Safeer menatap heran, di mana Feera tengah berdoa di samping sebuah pusara. Terlihat begitu khusyuk dan bersungguh-sungguh. Jujur, Safeer sendiri rak pernah melakukan hal tersebut. Bukan karena ia tak bisa berdoa seperti itu atau karena ia malas. Tapi, karena memang dia belum ada keluarga dekat yang meninggal. Bahkan ke empat kakek dan neneknya masih hidup sampai saat ini.
Sudah pukul 12 lebih. Dan saat itu, bukannya Feera meminta Safeer mengantarnya pulang, tapi malah meminta Safeer untuk meninggalkannya di tempat tersebut. Jelas Safeer langsung menolaknya. Ia yang membawa Feera pergi dari rumahnya, maka dirinya juga yang harus mengantarkan Feera kembali pulang.
"Jika kau ingin pergi ke suatu tempat, katakan lah! Aku akan mengantarmu." Seru Safeer yang masih setia berada di samping Feera.
"Aku tak ingin pergi ke mana pun. Tapi ini sudah lebih dari jam 12. Paman akan memarahi kamu jika kamu mengantarkan aku pulang." Cicit Feera yang terdengar bersalah.
Sedangkan Safeer tak peduli. Seperti apapun Feera menolaknya, ia akan tetap mengantarkan Feera pulang.
Dan apa boleh buat. Gadis itu tak sanggup menolak kegigihan Safeer. Dan dengan begitu, melaju lah motor Safeer sampai di depan masjid.
"Stop Saf! Mending kamu pulang saja." Lagi-lagi Feera menghalangi Safeer yang hendak mengantarkannya sampai rumah.
Tapi bukan Safeer namanya jika dia akan menurut begitu saja. Karena sebenarnya, dirinya juga khawatir akan sesuatu yang bisa saja terjadi pada gadis itu.
Benar saja. Tak perlu mengantarnya sampai rumah. Ternyata pamannya itu sedang menunggu dirinya di depan masjid dan tanpa aba aba langsung menyeretnya masuk ke dalam taksi.
Safeer dapat melihat tatapan murka itu. Bahkan pandangan benci ditujukan tepat di wajah Safeer.
Tak ada yang bisa Feera lakukan, selain berjalan terseok dan merasa terlempar ke dalam taksi. Lalu Safeer? Jelas ia mengikuti taksi tersebut dari belakang.
Hal yang tak pernah ia sangka. Saat taksi yang ia ikuti tersebut menuju sebuah rumah sakit. Membuat Safeer mulai berpikir keras. Untuk apa pamannya itu membawa Feera ke rumah sakit dengan paksa. Padahal, ia tak merasa kalau terjadi sesuatu dengan Feera.
Safeer kehilangan jejak. Ya, yang ia tahu bahwa Feera ada di rumah sakit tersebut. Namun ia tak tahu untuk apa, dan di mana pamannya itu membawa Feera.
Perasaan Safeer memang tak enak. Ia cukup khawatir pada Feera yang sebenarnya ia sadar kalau dirinya sama sekali tak punya hak atas Feera melebihi pamannya sendiri. Tapi, saat mengingat Feera yang enggan pulang saat tadi. Ia yakin kalau akan terjadi sesuatu.
Karena tak juga menemukan di mana keberadaan Feera, Safeer memilih untuk mencari mushola terdekat untuk Shalat Dhuhur. Hal yang selalu diusahakan untuk tidak meninggalkannya. Meskipun Safeer bukan lah lelaki yang begitu taat dan berlama-lama saat menjalankan Shalat.
Air Wudhu membuat hatinya mendingin. Sudutnya membuatnya merasa lebih tenang. Itulah yang dirasakan Safeer saat menyelesaikan Shalat. Ia segera memakai sepatunya dan berniat untuk mencari dimana keberadaan Feera. Ya, tiba-tiba ia ingat ruangan di mana ia pernah melihat paman dan bibi Feera berdebat malam itu.
Belum juga sampai ke tempat tujuannya, Safeer sudah menyaksikan sebuah pemandangan memilukan di depan matanya.
Tepat di depan sana, ia menyaksikan bagaimana Feera yang terlihat lemas. Berusaha berjalan menuju mushola dengan membawa sebotol air minum. Masih dengan pakaian yang sama, Feera terlihat seperti malam itu. Lemah tak berdaya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Safeer berjalan mendekat. Menatap iba pada wajah yang kini malah tersenyum padanya.
"Hey, kau di sini?"
Safeer menatap wajah lelah itu. Tak seperti sebelumnya. Wajah itu berubah pucat dan lemah.
"Hey, kau kenapa bengong?" Lihatlah, bahkan Feera mengatakan hal tersebut seolah olah tak terjadi apa-apa.
"Apa yang terjadi?" Tak ingin berbasa-basi, Safeer menanyakan apa yang sejak tadi ada di pikirannya.
Dan seolah rak terjadi apapun, Feera pura-pura bingung menanggapinya.
"Kamu gak bisa menutupinya. Wajahmu pucat dan tampak lemah."
"Aku hanya lapar saja." Bantah Feera yang membuat Safeer tak bisa mempercayainya begitu saja. "Aku Shalat dulu ya?" Lanjut Feera mencoba menghindar.
Safeer diam untuk sementara. Mengamati langkah gontai milik gadis yang beberapa ini mengganggu kinerja otaknya itu. Pandangan yang entahlah.
Mungkin, kalau dibandingkan, waktu Shalat Feera lebih lama darinya. Tapi tak lebih dari 10 menit Safeer menunggu.
Melihat Feera dengan wajah yang lebih segar. Meski melihat tubuh itu masih lemas.
"Kamu masih di sini?"
"Aku mau ajak kamu makan di kantin."
"Eh?" Belum selesai berbicara, Safeer sudah mendorong lembut bahu milik Feera dan menggiringnya menuju kantin yang letaknya tak jauh dari tempat di mana mereka berdiri.
Safeer sedikit merasa heran, karena setelah makan, Feera kembali seperti semula. Terlihat lebih fresh dan tak lagi lemas. Namun, mana bisa ia percaya begitu saja.
"Kamu habis melakukan donor darah ya?" Ucap Safeer di tengah acara makan mereka. Sebenarnya Safeer sudah memperkirakan ini sebelumnya. Memang apa yang bisa membuat Feera mendadak lemas seperti itu?
Dan Feera menatapnya serius. Seolah membenarkan pertanyaan itu.
"Aku benar kan?" Ucap Safeer memastikan. Dan saat melihat Feera mengangguk lemah, ia mengatakan satu hal lagi.
"Dan malam kemarin? Saat kita bertemu di rumah sakit kamu juga melakukannya bukan?" Tanya Safeer lagi. Memberondong pertanyaan yang selama ini membuatnya penasaran.
Lagi lagi Feera mengangguk lemah.
"Kamu gila?" Seru Safeer meninggi. Ia tahu kalau perkataanya ini sedikit kasar. Tapi ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan gadis di depannya itu bisa membahayakan nyawanya sendiri. "Donor darah itu di lakukan tiga bulan sekali, bukan tiga hari sekali Feera!" Seru Safeer tegas.
"Ya terus? Masalahnya sama kamu apa?" Jawab Feera tak kalah tegas. Dengan ucapan yang mempu membungkam Safeer saat itu juga.
"Ya kamu kan teman aku, jadi aku ngingetin lah." Jawab Safeer dengan nada mengalah. Merendah seolah ia sadar dengan apa yang tadi ia lakukan. Apa ia sudah melewati batas untuk mencampuri urusan gadis itu?
"Aku mendonorkan darah untuk sepupuku sendiri. Dia menderita Thalassemia." Jawab Feera pelan dan penuh keraguan.
"Thalassemia?" Beo Safeer saat mendengar jenis penyakit yang tampak asing di telinganya. Ia bukan dokter tapi ia cukup mengerti kalau penyakit itu memang berhubungan dengan darah.
Lalu tangan Safeer segera mengetikkan kata itu di pencarian Google pada ponselnya. Tertera dengan jelas tulisan itu. Thalassemia adalah kelainan darah yang menyebabkan protein dalam sel darah merah (hemoglobin) tidak dapat berfungsi dengan baik. Kondisi ini cukup banyak dialami, baik oleh anak maupun orang dewasa.
Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit thalassemia. Namun, dengan rutin melakukan pengobatan berupa transfusi darah, penderita thalassemia dapat terhindar dari berbagai komplikasi seperti gagal ginjal, pembengkakan hati dan limpa.
Untuk meningkatkan kualitas dan harapan hidup penderita thalassemia, beberapa negara telah mampu melakukan transplantasi sumsum tulang. Walau pengobatan ini cukup efektif, tindakan transplantasi membutuhkan banyak persiapan, biaya, dan dengan risiko kegagalan yang cukup tinggi.
Safeer menelan ludah kasar setelah membaca artikel dari ponsel pintarnya itu. Tapi ia tetap tak membenarkan apa yang dilakukan oleh Feera. Mendonorkan darah terlalu sering bisa berakibat fatal pula bagi pendonor. Apa itu sebabnya pamannya selalu memaksanya?
Safeer hendak mengatakan sesuatu, sebelum Feera ditarik dan dibawa pergi oleh wanita yang Safeer ketahui bernama Rumi.
Entahlah. Pikiran Safeer kini bercabang. Apa yang bisa ia lakukan untuk Feera. Rasanya tak tega melihat Feera yang dipaksa menjadi bank darah untuk sepupunya.