Hari minggu. Hari di mana merupakan hari yang selalu ditunggu tunggu oleh sang adik. Afa, gadis itu lebih bersemangat bangun pagi di hari minggu, ketimbang di hari masuk sekolah.
Kalau minggu kemarin, Safeer sudah disuguhi roti dan nasi goreng, pagi ini Safeer sudah melihat tumpukan pancake lezat dengan lelehan madu di atas buah apel yang diletakkan di ujung tumpukan pancake itu. Menggiurkan.
Dengan senyum bangga, Safeer siap duduk di meja makannya, sedangkan sang adik masih sibuk dengan kompornya sambil bersenandung ria.
"Buat apa lagi si Fa?"
"Dadar gulung isi ayam. Mau bang?"
"Mau-mau aja sih, tapi apa kamu ini gak boros bahan makanan? Ini udah ada yang manis masih buat yang gurih."
"Afa juga buat sambal asam manis buat cocolan." Nah kan, adiknya ini kalau masak tak ada yang ketinggalan.
"Bisa tekor suami kamu nanti kalau punya istri kamu."
"Enak aja, ya malahan bangga dong, punya istri pinter masak."
"Iya, jatah masak satu minggu kamu habisin dalam sehari." Sahut safeer sambil mencomot pancake buatan sang adik yang tak pernah mengecewakan lidahnya.
"Ya nyari suami yang tajir dan gak pelit dong. Kayak bang Safeer." Jawab Afa tak mau kalah.
"Iya, iya, suka suka kamu deh."
"BTW, pacar abang kok gak diajak ke sini lagi sih?" Pertanyaan Afa yang sukses membuat perasaan Safeer kembali terasa aneh.
"Pacar?" Sahut Safeer menanggapi ucapan adiknya. Seolah-olah ia tak tahu apa yang dimaksud oleh Afa. Padahal ia jelas tahu. Hanya Feera yang dimaksud.
"Udah putus?" Seru Afa tiba-tiba membuat Safeer menatapnya kaget. Putus? Jadian aja belom. "Yah gagal nikah muda dong?" Dan kali ini suara Afa lebih seperti ejekan baginya.
Masih dengan kaos oblong dan celana pendek, Safeer meninggalkan meja makan sambil membawa pancake yang tinggal setengah. Mendengarkan perkataan sang adik membuatnya berpotensi mengingat hal hal yang terjadi berkaitan pada gadis mualaf itu.
"Bawain kopi s**u ke depan ya!" Seru Safeer sebelum benar benar pergi.
"Yee, malah pergi." Dan sang adik hanya bisa mendengus lalu berjalan untuk mengambil gelas dan menyiapkan dua gelas bening di dekat kompor.
Afa terlihat mematikan kompor dan mulai menata hasil masakannya. Lalu meletakkan dua gelas ke dalam nampan kecil. Menyeduh dua gelas kopi s**u dan membawanya ke depan.
"Makan gorengan pagi-pagi sambil menikmati kopi s**u. Silakan!" Ucap Afa yang kini sudah mendaratkan makanan dan minuman di meja bundar dekat sang kakak yang masih menyantap pancake buatannya.
Safeer mendongak. Menatap sang adik yang terlihat ceria. Tapi Safeer yakin kalau adiknya ini belum mandi.
"Yang satu buat siapa? Kok kopinya dua?"
"Ya buat gue lah, emangnya lo doang yang doyan." Jawab Feera menatap kesal dengan pertanyaan kakaknya ini. Lagian diapa lagi yang ada di sini selain ia dan kakaknya. Dia di sini bukan babu ya, jadi boleh dong menikmati hari libur ini dengan santai.
"Pagi-pagi udah nyemil sambil ngopi. Mandi dulu sana!" Seru Safeer mengibaskan tangan di depan Afa.
"Enak aja, Afa udah mandi ya." Sahut Afa tak terima. Lalu duduk di kursi teras yang hanya ada dua biji itu. Bersiap menyeruput kopinya setelah menghirup aromanya.
"Gak mungkin. Masih bau apek." Bantah sang kakak.
"Iya lah, gue mandinya tadi sore." Jawab Afa tak peduli. Ia mulai menyantap apa yang sudah ia masak.
"Mana ada tadi sore, yang ada kemarin sore." Ejek Safeer pada sang adik yang masih santai saja di sampingnya. Tak peduli apa yang dikatakan olehnya. Bahkan masih santai dengan kopi dan cemilannya. Ah dasar adiknya siapa sih ini?
Safeer meminum kopinya dan beranjak dari sana. Meninggalkan Afa yang bahkan tak protes dengan apa yang ia lakukan. Rupanya Afa terlihat sibuk memosting kegiatannya pagi ini si sosmed miliknya.
Sampai Safeer kembali ke depan rumah dengan pakaian rapi dan celana panjang. "Pagi pagi sudah posting foto tapi tang posting belum mandi." Ejek Safeer yang kemudian mengeluarkan motor miliknya dari dalam rumah.
"Bodoh amat ah, mau kemana lo bang?" Dan kini lebih tertarik dengan apa yang dilakukan kakaknya dari pada membahas dirinya yang masih cantik meski belum mandi.
"Mau ngapel lah, ini kan hari minggu." Jawab Safeer yang terdengar tak menyenangkan di telinga Afa.
Tapi Afa diam. Ia tak mau membalas ucapan sang kakak sampai kakaknya benar benar pergi dan tinggal ia sendiri di rumah. Sudah biasa. Afa juga tak protes akan hal itu. Selama ia dikasih pegangan maka ia aman dan akan diam. Pegangan duit ya, bukan tiang. Enak aja ditinggal di rumah tanpa uang. Itu sama saja p********n namanya.
Di saat Afa yang tak peduli dengan kesendiriannya di rumah, Safeer terlihat gusar karena belum punya tujuan yang pasti.
Sudah hampir satu minggu. Dan setiap pulang sekolah ia selalu menyempatkan dirinya ke rumah Feera yang bahkan masih saja terlihat kosong sampai terakhir ia ke sana.
Ingin rasanya ia kembali ke sana. Akan tetapi, mengingat selalu kekecewaan yang ia dapat, maka ia urungkan dan lebih memilih untuk menelepon Zen. Dan sepertinya kali ini ia akan datang ke cafe milik temannya itu seorang diri. Mengacuhkan lontaran pertanyaan yang akan di tanyakan oleh Zen mengenai kesendiriannya. Tak apa, setidaknya ia bisa melakukan hal bermanfaat hari ini.
Dan benar saja. Cafe milik Zen sudah ramai dengan para pengunjung yang antri untuk mendapatkan makanan gratis. Tanpa menunggu perintah dari Zen, Safeer berjalan mendekat lantas mencuci tangannya agar ia bisa ikut dalam melayani para pengunjung yang memang membutuhkan.
Semua berjalan lancar, Safeer kini mendapatkan bagian menuang sayur oada piring seng berwarna silver itu. Yang ditatap hanya piringnya. Sampai sesuatu membuat pergerakannya berhenti.
"Saf! Itu!" Sampai seseorang yang lain mengingatkannya. Membuat Safeer kembali menuangkan satu centong sayur oada pengunjung tadi. Meski tangannya tak berhenti bergerak, tapi matanya menatap lurus ke satu pandangan. Yaitu pada pasangan yang kini terlihat sedang duduk di salah satu meja yang dekat dengan pandangannya.
Ya, Safeer sadar benar siapa yang tadi ikut mengambil makanan gratis didepannya. Kedua orang tua Feera. Laki laki itu, mengapa bisa sampai ikut mengunjungi tempat ini. Lalu di mana Feera.
Setidaknya hari ini Safeer mendapat petunjuk baru.
Acara belum sampai selesai saat Safeer sudah izin pulang dengan alasan ada urusan mendadak. Tapi bukan itu. Safeer sengaja menunggu ke dua pasangan suami dan istri itu menghabiskan makanannya lantas ia akan bersiap untuk mengikuti laki-laki itu.
Ini akan sedikit mudah karena laki-laki itu juga menggunakan motor. Cukup Safeer membuntutinya dari belakang, ia sudah berharap besar dapat menemukan Feera kali ini.
Perjalanan yang dilalui mereka bukanlah jalan menuju rumah mereka. Bahkan bukan juga menuju rumah sakit. Saat seperti ini lah Safeer yakin bahwa mereka pasti sedang menuju di mana Feera berada.
Safeer terlihat bersemangat. Dengan hati-hati ia mengikuti dari jarak aman agar tak ketahuan.