"Semangat bener yang mau sekolah?" Seruan saat Safeer sudah duduk di meja makan, saat Afa saja masih mengenakan piyama tidurnya. Iya, ini masih jam enam pagi. Tapi Safeer sudah siap dengan seragam dan tas sekolah miliknya. Sedangkan sang adik, masih dengan piyama menyelesaikan menggoreng telur dadar dan menata nasi untuk sang kakak.
"Perasaan gue semangat terus kalau berangkat sekolah." Sahut Safeer tak terlalu peduli.
"Mentang-mentang sekarang aku naik motor sendiri kan? Abang pasti mau jemput kak Feera deh." Lanjut Afa dengan senyum mengejek yang tak luntur.
Safeer menatap Afa tak percaya. Mengapa adiknya itu bisa tahu niat terselubungnya berangkat pagi. "Kamu tahu dari mana?"
"Beuh, dari tatapan muka lo bang. Udah jelas ketara." Jawab Afa yakin.
"Sok tahu kamu ah." Elak Safeer menutupi kegugupannya. Eit, pagi-pagi udah diledekin sama adik sendiri.
Afa mengendikan bahu lalu berlalu menuju kamar mandi meninggalkan kakaknya yang sedang menikmati sarapan buatannya.
Sedangkan Safeer, segera menghabiskan sarapan miliknya lalu pergi meninggalkan rumah setelah berpamitan dengan sang adik. Lewat teriakan pastinya.
Seperti apa yang di katakan Afa tadi, Safeer pagi ini pergi ke rumah Feera. Berharap gadis itu mau diajak berangkat sekolah bareng. Tapi apa yang ia lihat? Rupanya rumah itu sudah sepi. Perasaan ia sudah berangkat sangat pagi supaya bisa menjemput Feera. Apa Feera sudah berangkat sekolah?
Safeer menghembuskan nafas pasrah lalu putar balik. Menuju sekolah dan mengira kalau Feera pasti sudah berangkat terlebih dahulu.
Masih jam setengah tujuh. Sekolah masih terlihat sepi. Namun sudah ada beberapa murid yang juga sudah masuk ke kelas. Namun satu hal yang tak Safeer temukan. Ia tak melihat keberadaan Feera.
Hanya karena gadis yang belum tentu ingin ia kenal. Sampai membuat Safeer gak fokus untuk mengikuti pelajaran. Ah, siapa sih gadis itu sampai membuatnya seperti ini?
Ketidak hadiran Feera di sekolah, membuat Safeer seperti ingin gila saja. Saat bel pulang sekolah berbunyi saja, ia dengan cepat mengemasi bukunya dan segera pergi meninggalkan sekolahan. Bahkan panggilan Petra saja tak digubris sama sekali.
Dan tujuan Safeer pastilah sama dengan tadi pagi. Ke rumah Feera. Keadaan yang tak berubah dari tadi pagi, membuat Safeer seperti penguntit di rumah orang. Setelah mastikan rumah itu memang tak ada penghuninya, ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Menemui paman dan bibinya Feera.
Ya, satu satunya pilihan terakhir adalah rumah sakit tempat sepupunya dirawat. Di mana Safeer pernah mendapati paman dan bibi Feera ada di sana.
Hanya saja, setelah sampai tujuan, bukannya ia menemukan gadis yang ia cari tapi malah mendengar pembahasan kedua pasangan suami istri itu yang benar-benar membuatnya ingin marah sampai ke ubun-ubun.
Bagaimana bisa seorang paman, ingin menjual keponakannya sendiri agar uangnya bisa ia gunakan untuk pengobatan putri mereka. Ini benar benar sudah di luar batasan.
Akhirnya dengan perasaan campur aduk, Safeer pulang ke rumah. Tapi bukan Safeer namanya kalau ia menyerah begitu saja. Ia memang hanya anak SMA biasa. Kini hanyalah seorang siswa madrasah biasa. Namun lihatlah jika ia sudah bertindak.
Di sisi lain, suasana malam yang mencekam, membuat gadis cantik itu terlihat resah. Berulang kali menata jilbabnya yang bahkan masih terpasang rapi di kepalanya.
Jelas, wajah ketakutan itu begitu ketara di mimik mukanya. Dia Feera gadis itu. Tak henti hentinya ia melafalkan istighfar dalam hatinya. Ia sangat takut jika kejadian tiga tahun lalu itu akan terulang kembali. Kejadian yang menghancurkan hidupnya sehancur-hancurnya.
Benar apa yang dikatakan pamannya itu. Berniat pulang malam tak akan membuatnya lolos dari ancaman laki-laki yang seperti orang tua baginya itu. Menjelang Subuh saat dirinya terbangun, ia sudah berada di sebuah ruangan berbeda. Dan ia sangat yakin itu adalah ulah dari pamannya. Selama ini, Feera menganggap paman dan bibinya adalah orang tua mereka. dan Yesa adalah adiknya sendiri. Namun, dengan semua yang ia dapatkan selama ini sangatlah tak seperti itu.
Sebenarnya, bukannya ia tak mau menolong yesa adiknya. Tapi dirinya terlalu lelah. Hampir di semua lengannya penuh bekas tusukan jarum. Sebenarnya pamannya ini menganggapnya apa? Peringatan suster untuk mencari pendonor lain saja tak dihiraukan. Bahkan hampir setiap minggu dirinya harus mendonorkan darahnya untuk sang sepupu. Bagus kalau asupan makannya dipenuhi. Bukannya dipenuhi, pamannya itu hanya baisa memaksa dan mengancam. Selebihnya ia akan sama seperti sampah yang di buang setelah digunakan.
Dan Feera sendiri tak menyangka jika pamannya itu serius ingin menjualnya. Kini apa yang bisa ia lakukan selain berdoa dan hanya meminta pada Tuhan agar menyelamatkan hidupnya. Ia selalu berharap akan ada seseorang yang membawanya pergi dari cengkraman sang paman.
Sedangkan di bagian tempat yang lain, Ucapan seorang laki laki remaja yang mampu membuat gempar siapapun yang mendengar di ujung telepon sana.
Bukan hanya itu. Afa, kini menatap abangnya tak percaya, saat sedang video call mama, papanya dan langsung mengatakan kalau abangnya ini ingin menikah.
Lihatlah wajah mamanya itu. Terbengong seketika sedangkan sang papa hanya diam dan malah menatap anaknya dengan bangga.
"Bang? Lo ngelindur ya?" Itu ucapan Afa yang langsung memegang kening sang kakak. Tapi terasa aman.
Bukannya menjawab pertanyaan sang adik, Safeer kembali menatap layar ponselnya. "Ma, Pa, Safeer serius."
Ya, Safeer sengaja menghubungi ke dua orang tuanya untuk memberitahukan hal ini. Hal yang jelas-jelas di luar perkiraan keluarganya.
Tak ada yang mempermasalahkan tentang nafkah yang akan menjadi tanggungan Safeer, karena itu jelas bukan masalah. Tapi apa ini tak terlalu mendadak meskipun ingin menikah muda? Hey dia masih SMA.
Dan jelas yang dipertanyakan oleh keluarganya adalah siapa gadis yang ingin dinikahi oleh anak sulung mereka.
Tidak, Safeer tak menyesal meskipun ia telah mendapatkan ceramah panjang lebar dari sang ayah. Ya, setelah menutup telepon dan kembali ke kamarnya, Tuan Alfian menghubungi anaknya secara sepihak. Memberikan banyak pencerahan dan nasehat yang harus dipikirkan kembali. Tapi Safeer masih dengan keputusannya. Ia bahkan sudah membayar mahal untuk hal ini.
Safeer menceritakan vanyak hal tentang gadis itu. Meskipun tindakan menolong Safeer itu benar, tapi cara yang ia gunakan belum tentu baik untuk dirinya maupun Feera.
Entahlah, Safeer sendiri bingung. Ia tak tahu keberadaan gadis itu. Rasa khawatir menyelimuti hatinya. Sungguh tak seperti biasanya ia merasakan hal seperti ini. Sebelumnya tak ada siapapun yang mampu membuatnya bertekad sekuat ini.
Safeer banyak termenung malam ini. Ah gara-gara gadis itu. Seorang mualaf yang bahkan kurang dua bulan ia kenal. Sudah mampu membuatnya seperti ini.
Berdiam di kamar. Yang bisa Safeer lakukan adalah memohon petunjuk pada yang Maha Kuasa. Seperti apa yang diarahkan oleh ayahnya.