Afa menggerutu kesal setelah pulang sekolah. Dan Safeer hanya diam melihat tingkah sang adik yang terus mengeluh dengan tempat tinggal yang sekarang mereka tempati.
"Abang ngerasa nggak sih kalau Afa tuh beneran dibuang sama Mama." Dengan kesal Afa membuang tasnya di atas kursi kayu yang berjejer rapi di ruang tamu rumah tersebut.
Bukanya menjawab, Safeer malah mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana.
"Udah gitu nih ya bang, saat MOS besok Afa di suruh bawa perlengkapan solat, udah kayak mau kawin aja pake seperangkat alat solat." Kali ini Afa mendaratkan bokongnya di atas kursi dengan keras. Alhasil, dia sendiri yang kesakitan.
Lagi lagi si abang masih diam, namun tetap mendengarkan gerutuan adik kandungnya yang masih saja mengerucutkan bibir. Ah Afa memang mirip sekali dengan mamanya. Safeer jadi rindu dengan ibundanya yang berada di belahan kota lain.
"Lagian ya, kenapa juga kita pake dikontrakin rumah di sini. Rumah bik Inah aja lebih bagus lhooh dari rumah ini." Lagi lagi Afa masih saja mengeluarkan kejengkelan yang ada di hatinya.
Kali ini Safeer meletakkan i phone miliknya. Mengedarkan pandangan ke segala sudut rumah. Rumah yang akan ditinggali terlihat rapi. Semua barang tertata dengan teratur. Ada sebuah televisi tabung yang Safeer pikir masih layak pakai. Di dekatnya berdiri sebuah kipas angin yang tampaknya masih baru. Lalu ada 3 kamar dan sebuah kamar mandi yang semalam Safeer lihat juga bersih.
Memang tak semewah rumah mereka di jakarta sih. Tapi tempat ini cukup nyaman baginya. Meskipun memang cat didinding rumah ini sudah rusak warnanya. Dan kotor di beberapa tempat.
"Afa!" Panggil Safeer Lirih penuh dengan kasih sayang seorang kakak pada adiknya. "Rumah ini bagus lhooh, cuma butuh dicat ulang aja. Hari minggu nanti biar abang yang beresin." Lanjutnya dengan tenang. Supaya sang Adik tak lagi mengomel gak jelas.
"Kenapa kita gak di suruh ngekos aja sih. Atau uang papa juga gak bakalan habis hanya untuk membelikan kita sebuah apartment."
"Ya kalau ngekos kita gak bisa satu rumah dong? Nanti siapa yang bakal masakin abang kalau rindu masakan Om Rangga? Dan Apartemen di kota ini tuh, letaknya jauh dari sekolahan kita Afa,"
"Ish." Decak Afa sebal. Satu hal kelebihan Afa dari mamanya. Afa paling jago kalau disuruh masak. Beda sama Mamanya.
Dulu, Afa suka sekali makan masakan resto maupun rumahan. Tapi karena masakan Mamanya hanya masakan rumahan yang rasanya berubah sesuai mood, jadi Afa dengan semangat belajar masak dari om Rangga sejak umur 10 tahun. Jadi, meskipun Safeer bisa memasak, namun kemampuannya masih di bawah Afa.
Kakak beradik itu sama sama jago berantem. Meskipun tingkatan Safeer lebih tinggi dari Adiknya, ia tak pernah menunjukan kemampuannya seperti adiknya yang sedikit sedikit berantem.
***
Ajaran keluarga mereka masih terus melekat meskipun jarak memisahkan. Safeer mengulurkan tangan pada sang Adik untuk dicium usai melaksanakan solat Magrib. Ah bukan dicium tepatnya. Karena Afa hanya menempelkan tangan sang Kakak di jidatnya. Itupun di pelipis bukan dahi. Tentu saja karena Afa ingin segera beranjak dari tempatnya.
"Afa lapar bang, di rumah gak ada apa apa." Kata Afa sambil mengerucutkan bibir tipisnya.
Safeer menghela nafas panjang. Dia benar benar tak bisa bebas apalagi bermalas-malasan seperti biasanya.
Seolah dia memang ditugaskan untuk menggantikan tanggung jawab sang ayah pada Afa adiknya. Yah meskipun bukan tanggung jawab mencari Nafkah. Karena semua keperluan dirinya dan Afa selalu rajin mengalir ke rekening milik Safeer. Walaupun Safeer mampu menghasilkan pundi pundi rupiahnya sendiri, sang Papa, Alfian Lazuardi tak pernah absen setiap bulanya untuk mentransfer jatah anak anaknya.
"Ya udah kita keluar rumah cari makan, sekalian belanja buat kebutuhan rumah." Jawab Safeer enteng saat berdiri dan melepas sarung yang ia kenakan.
"Rumah ini gak ada kulkasnya bang, bakalan repot kan kalau mau nyimpen bahan makanan."
"Ya udah, nanti kita beli."
"Afa juga mau oven listrik sama microwave."
"Nanti sekalian beli oven listrik. Tapi untuk microwave jangan dulu soalnya beban listriknya tinggi kan?"
Lagi lagi Afa mengerucut kesal. Tapi tak apa deh. Yang penting dirinya masih bisa melakukan hobinya meski jauh dari rumah. Afa tau uang abangnya banyak.
"Uang saku Afa abang yang pegang kan?"
"Iya."
"Mana?, Afa di kasih Atm tapi gak ada isinya. Papa payah nih"
"Mau abang kasih harian apa mingguan?"
"Ya elah bang, kayak kerja kuli bangunan aja, bayaran harian sama mingguan. Jatah Afa kan di kasih papa bulanan."
"Kalau di kasih bulanan ke kamu, nanti belum akhir bulan udah abis dan kamu minta lagi"
Afa tersenyum meringis. Memang itu benar adanya.
"Ya udah, mingguan aja."
"Ok, nanti sekalian kita cari atm, kamu siap siap gih!"
Afa mengenakan sepatu sneaker putihnya dan juga memakai jeans di kaki jenjangnya. Di tambah sweater rajut yang pas di badanya. Lalu di balut cardigan panjang untuk menyamarkan lekuk tubuhnya. Lalu hijab pasmina panjang yang membuatnya tak kalah cantik dari mamanya pas jaman muda.
Sebuah motor sport telah menunggu Afa di depan rumah sederhana pilihan mamanya. Tentu saja Mamanya yang menentukan tempat tinggalnya. Siapa lagi?
"Kok motor abang bisa dibawa kesini? Motor Afa gak boleh sih?, Itu juga mobil Abang boleh di sini." Ucap Afa kesal sambil menenggerkan kedua tangannya di pinggang kanan kiri.
"Kita kan cuma disuruh bawa satu Mobil Afa," jelas Safeer.
"Itu kenapa motor abang bisa ada di sini, kemarin afa minta Motor afa di bawa kesini gak boleh sama Mama." Afa semakin ngotot karena kesal. Berasa orang tuanya pilih kasih.
"Ini kan motor abang beli pake uang sendiri. Jadi ya terserah dong mau di bawa kemana aja"
Afa mendengus kesal. Ah sekaya apa sih kakaknya ini.
"Udah ayo naik. Gak usah sok ngambek. Ngambek gak bikin kenyang Afa, adik abang yang paling cantik."
"Iya lah adik abang yang satunya kan cowok. Mana bisa cantik." Jawab Afa asal saat menaiki motor merah milik kakaknya itu. Catat ya Afa. Milik kakaknya sendiri. Bukan pemberian dari orang tua seperti motor punya Afa.
Dan Safeer hanya menanggapi dengan kekehan pelan.
Sepeda Motor itu melaju dengan lumayan cepat. Membelah jalanan kota yang ramai dengan kendaraan bermotor lainya. Untung Afa memakai celana jeans. Jadi bebas naik turun motor setinggi itu. Lebih tepatnya sih Afa gak suka memakai gamis. Bahkan gamis yang ia miliki aja hanya gamis couple keluarga yang dibuatkan mamanya.
Afa memperbaiki letak helm di kepalanya. Lalu membuka kaca helm sambil merasakan angin yang menerpa wajah cantiknya. Afa suka sekali dengan jalanan. Suka dengan udara luar dan kebebasan. Ia sangat menikmati waktu seperti ini.
"Suatu saat nanti Afa mau nikahnya sama pembalap motor aja deh." Serunya keras supaya di dengar sang kakak.
"Paling paling kamu dijodohin sama ustad kalau gak ya anaknya ustad." Jawab Safeer enteng yang mendapat hadiah tamparan mulus di pundaknya dari sang adik.
Dan sang kakak tertawa lepas mengetahui raut kesal adiknya. Sedangkan Afa masih tak perduli. Ia ingin memiliki suami yang bisa memberinya kebebasan suatu hari nanti.