pulang lebih dari jam 12 siang. Kamu tahu kan?" Seru lelaki paruh baya itu, lalu melenggang masuk ke dalam rumah. Tanpa balasan ramah atau yang lainnya.
Feera terlihat tersenyum miris dengan sikap pamannya itu. "Aku ganti baju dulu ya!"
Lalu tak lama kemudian, terlihatlah seorang gadis yang anggun dengan gamis berwarna hijau toska. Lalu, jilbab warna krem yang menjulur sampai atas perutnya. Membuat Feera terlihat sangat cantik di mata Safeer.
Sebenarnya, ia ingin protes karena berharap Feera akan mengenakan celana. Namun bagaimana ia bisa protes kalau pemandangan di depannya seperti ini?
"Kenapa lihatnya kek gitu sih? Tenang aja, aku pake legging panjang, roknya juga lebar jadi aman kalau mau bonceng motor lo." Ucap Feera yang membuat Safeer sadar terhadap pesona gadis itu.
Dan ya, sepertinya Feera tampak nyaman dengan posisinya. Seperti dugaannya kalau gadis itu pasti alan bergeser ke belakang dan enggan berdekatan apalagi berpegangan. Paling cuma pegang jaket doang, itu aja terlihat terpaksa dan ragu-ragu.
Astaga, apa yang di rasakan Safeer sekarang. "Mama bakal marah gak ya kalau gue bawa cewek ke rumah?" Batin Safeer di tengah hatinya yang sedang di landa taburan bunga.
Cafe milik Zen sudah dipenuhi dengan banyak sekali anak-anak seumuran mereka. Di tambah lagi, para anak yatim dan juga para janda tua. Tak jarang para gelandangan yang ingin mendapatkan makanan gratis.
Ya, Cafe Zen kali ini, dibuka khusus untuk memberikan secara gratis pada anak yatim, gelandangan dan orang miskin lainnya.
"Hi Saf? Lo datang? Masuk yuk! Bagian dapur udah kewalahan tuh!" Zen mengajak Safeer masuk, dan Safeer mengajak Feera masuk.
Safeer maupun Feera, mereka semua tampak menyibukkan diri mereka membantu para relawan yang sudah lebih dulu bertempur. Menyiapkan makanan, mulai dari bahan mentah sampai menatanya ke dalam piring. Bahkan ada juga yang melayani untuk membungkus makanan. Sedangkan acara hanya akan berlangsung sampai pukul 10 pagi. Itulah mengapa jam segini masih sangat ramai oleh banyak orang yang membutuhkan makanan gratis.
Jam 10 pagi sudah berlalu, orang-orang pun sudah berkurang. Beberapa dari mereka juga sudah ada yang izin pulang.
Safeer terlihat duduk bersama Zen karena pelayanan sudah bisa di atasi oleh 3 orang saja. Dan itu termasuk Feera yang tampaknya sudah cepat akrab dengan yang lain.
"Lo gak ajak Afa?" Zen bertanya santai. Membuat Safeer mengingat akan suatu hal. Ia segera mendekati motornya dan mengambil roti yang entah mengapa hanya tersisa dua.
"Afa gak mau ikut. Dia nyuruh gue bawa ini, tapi gak tahu perasaan tadi masih empat. Sekarang masih dua." Seru Safeer bingung saat meletakkan paper bag dan membuka bungkusan roti yang berbentuk bulat dengan ukuran yang cukup besar.
"Wah, kelihatannya enak tuh."
"Iya, cobain deh!"
"Eh, kalau gak salah lo kesini bawa cewek kan ya?"
"Awas banget lo." Sahut Safeer dengan nada senangnya. Lalu pandangannya tertuju pada Feera yang juga kelihatan sudah istirahat.
"Oh itu. Pantas aja gue asing lihat mukanya. Gercep banget sih? Belum satu bulan udah bisa gandeng cewek."
"Bawel lo." Sangkal Safeer yang sebenarnya merasa tersanjung dengan apa yang Zen ucapkan. Sebenernya, Safeer sendiri juga gak menyangka kalau hari ini Feera mau diajak keluar rumah. Mengingat gelagat gadis itu yang sulit sekali ia ajak bicara sebelum ini.
Terlihat Feera dan dua temannya datang menuju arah Safeer dan Zen dengan membawa beberapa gelas minuman. Lalu sebentar saja, minuman itu sudah diletakkan di depan Safeer.
"Duduk Feer!" Seru Safeer menepuk kursi di dekatnya. "Kenalin ini Zen teman gue dan ini Feera teman sekelas gue." Ucap Safeer memperkenalkan.
Tak ada salam-salaman hanya anggukan dan senyuman manis di antara mereka. Lalu mereka ngobrol ringan mengenai acara hari ini dan acara yang akan disusun selanjutnya.
Sampai pukul 11 siang. Safeer sudah bersiap untuk pulang beserta Feera. Ia ingat kalau dirinya tak boleh terlambat membawa pulang Feera.
Namun di luar dugaan. Saat Feera malah ingin Safeer membawanya pergi ke suatu tempat. Seolah melupakan pesan pamannya.
Atau memang Feera sengaja? Ah Safeer hanya bisa menurutinya kali ini.