Satu ucapan dari sang mama yang sampai sekarang masih diingat Safeer. Ditulis dengan sebuah pesan singkat. Berisi bahwa dirinya boleh menikah dua tahun lagi. Tak ada penawaran. Titik.
Sudah beberapa hari ini, Safeer bahkan sama sekali tak melihat keberadaan gadis itu. Mungkin sudah tiga hari. Bahkan ia menyempatkan diri untuk bertanya pada guru. Dan jawaban bahwa Feera sedang sakit membuatnya semakin galau saja.
Bahkan, seseorang yang ia mintai tolong untuk mencari Feera juga tak membuahkan hasil. Maka bertambah lah dilema di hatinya.
Pagi ini, Safeer berangkat sekolah seperti biasa. Ya, kembali seperti anak baru yang hanya tertuju pada pelajaran yang ada di depannya. Tak seperti biasannya yang sudah merencanakan apa yang akan ia lakukan setelah jam pelajaran usai.
Safeer masih fokus mengerjakan soal-soal matematika yang diberikan oleh gurunya. Sampai sebuah suara membuatnya berhenti untuk menuliskan angka-angka yang ia susun di buku coretan miliknya.
"Akhir-akhir ini semangat lo hilang, lo sakit?" Rupanya Petra masih terlihat simpati pada Safeer. Menatap teman sebangkunya itu dengan heran. "Pulang sekolah ikut gue yuk." Seru Petra sambil menyenggol bahu temannya itu.
Ajakan Petra cukup membuat Safeer tertarik. Ia sendiri bingung dengan apa yang akan ia lakukan sekarang ini.
"Kemana?" Tanya Safeer penasaran. Siapa tahu ia diajak ke tempat yang bisa membuatnya sedikit lebih tenang. Asal bukan tempat yang tak ia sukai sih
"Ada deh, kali aja bisa bikin lo jadi semangat lagi." Seru Petra dengan nada pelan.
"Yakin? Bukan tempat terlarang kan?" Tanya Safeer memastikan. Dengan nada yang super pelan karena guru matematika masih memandang siaga pada setiap muridnya.
Petra sedikit tertawa pelan mendengar jawaban Safeer. "Gak lah, lo gak usah mikir yang aneh aneh. Gue juga gak bakal berani pergi ke tempat yang bukan-bukan." Tambahnya masih dengan terkikik pelan. Sampai ia mendapati sebuah pensil melayang ke arahnya.
Bukan hanya Petra, Safeer juga terkejut melihatnya. Ah, rupanya guru matematika di sini garang juga.
"Kalian bisa diam tidak?" Dan seketika Safeer, petra, bahkan seluruh isi kelas menjadi hening. Tak bersuara atau lebih tepatnya tak ada yang berani bersuara.
Safeer lebih memilih meneruskan untuk mengerjakan soal-soalnya dan segera mengumpulkan hasil pekerjaannya. Dengan begitu, ia bisa keluar terlebih dahulu untuk menuju mushola. Ya kini ia berada di jam istirahat ke dua.
Safeer memilih untuk segera menyelesaikan Shalat Dhuhur. Di sanalah dirinya bertemu dengan ustadz Attar.
"Assalamualaikum Tadz!" Sapa Safeer sopan. Menyapa gurunya dengan sopan.
Laki-laki muda itu membalasnya dengan senyum ramah. "Wa alaikum salam."
Safeer ingin menanyakan sesuatu yang masih tersimpan di otaknya. Namun, ia ragu kalau ustadz Attar akan menjawabnya.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?" Nah kan, apa Ustadz ini memiliki membaca wajah, hingga tahu apa yang terjadi pada Safeer.
Safeer tersenyum. Seolah ia kini tengah membenarkan apa yang diucapkan oleh ustadz Attar.
"Apa ustadz tahu jika terjadi sesuatu dengan Feera?" Ya, melihat beberapa kali ustadz nya ini mengajar Feera mengaji, sepertinya ustadz Attar mengetahui beberapa hal yang tak ia ketahui.
"Apa yang ingin kamu ketahui tentangnya?" Bukannya menjawab, ustadz Attar malah kembali bertanya. Masih dengan memasang wajah penuh senyum.
"Feera di paksa orang tuanya untuk mendonorkan darah pada saudaranya. Namun itu sudah berlebihan karena terlalu sering "
Sedikit terkejut. Tapi, pemuda yang di panggil ustadz Attar itu tersenyum pada Safeer. "Semoga Allah selalu melindunginya." Dan balasan itu sama sekali tak membuat Safeer puas. Malah merasakan khawatir yang lebih.
Safeer masih termenung di depan mushola sedangkan ustadz Attar sudah pergi meninggalkannya. Sesekali menengadah menatap langit seolah memandang iba pada dirinya sendiri. Safeer mengapa kau sampai seperti ini hanya karena gadis yang belum lama ini kau kenal?
Sampai sebuah seruan Petra membuatnya kembali tertunduk. Menatap bumi, di mana dirinya berpijak. Di mana ia sadar bahwa Ia hanya manusia biasa yang tak bisa menolak apa itu garis Tuhan.
"Dari tadi gue cariin, malah melamun di sini. Sambil menatap langit lagi. Kenapa? Lagi minta apaan sih?" Seru Petra yang kini ikut duduk di samping Safeer.
Safeer diam. "Entah lah."
"Jangan jangan lo seperti ini karena lo jatuh cinta sama si anak pendiam itu ya?" Tebak Petra yang mendapatkan tatapan penuh tanya dari Safeer. "Iya kan? Apalagi?" Tambah Petra.
Hanya saja Safeer masih diam tak menjawab. Ia sendiri tak yakin dengan apa yang dirasakannya sekarang. Sungguh terlalu dini untuk menyebutnya cinta.
Sungguh, Safeer sedikit menyesal karena menghabiskan waktu istirahatnya untuk melamun dan mengobrol dengan Petra, sampai bel kembali masuk dan ia sama sekali belum makan siang. Akhirnya hanya membeli roti dan air putih untuk mengganjal perutnya.
Kembali ke kelas dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh guru Biologi. Lalu setelah jam pelajaran akan berakhir, guru itu tak lupa untuk memberikan tugas untuk murid muridnya.
"Yaah," Suara desahan Petra bahkan terdengar jelas di ruangan kelas.
"Buka begitu caranya mendesah Petra." Dan seruan guru Biologi itu sukses membuat seluruh isi kelas terbahak mendengarnya. Tidak ketinggalan pula Safeer yang ikut merasakan mendapat hiburan di kelasnya.
"Ya gimana pak yang bener?" Dan dengan tak tahu malu, Petra malah menanyakan hal tersebut, sehingga membuat kelas kembali rusuh.
"Saya kasih tahu kamu caranya juga percuma."
"Kenapa percuma pak?"
"Ya karena kamu gak bisa praktekkan." Dan lagi-lagi isi kelas menjadi lautan tawa. Ah begitulah menyenangkannya berkumpul bersama-sama dengan teman sekelas.
Pelajaran selesai, Dan Petra menepati janjinya untuk mengajak Safeer ke suatu tempat.
Bukan ke Klab, bukan ke tempat karoke atau tempat balapan seperti yang biasa anak muda lakukan di jaman sekarang.
Petra mengajak Safeer ke sebuah studio music. Dan yang tak pernah Safeer pikirkan ialah, saat Petra mengatakan kalau tempat itu milik orang tuanya. Hanya saja. Sudah lama sepi dan tinggal menunggu sewa tempatnya habis.
Dulu, tempat itu, sering disewa vanyak remaja. Tapi kini sepi dan tak ada peminat. Oleh karena itu, Petra mengajak Safeer untuk main ke tempat ini.
"Mainkan sesukamu! Entah kamu bisa atau tidak. Biasanya suara alat musik bisa memacu semangat kita." Tutur Petra yang sama sekali hanya seperti ocehan belaka.
Terlihat Petra yang sembarangan menabuh drum. Menghasilkan suara yang hancur namun Petra terlihat menikmatinya.
Sampai sampai Safeer menutup kedua telinganya sambil berteriak. "Aku akan menyewa tempat ini." Lalu suara hantaman Drum berhenti seketika.
"Tidak usah. Kita main-main saja di sini. Kau boleh mainkan apapun sesukamu." Jawab Petra menolak.
Safeer tersenyum lalu memasang gitar listrik sesuai cara yang ia tahu. Sebentar kemudian, ia mulai memetik senar.
Bahkan Petra pun tak menyangka jika Safeer bisa memainkannya.