Waktu sudah menunjukkan sore hari, saat Safeer memasuki pelataran rumahnya. Kalau biasanya ia ia akan masuk begitu saja, kali ini Safeer lebih memilih untuk mengetuk pintu rumahnya sendiri. Adak si Mbok yang membukakan pintu. Dan terlihat jelas raut heran di wajah tua itu.
"Assalamualaikum." Senyum Safeer saat menatap wajah terkejut mulik pembantu rumah tangganya. Bukan hanya itu. Mata tua itu juga menatap sebuah pemandangan berbeda di samping Safeer. Iyalah, bukannya anak majikannya ini pergi dengan sang adik. Tapi kok malah datang membawa perempuan lain? Jangan-jangan?
Sebelum pembantunya itu berpikir jauh tentang dirinya, Safeer sudah menanyakan keberadaan sang ibu, bersamaan dengan ia mengajak masuk sang teman. Ya, untuk saat ini masih teman.
"Nyonya ada di belakang sama den Faheem den." Seru si Mbok masih dengan wajah herannya.
"Feer, kamu duduk dulu ya, aku panggil mama aku." Serunya menatap Feera yang sudah duduk di sofa besar di ruang tamu. Lalu pandangannya beralih ke wanita tua yang tampak subur itu. "Oh ya mbok, tolong, jangan lupa buatkan minum ya!" Seru Safeer kemudian. Lalu ia berlalu dari ruangan tersebut setelah meninggalkan senyum ramahnya pada Feera.
Tak perlu masuk ke kamarnya, Safeer langsung menuju tempat di mana sang mama sedang asyik memotong buah mangga dan di depannya si adik bungsu sudah siap menyantap dengan garpu di tangannya.
"Assalamualaikum?"
"Wa alaikum salam, Safeer? Kamu kok pulang? Afa mana?" Dan nyonya rumah itu tampak antusias sekali sampai menyampirkan ujung jilbabnya ke pundaknya. "Kalian libur sekolah? Kok gak bilang sih?" Ujarnya lagi. Terlihat senyum bahagia dan pandangan rindu di wajahnya.
"Safeer gak pulang sama Afa ma, tapi sama gadis yang pernah aku ceritain ke mama." Ucap Safeer yang sukses membuat Nyonya Ziha menatap putra sulungnya tak percaya.
"Astaga, kamu seriusan? Jangan jangan kamu hamilin anak orang ya?"
"Astaghfirullah, ya gak dong Ma, mana berani Safeer berbuat kayak gitu." Elak sang anak yang sama sekali tak menyangka dengan ucapan ibunya itu.
"Ya terus kenapa sampai kamu bawa dia kemari nak?" Terlihat wajah penuh kesabaran itu melekat di hati sang ibu.
"Mama dengerin Safeer dulu!" Balas Safeer kemudian menceritakan siapa Afa dan apa hubungannya.
Ziha, bukanlah wanita yang penuh emosi. Bahkan ia sangat benci melihat penindasan seperti ini. Bahkan jika itu terjadi pada temannya, ia pasti akan ikut berperang di barisan paling depan. Tapi itu dulu waktu masih muda. Sekarang umurnya sudah tak lagi muda untuk melakukan hal tersebut. Tapi, saat mendengar cerita sang anak, hatinya juga ikut tercabik. Jiwa menolongnya mendobrak ingin sekali keluar.
Setelah memberikan penjelasan buat sang mama, Safeer menggandeng ibunya untuk menuju ruang tamu. Meninggalkan Faheem yang masih asyik dengan mangga di depannya.
Di ruang tamu, terlihat sosok gadis anggun yang duduk sopan di sofa. Berikut jus jeruk dan setoples camilan
yang sudah disuguhkan oleh si Mbok.
"Assalamualaikum?" Sapa Ramah Nyonya Alfian dengan nada yang lembut. Melupakan siapa wanita itu pada mudanya dulu, kini Ziha adalah Wanita keibuan yang sangat lembut dan penyayang. Apalagi menghadapi seorang gadis yang mampu membuat anak lelakinya jadi seperti ini.
"Wa alaikum salam tante," Jawab Feera juga dengan lembut. Tak lupa ia meraih tangan wanita di depannya itu lalu menciumnya sopan.
Mama Ziha tersenyum melihat kesopanan gadis di depannya. Membuatnya berpikir entah berapa kali. Bagaimana ia bisa menolong gadis di depannya ini. Namun, itu juga bukan berarti kalau dirinya ini akan menikahkan putranya yang bahkan beberapa hari lagi baru akan memasuki usia 18 tahun. Bukannya tak setuju. Tapi bagi mama Ziha, usia itu terlalu muda untuk menikah.
Hingga akhirnya, Ziha cukup tenang setelah menemukan celah, alias jalan keluar untuk menolong gadis itu.
"Saya sudah dengar cerita tentang kamu dari Safeer. Yang sabar ya nak!" Ucap Ziha yang dibalas anggukan dari Feera.
Ya Feera mengangguk, merasa tak enak. Bahkan kini pandangannya tertuju pada Safeer seolah meminta penjelasan.
"Jadi, untuk sementara, tinggal lah kamu di sini ya!" Ucap Ziha membuat Safeer tersenyum puas dengan apa yang didengar.
"Tapi tan," Feera hendak menolak. Tapi berhenti karena mama dari temannya itu lebih dahulu memotong.
"Kamu tenang saja. Kamu pasti aman di sini." Putus Ziha yang seperti titah. "Iya kan sayang?" Ucapnya lagi menoleh pada Safeer.
"Iya, kamu tenang aja. Urusan kamu di Bandung biar aku yang urus untuk sementara waktu." Ucap Safeer mencoba untuk meyakinkan.
Sedangkan Feera hanya terdiam. Memangnya ia bisa apa? Sudah terlanjur berada di sini. Ia sudah memilih juga jalan ini bukan? Kembali hanya akan membuat masalah makin runyam dan membuatnya makin sengsara. Mungkin sudah saatnya ia lepas dari mereka.
Lalau Feera tersenyum ragu. Mengangguk dengan perasaan yang entahlah.
"Safeer, antar Feera ke kamar tamu, dan pastikan kamu memberi apa yang dibutuhkan! Mama mau bilang papa dulu." Seru mama Ziha yang langsung beranjak dari ruang tamu. Meninggalkan senyum pada dua pemuda di sana.
"Ok!" Jawab Safeer dengan senang. Ia tahu kalau mamanya itu tak akan bersikap acuh pada orang-orang tertindas. "Yuk!" Ucap Safeer kemudian. Ia mengajak Feera untuk menuju salah satu kamar tamu yang ada di rumahnya. Setidaknya, si Mbok selalu membersihkan kamar tidur setiap harinya. Jaga-jaga kalau ada tamu yang datang.
"Feera sebenarnya masih agak ragu dengan semua ini. Namun ia tak lagi bisa berbuat apapun selain percaya pada pemuda di dekatnya itu.
"Kamu bisa tidur di sini untuk sementara waktu. Aku akan mengurus urusan kamu di Bandung."
"Kamu mau balik ke Bandung?" Tanya Feera dengan nada yang terdengar ragu.
"Ya, dan kamu di sini. Tenang saja. Mama orangnya baik."
"Tapi Saf, aku..." Feera terlihat masih ragu. Mungkin merasa tak enak dengan semua ini.
Tapi, bagi Safeer, ini satu-satunya cara, agar Feera dapat keluar dari jeratan orang tuanya. Dengan begitu, Feera tak akan bisa dijual oleh mereka.
"Percaya sama aku. Aku tahu kalau kita mungkin belum lama kenal. Tapi aku gak pernah main-main sama ucapan aku." Sahut Safeer terlihat begitu serius.
Bahkan sampai Feera pun menatapnya dengan seksama. Menelisik ke dalam mata laki-laki itu. Tak ada sedikit pun kebohongan. Tapi, siapa lah dia. Apa pantas mendapatkan semua ini? Feera hanya bisa diam lalu menunduk.
"Istirahatlah!" Ucap Safeer kemudian. Nanti Si Mbok akan mengantarkan pakaian ganti dan makan malam untukmu." Seru Safeer lagi. Lalu tersenyum meninggalkan Feera yang masih terpaku seorang diri di ruangan tersebut.
Sedangkan Safeer keluar dari kamar tersebut. Ia mempersiapkan apa-apa yang mungkin dibutuhkan Feera. Termasuk ponsel lama yang ia simpan di kamar. Ia memberikannya pada Feera agar dapat menghubungi gadis itu kapan saja.
Selanjutnya, ia akan menunggu kepulangan sang ayah, sebelum ia kembali lagi ke bandung.