Safeer berhenti di sebuah bangunan yang terlihat lama dan seperti tak berpenghuni. Terletak di pinggiran hutan yang hanya dilintasi jalanan aspal panjang menuju desa sebelah. Rumah itu terlihat kokoh meski hanya di bangun dari papan kayu. Namun terlihat sayup karena cat bagian luar sudah banyak yang terkelupas. Apalagi, di sisi kanan dan kiri halaman rumah tersebut, ditumbuhi banyak rumput liar.
Safeer sangat yakin kalau Feera ada di rumah tersebut. Dalam hatinya ia berpikir. Sungguh, orang tua macam apa mereka ini. Menyingkirkan gadis yang selama ini telah memberikan darah untuk anaknya yang lain.
Safeer meninggalkan motornya di bawah mohon besar. Tak lupa mengamankan kunci stang. Lalu berjalan mengendap menuju rumah tersebut.
Mengendap seperti maling. Namun Safeer tak takut akan terlihat mencurigakan karena rumah itu hanya berdiri sendiri tanpa tetangga di sampingnya.
Semakin dekat, ia menuju sisi samping rumah. Mencari jendela yang kemungkinan bisa membuatnya masuk dari arah lain.
Seperti dugaan Safeer. Terdengar suara kemarahan luar biasa dan semakin kesini, Safeer mendengarnya seperti sebuah ancaman.
Safeer tak masih ragu menunjukkan wajahnya. Sampai sebuah gebrakan meja membuatnya berusaha mencari celah untuk mengintip apa yang terjadi di dalam sana.
Laki-laki itu dengan bengis mengangkat kursi dan melemparkan ke depan. Mungkin jika sasarannya tepat, gadis di depannya itu pasti sudah terluka. Sedangkan Safeer masih diam mengamati sampai kedua manusia itu meninggalkan tempat tersebut. Hanya meninggalkan bungkusan putih yang Safeer ketahui kalau itu adalah makanan yang berasal dari cafe milik Zen.
Untung saja Safeer menyembunyikan motornya di bawah pohon rindang yang tertutup semak-semak. Jadi tak akan ada kecurigaan kalau dirinya tengah mengikuti mereka.
Setelah memastikan kedua orang itu keluar dari rumah tersebut, safeer mencoba mencari celah untuk masuk kedalam rumah. Karena ia sangat yakin kalau semua pintu keluar pasti dikunci oleh mereka. Tak ada orang yang bodoh untuk membiarkan seorang tawanan kabur dengan membiarkan pintu tanpa terkunci.
Safeer menemukan sebuah jendela yang cukup besar. Hanya saja dipalang dengan beberapa kayu dan dipaku dari luar. Cara mudah agar si tertahan tak bisa membukanya dari dalam. Namun cara itu malah membuat dirinya bisa menyelamatkan Feera dengan cukup mudah. Ya, memangnya cuma Ibunya saja yang bisa melakukan hal seperti ini. Mencabut papan beserta paku-paku bisa ia lakukan tidak lebih dari 20 menit.
Pergerakan Safeer cukup berhasil mendapatkan perhatian dari satu satunya penghuni rumah tersebut. Ya Feera sudah menatapnya dengan cemas namun penuh akan kekaguman. Bisa dibilang Safeer adalah pangeran berkuda putih yang datang di waktu yang tepat.
Benar saja. Sepuluh menit kemudian, jendela itu berhasil ia buka. Dan menemukan sosok gadis yang hampir satu minggu ini tak ia temui. Feera, gadis itu tampak lebih buruk dari sebelumnya. Masih dengan piyama tidur yang memanjang di tubuhnya. Bahkan jilbab bergo yang ia pakai pun tampak tak beraturan sampai membuat beberapa anak rambutnya keluar dari sana mengganggu dahi dan pipinya yang mulus.
"Safeer?" Suaranya lemah. Namun syarat akan rasa lega yang terdengar.
"Feera! Ayo keluar!" Ucap Safeer terburu-buru.
"Tapi." Seru Feera yang masih terlihat ragu.
"Kalau kamu ingin mendapat siksaan lagi maka aku tak akan memaksa kamu." Lanjut Safeer yang sepetinya sudah tak tahu lagi ingin mengatakan apa pada Feera yang malah terlihat ragu. Tidakkah cukup dengan semua yang dilakukan orang tuanya? Safeer saja tak tahan melihatnya.
Namun pada akhirnya Feera mengangguk. Keluar dari tempat tersebut dengan tergesa. Sebenarnya yang membuatnya ragu adalah lelaki itu. Apa ia yakin Safeer akan membawanya dalam keamanan? Yakinkah ia membawa laki-laki yang bukan siapa-siapanya itu untuk mengajaknya kabur? Bagaimana jika ini nanti malah akan menjadi masalah yang cukup besar.
"Kamu tenang aja. Aku akan membuatmu aman jika itu yang kau takutkan." Dan seperti tahu apa yang dipikirkan gadis itu, Safeer segera membawa Feera menuju motornya dan segera meninggalkan tempat tersebut.
Berjalan melewati hutan atau alas yang rindang. Lalu menembus ke jalanan besar kota Bandung. Membuat Feera sendiri bingung dengan Safeer. Mau dibawa kemanakah dirinya ini?
Dan saat hendak menuju kota, Safeer mampir ke toko helm. Membeli sebuah helm berwarna pink dan memberikan pada Feera.
"Pink?" Ujar Feera tak mengerti. Kenapa sampai Safeer membelikannya helm segala? Seperti akan melakukan perjalanan jauh saja.
Dan yamg membuat Feera heran adalah, perjalanan yang mereka tempuh begitu jauh sampai setelah satu jam, Safeer baru mengajaknya turun ke sebuah toko yang cukup besar. Sebuah toko pakaian dan di beberapa tempat adalah kedai makan.
"Kamu pilih lah celana panjang dan baju yang nyaman untuk kamu."
"Tapi Saf?"
"Kamu gak berniat mempermalukan diriku dengan penampilanmu yang seperti ini kan?" Ucap Safeer sedikit pedas namun sama sekali tak bermaksud untuk menghina.
Bahkan, ia meminta izin pada pemilik toko agar mengizinkan Feera menggunakan toilet. Untuk sekedar membersihkan diri dan berganti pakaian. Ya semua pakaian dari yang dalam sampai luar.
Safeer tersenyum puas. 30 menit tak sia-sia ia menunggu. Feera terlihat begitu segar dan sangat cantik dengan pakaiannya. Apalagi ditambah pashmina yang menghiasi kepala gadis itu. Sungguh membuat remaja itu terpesona.
Bukan hanya itu. Safeer juga mengajak Feera untuk masuk ke kedai makan. Mengisi perut sebelum melakukan perjalanan lagi.
Sedangkan Feera sudah terlihat aneh dengan teman sekelas yang belum lama ia kenal itu. Seperti mereka ini akan melakukan perjalanan jauh saja.
Bahkan, setelah mereka selesai makan, Safeer tak lupa mengisi bensin motornya dengan full. Justru membuat Feera benar-benar merasa sedang diajak kabur oleh laki-laki di depannya ini.
Perjalanan semakin jauh. Dan mengingat plang hijau yang merupakan petunjuk jalan, Feera sadar kalau dirinya ini dibawa ke luar kota.
"Kita mau kemana?" Seru Feera keras. Karena ia tahu di perjalanan, angin akan mengurangi suara yang bisa didengar oleh Safeer.
"Membawamu ke tempat aman." Jawab Safeer ringan. Seolah di kepalanya sudah ada tujuan yang benar-benar matang. "Pastikan ponsel kamu mati agar tak ada yang bisa melacak dirimu." Lanjutnya lagi juga dengan suara keras sedikit menoleh ke kanan.
"Aku gak bawa hand phone."
"Bagus kalau begitu."
Sudah tiga jam. Dan di sini Feera safar kalau Safeer membawanya ke Jakarta. Ia tak ingin protes sekalipun. Bisa lolos dari keluarganya yang selalu mengekang bahkan ingin menjualnya itu, sudah membuatnya cukup tenang.
Mungkin lebih lima jam perjalanan. Karena mereka beberapa kali singgah untuk istirahat. Dan kini Safeer berhenti di sebuah rumah yang tampak megah dari luar.
"Kita di mana?" Ucap Feera dengan suara tercekat. Jelas ia tak tahu apa-apa.
"Ini di rumahku. Ada mama sama papa aku di dalam." Jawab Safeer menambahkan senyum. "Ayo masuk!"
"A a pa?" Dan Feera tampak tergagap dengan kenyataan di depannya. Mana pernah ia berpikir kalau Safeer akan membawanya ke rumah ini di Jakarta pula. Sungguh Feera tak tahu lagi harus apa.