Apa hanya karena iba? Bukan. Bahkan Safeer sudah beberapa kali sadar kalau ia menyukai gadis itu. Lalu apa salahnya tawaran itu. Ia mampu menghidupi Feera dengan semua usaha yang ia miliki.
Dan gadis itu malah merasa kalau Safeer kini tengah bercanda. Bahkan sekalipun Safeer bertekad bahwa ia bersungguh-sungguh, ia masih di anggap bercanda.
Yasudah lah. Ia akan meyakinkannya nanti. Yang ingin Safeer lakukan sekarang adalah, membawa Feera ke dalam rumahnya.
Memang, terlihat keraguan yang membuat Feera sepertinya enggan masuk ke dalam rumah itu. Gadis itu malah lebih memilih ingin duduk di depan rumah saja.
"Ayo masuklah, tenang aja di dalam ada adik perempuanku jika kamu takut aku akan macam-macam padamu." Ungkap Safeer membujuknya.
Dan setelah mendengar kata adik perempuan, Feera mengangguk dan mau masuk ke dalam. Hey, apa Feera benar benar berpikir kalau Safeer akan macam-macam dengannya.
"Assalamualaikum?" Itu suara Feera, dan dengan lantang, Safeer menjawabnya.
"Wa alaikum salam." Dia juga tuan rumah bukan.
Safeer mempersilakan Feera duduk. Lalu, keluarlah gadis cantik dengan celana training dan kaos panjang dari dalam ruangan. Hey gadis itu terlihat berantakan. Bahkan jilbab hitam yang ia kenakan sudah ia sampirkan di pundak yang sudah berwarna putih karena tepung.
"Ada tamu ya?" Terlihat Afa dengan apronnya menatap kakaknya yang baru pulang dengan wajah sumringah. "Kebetulan dong, Afa masak banyak. Makan yuk kak ajak cewek lo." Begitulah Afa, akan semakin senang jika masakannya ada yang memakan.
"Sini dulu!" Seru Safeer menggoyangkan jarinya menyapu ke depan dan belakang. Meminta adiknya mendekat."
Afa mendekat dengan senyum. Menatap gadis yang juga tersenyum ke arahnya. Lalu berbisik ke telinga abangnya. "Keren lo bang, naru beberapa bulan udah bisa bawa cewek pulang." Ujar Afa pelan.
Lalu ditatapnya sang adik penuh peringatan."kenalin dia Feera, dan Feera ini Afa." Seru Safeer memperkenalkan mereka. Lalu tatapannya kembali pada sang adik. "Tolong kasih dia baju kamu yang bersih ya, abis itu kita makan." Balas Safeer dengan nada ramah. Tapi memang seperti itu sikap Safeer kepada adiknya.
Afa mengangguk. "Yuk kak!" Lalu membawa Feera masuk ke dalam kamar sederhana miliknya.
Sedangkan Safeer, masuk ke dalam kamarnya sendiri. Untuk berganti baju. Belum juga ia menyelesaikan ritualnya, Afa sudah terlebih dulu menerobos masuk ke kamarnya. Menatap Safeer dengan pandangan penuh tanya.
Safeer semakin bingung ketika melihat sang adik yang malah menelan ludah kasar. "Kenapa sih?"
Afa menyeret kakaknya untuk menjauh dari pintu kamar. Lalu berbisik dan mengatakan sesuatu yang tak pernah Safeer sangka sebelumnya.
"Punggungnya gosong semua, dan sepertinya itu gak mungkin sebuah tanda lahir. Pasti itu akibat pukulan deh bang."
"Masa sih? Kamu yakin?"
Afa mengangguk pasti. Membuat Safeer berpikir, apa selama ini Feera juga mendapatkan k*******n dari pamannya itu? Padahal, kelakuan pamannya di tempat umum saja sudah sangat keterlaluan.
"Ya udah, kamu pura-pura aja gak tahu." Seru Safeer pada sang adik yang hanya di tanggapi dengan endikan bahu.
Afa keluar kamar kakaknya dan mendapati pintu kamarnya juga terbuka.
"Hai kak Feera, makan yuk, aku siapin dulu ya?"
Feera tersenyum dengan sikap baik Afa. "Aku bantuin ya!"
Lalu Afa mengangguk senang. Mendapat teman baru di rumah ini adalah hal yang menyenangkan. Biasanya kalau di malas di rumah sendirian pasti akan datang ke restoran milik omnya tapi sekarang? Teman hanya jika di sekolah. Semuanya serba baru termasuk teman temannya.
Safeer sendiri tak menyangka kalau ke dua gadis itu cepat sekali akrabnya. Hingga dengan senang ia ikut bergabung di ruang makan yang kecil. Meja bundar yang hanya terdapat empat kursi di sekelilingnya.
"Seneng banget masakan gue bisa habis."
"Ini enak banget serius. Ajarin aku buatnya dong."
"Boleh banget. Sering sering aja kak Feera main ke sini. Pengen masak apa saja bakal aku ajarin deh pokoknya."
"Wah, kamu pinter masak ya rupanya."
"Dia kan koki." Nimbrung Safeer saat mendengar percakapan seru mereka.
"Enak banget kamu Saf, punya koki di rumah." Ucap Feera yang kini terlihat bahagia. Safeer Tersenyum senang, akhirnya gadis itu bisa sejenak melupakan pelik hidup yang ia alami.
"Kak Feera nginep sini dong! Tidur di kamar aku. Pasti seru." Seru Afa yang sepertinya enggan melepas teman barunya.
Hal yang ingin ia ungkapkan tapi ternyata sudah diucapkan oleh adiknya sendiri. Namun Feera terlihat bingung menanggapi tanggapan Afa.
"Karena orang tua kamu gak ada di rumah, mending kamu tidur sini deh Feer." Tambah Safeer yang malah membuat Feera bingung mau menjawab apa.
Feera tersenyum. "Lain kali aja ya." Jawab Feera yang membuat Afa dan juga Feera mendesah kecewa.
Makan malam telah selesai..mereka juga menghabiskan waktu dengan obrolan ringan sampai waktu menunjukan pukul delapan malam. Tak ada pilihan lain selain Safeer harus mengikuti kemauan Feera untuk mengantarkannya pulang.
Safeer memilih menggunakan mobilnya, karena udara malam dan suasana yang gelap. Ia sendiri bingung merasa tak ingin mengantarkan Feera pulang. Bukan karena ia masih ingin bersama gadis itu, tapi karena ia khawatir dengan Feera.
"Kamu yakin ingin pulang?"
"Iya." Jawab Feera yakin. Membuat Safeer malah merasa khawatir sendiri.
"Tapi paman kamu?" Ucap Safeer tak sanggup melanjutkan.
"Gak apa-apa." Jawab Feera ringan.
Meskipun begitu, Safeer masih tak tega mengantarkan Feera walau hanya sampai masjid saja. Jadi Safeer berinisiatif untuk mengikuti Feera dari belakang.
Tak ada yang ia cemaskan. Rumah itu terlihat sepi. Sepertinya paman dan bibi Feera pergi dan tak ada di rumah. Cukup lama Safeer menunggu setelah Feera memasuki rumah tersebut. Tak ada apapun. Membuat Safeer sedikit lega lalu berbalik pulang.
Rumah yang Safeer tempati bersama sang adik memang tak memiliki garasi kusus untuk mobil. Hanya saja memiliki pagar yang tingginya hanya satu meter saja. Dan hanya ada sebuah bangunan beratap dengan empat tiang kecil yang bisa melindungi mobilnya dari hujan. Sedangkan untuk motor, akan ia masukkan ke dalam rumah yaitu di ruang tamu.
Sesampainya di rumah, Safeer langsung diberondong banyak pertanyaan dari sang adik. Afa yang mengira kalau Feera adalah kekasih sang kakak. Dan Safeer yang dengan keras menolak ungkapan itu. Namun bukan Afa kalau tidak membuat rusuh dan terus menggoda kakaknya itu.
"Gue bilang mama ah, Bang Safeer udah berani bawa pulang cewek."
"Eh, Apaan? Gak. Dia cuma temen sekelas."
"Yakin? Gak naksir?"
"Ya kalaupun naksir gak masalah dong." Sahut Safeer sewot. Capek meladeni adiknya itu. "Kalau lo berani bilang yang nggak-nggak sama Mama, uang saku lo gak akan gue keluarin." Tambah safeer mengancam.
Cukup dengan begitu, Afa akan dengan rendah diri menyimpan ponselnya dan mengalah. Sebenarnya ia sendiri bisa kok pegang uang jajan di ATM. Tapi bokap dan nyokapnya lebih memilih abangnya itu yang mengatur keuangan. Biar dirinya itu nurut sama si anak kesayangan.
Padahal ia adalah anak gadis satu-satunya dari pasangan nyonya Ziha dan tuan Alfian. Lalu mengapa malah dirinya itu yang sering diatur? Huh menyebalkan.
Safeer mendekati sang adik yang terlihat malas berdebat lagi. "Kalau kamu lapor Mama, bisa-bisa gue di suruh balik ke Jakarta. Lo mau sendirian di sini?"
Afa menggeleng keras. Karena ia sadar. Di luar uang saku yang di pegang sang kakak. Ia bisa meminta apa saja dengan uang kakaknya itu. Termasuk motor yang ia dapatkan hari ini.