Tugas telah selesai. Petra terlihat puas dan ia lebih dulu mengemasi barangnya. Itu berarti bahwa Safeer harus mengantarkan Feera pulang sesuai ucapannya tadi.
Namun tak sesuai yang sudah diperkirakan Safeer. Karena nyatanya, Feera menolak ajakannya. Meminta Safeer untuk pulang terlebih dahulu dan meninggalkannya di sekolah dengan alasan masih ada yang ingin ia lakukan.
Ah, Safeer lupa, ada ekstra untuk para murid yang belum lancar membaca Al-Qur'an.
Safeer masih ingat saat ia pertama kali masuk ke sekolah ini dan diuji untuk membaca Al-Quran. Jelas ia sudah fasih, mamanya selalu mendidiknya belajar membaca Al-Qur'an sejak ia masih kecil.
Memang bukan Safeer namanya kalau menyerah begitu saja. Apa ia harus mengakui bahwa hatinya tertarik pada Feera. Lihatlah sekarang! Safeer lebih memilih menunggu Feera diparkiran ketimbang pulang dan istirahat. Ah ya, ia bahkan lupa kalau hati ini motor pesanannya akan di antar ke rumah. Atau entah sengaja karena Safeer juga telah membayarnya.
Hampir satu jam berlalu. Setelah menutup telepon dari Afa tentang motornya yang sudah datang, Safeer memilih untuk kembali mengelilingi sekolahan yang bahkan jam sekarang masih terlihat ramai. Seperti kampus saja. Padahal di sekolahnya dulu, saat bel pulang sekolah berdenging, maka seluruh siswa pasti sudah ingin meninggalkan kelas dan segera pergi dari sekolahan. Di sekolahnya dulu jarang ada pelajaran tambahan. Kalau ingin maka murid akan disarankan bimbel pribadi atau di luar sekolahan. Yang artinya mereka harus membayar sendiri.
Beberapa ruangan kelas sudah sepi. Sebenarnya sekolahan ini lebih kecil dari sekolahannya yang dulu. Mungkin tak ada setengahnya malah.
Hanya terdiri dari tiga kelas dan masing masing kelas ada 3 ruangan. Seperti kelas IX A, IX B, IX C dan seterusnya. Berbeda dengan sekolahannya yang dulu. Setiap ruang kelas sembilan saja ada delapan ruangan. Belum setiap tempat mata pelajaran yang memiliki masing-masing lab. Ruangan untuk masing masing pelajaran kesenian. Mulai dari menyanyi, musik, sampai menari. Bahkan kantin saja sudah seperti aula. Namun Safeer tak pernah mengeluh akan tempat sekolahannya. Tempat sekolah tak menjamin kesuksesan seseorang bukan?
"Dasar perempuan gak tahu diri." Suara kasar itu membuat Safeer sadar kalau sekarang dirinya tengah berada di dekat lorong toilet sekolah.
"Kamu sadar gak sih, kamu itu siapa? Jangan sok deh!" Suara itu makin meninggi. Terdengar jelas di telinga Safeer yang kini tengah mendekati asal suara.
Dan benar seperti apa yang ia duga. Pembullyan di sekolah bukanlah hal asing bagi Safeer. Namun ini akan terlihat sangat buruk baginya karena yang ia lihat adalah Feera yang tengah didorong secara kasar oleh Syafa. Gadis cantik itu bisa terlihat brutal di tempat lain rupanya.
Apa Safeer harus marah? Tidak. Ia malah hanya diam mematung menyaksikan kejadian tersebut. Dan saat pandangan mereka bertemu, Syafa bahkan terlihat tenang dan santai seolah tak ada kejadian apapun. Syafa terlihat yakin menepuk bahu Feera lantas mengucapkan ucapan yang tak mampu Safeer artikan.
"Belajarlah lebih mendalam tentang islam." Seru Syafa yang kemudian tersenyum pada Safeer. Sedangkan Feera menunduk patuh tak berdaya.
Safeer lebih memilih untuk mengejar Feera yang pergi dengan cepat, di banding meladeni kegenitan Syafa.
Terlihat saat Feera memasuki mushola. Hanya sebentar sebelum ia keluar lagi dengan membawa tas gendong dan beberapa buku paket di tangannya.
Disusul dengan keluarnya juga seorang ustadz yang jelas Safeer kenal. Pak Attar Afriz guru ilmu Qur'an dan Hadist di kelas IX dan X. Bukan kelasnya sih.
Safeer mendekat. Lalu menyapa guru yang merupakan guru sekaligus anak dari guru mengajinya di jakarta itu.
"Assalamualaikum ustadz?" Seru Safeer ceria.
"Safeer? Ternyata benar kamu sekolah di sini?" Jawab pak Attar yang sebenarnya, usia mereka hanya terpaut empat tahun saja.
Safeer mengangguk membenarkan. Sebenarnya tujuannya kemari adalah ingin menanyakan banyak hal tentang Feera.
"Apa Feera sering mengikuti pengajian di sini?" Tanya Safeer tak ingin berbasa-basi.
Ia melihat tatapan heran dari wajah pemuda itu. Ia jadi ingat dengan ucapan Afa kemarin.
"Kamu menyukainya?"
"Hah? Dia teman sekelas saya Tadz, hanya saja dia pendiam."
Ustadz Attar tersenyum. Senyum yang tak bisa Safeer jelaskan. Seolah menyimpan teka-teki yang perlu penjabaran.
"Selama tiga tahun ini, ia jarang absen di pengajian ini."
"Tiga tahun?"
"Dia bahkan belajar mengaji dengan cepat. Mungkin menjadi seorang mualaf membuatnya bersemangat mengetahui tentang islam."
"Mualaf?" Beo Safeer tak tahu.
"Iya, dia seorang mualaf. Masuk islam sekitar tiga tahun ini kalau tidak salah."
Safeer hanya mengangguk paham. Tak ingi menanyakan hal lain. Itu sebabnya ia segera berpamitan dari tempat tersebut. Berbalik dan mengejar gadis mualaf itu.
Safeer segera mengambil motornya saat mendapati Feera rupanya sudah berada di luar gerbang sekolah. Lalu, dengan cekatan berhenti di samping Feera yang terlihat sedang berjalan cepat menuju tempat penantian angkot.
Tak seperti biasanya, saat rayuannya itu berhasil. Kali ini, Feera benar benar seperti menghindarinya. Gadis itu lebih memilih naik angkot umum dari pada membonceng di belakangnya. Kasian sekali kau yang diacuhkan.
Padahal, saat Safeer mengikuti angkot tersebut, Feera langsung menuju rumahnya dan tak pergi kemanapun.
Hanya sampai di depan masjid. Safeer tampak dari jauh melihat Feera memasuki jalanan kecil menuju rumahnya. Ia tersenyum lega dan hendak menyetir motornya sebelum mendengar suara jeritan kesakitan dari arah sana.
Mata Safeer melotot seketika. Belum juga sampai rumah, paman Feera sudah menghampirinya dan memberikan tamparan keras. Bahkan Safeer sampai meringis melihatnya.
Jelas, kali ini ia tak ingin tinggal diam. Saat Feera diseret masuk, ia berhasil mencegahnya. Ia tahu Feera sebenarnya ingin menolak. Namun ia tak sanggup.
Dengan tekat yang kuat, Safeer menarik Feera dari pamannya. Membawa gadis itu pergi. Awalnya Safeer pikir Feera akan menolak. Namun nyatanya gadis itu memilih menaiki motornya dari pada patih saat diseret kasar oleh pamannya.
"Kalau kau berani pergi, aku pastikan akan menjual dirimu lagi." Apa itu ancaman?
Safeer tahu, kini Feera terlihat ragu. Namun sebelum Feera turun lagi dari motornya, ia sudah lebih dulu menyetir motornya dan meninggalkan pamannya yang kini tengah memaki dan berteriak mengucapkan sumpah serapahnya.
Safeer tak tahu akan kemana membawanya. Sampai saat dia mengentikan motornya di taman kota yang jaraknya bisa dibilang cukup jauh dari rumah Feera.
Sepotong es krim dan sepotong coklat, ia meminta Feera menunggunya di taman untuk membelikan makanan tersebut.
Dari kejauhan tampak sekali bagaimana wajah muram itu. Bahkan pipinya masih tampak merah akibat tamparan lelaki tadi. Entah mengapa melihatnya membuat Safeer merasa tak tega.
Safeer menyodorkan es krim dan coklat. Berharap Feera memakannya dan melupakan apa yang kini dirasa. Namun itu sepertinya hal yang mustahil. Buktinya, bukannya memakan eskrim tersebut, Feera malah meneteskan air mata. Ia menangis dalam diam. Ingin sekali Safeer memeluknya. Tapi ia ingat batasan. Gadis itu bukan siapa-siapanya. Bukan Afa yang akan ia peluk karena dimarahi mamanya.
"Kamu bisa menceritakan padaku? Ke apa dengan semua ini?"
"Kenapa kamu membawaku pergi Saf?" Bukannya menjawab, gadis itu malah balik bertanya dan membuat Safeer merasa tak mengerti harus menjawab apa.
"Bagaimana aku bisa melihatmu diperlakukan seperti itu?"
"Aku sudah terbiasa. Memang apalah arti diriku? Bisa hidup dan sekolah saja harusnya aku bersyukur bukan?"
Miris. Safeer mendengar jawaban itu dengan susah menelan ludahnya. Kita memang harus bersyukur. Tapi kita bisa memilih jalan untuk diri kita sendiri.
"Semua manusia memang harus bersyukur. Tapi bukan dengan pasrah saat kau diperlakukan tidak adil."
"Mereka hanya ingin anak mereka bertahan hidup lebih lama."
"Ya, tapi bukan dengan cara menyakiti orang lain, hidup itu ada di tangan Allah." Jawab Safeer tegas.
"Berdoa, setiap waktu, sudah aku lakukan. Tapi, dia tak juga sembuh. Hingga akhir-akhir ini, Dia harus menjalani transfusi darah hampir setiap hari." Ucap Feera frustasi. Terlihat gadis itu ingin mengucapkan apa yang ia rasakan selama ini. Safeer hanya diam dan mendengarkan mencoba mengorek lebih dalam apa yang dirasakan gadis itu.
"Mereka akan menjual diriku lagi jika aku terlambat memberikan darahku. Aku ini seperti sampah Saf, aku bukan siapa-siapa. Bahkan aku juga tak punya siapa-siapa."
"Allah Selalu bersamamu."
"Tiga tahun lalu, Allah tak bersamaku." Ucap feera membuat Safeer tak setuju.
Safeer menggeleng. "Allah tetap ada di hatimu. Percayalah, bahwa setiap kamu bernapas Dia selalu ada di dekatmu."
Tangis Feera pecah. Dan saat itulah Safeer mendengarkan banyak kisah dari gadis di depannya.
Kisah pilu yang hampir membuatnya tak mampu lagi mendengarkannya.
Bagaimana seorang anak yatim piatu yang dipaksa untuk mendonorkan darahnya pada sang sepupu. Bagaimana seorang gadis berusia 16 tahun yang di jual ke lelaki lain hanya karena membangkang. Dan parahnya uangnya untuk berobat sepupunya.
Hati Safeer ikut teriris mendengarnya. Gadis di depannya, yang selalu diam dan menyendiri itu ternyata menyimpan masa kelam yang luar biasa.
Feera, yang ditinggalkan kedua orang tuanya saat masih berumur tiga tahun. Di asuh oleh paman dan bibinya. Bagaimana uang orang tua Feera yang habis hanya untuk pengobatan sepupunya yang di nyatakan terkena penyakit parah sejak berumur 15 tahun. Dan seketika hidup Feera hancur.
Pemerkosaan yang dialaminya bukan hanya membuatnya trauma. Ia sudah merasa kalau dirinya bagaikan sampah bagi paman dan juga bibinya. Sampai saat paman dan bibinya sudah tak memiliki apa-apa lagi. Mereka tinggal di rumah sewaan kecil di belakang masjid. Saat itulah Feera mulai mengenal islam.
Suara Adzan, suara lantunan ayat Al-Qur'an membuatnya tenang. Dan saat lulus SMP ia memutuskan masuk Islam. Ia senang karena paman dan bibinya tak peduli akan hal tersebut.
Hanya saja, kehidupannya tak semakin membaik. Semakin lama, sepupunya semakin parah dan membutuhkan transfusi darah lebih sering. Membuat Feera tak bisa berkata-kata apa lagi selain menurut. Bahkan setelah berhasil memberikan darahnya, paman dan bibinya itu tak akan peduli dengan kondisi Feera yang lemas bahkan perlu asupan makanan. Ia kembali menjadi sampah.
Safeer tercekat. Serasa ikut merasakan sayatan yang tak terlihat.
"Aku akan menjadi teman kamu. Janganlah sungkan meminta bantuan dariku." Memang apa lagi yang bisa Safeer ungkapkan?
Feera menggeleng. Lalu kembali terdiam.
"Menikahlah denganku!" Entah kerasukan dari mana, sampai Safeer mengucapkan kalimat tanpa ia sadari.