Memang sih, tak seperti supermarket besar di Jakarta. Namun, Afa cukup puas dengan semua yang ia butuhkan bisa ia dapatkan di toko swalayan tempatnya berada kini. Sedangkan sang kakak hanya diam menunggu di dekat kasir.
Tak apalah buat Afa. Ia lebih senang memilih daftar belanjaannya sendiri dari pada harus dibuntuti orang lain termasuk Kakaknya sendiri. Kan yang penting pas mau bayar ada duitnya. Memang begitulah para perempuan. Sebelum ada lelaki yang pantas ia plorotin, eh plorotin uangnya ya, bukan celananya. Maksudnya suami. Hendaknya kalau gak ayah ya saudara yang wajib di plorotin uangnya . Ck, ajaran siapa juga ini.
Afa mulai menumpuk belanjaan di troli yang ia dorong sendiri. Tanpa berfikir berapa harga yang harus ia bayar untuk belanjaannya. Afa terus saja mengingat ingat beberapa barang kebutuhannya agar tak ada yang ia lupakan. Mulai dari perawatan tubuhnya, pakaiannya, hingga makanan yang jadi kesukaannya.
Troli hampir saja penuh dan Afa sepertinya sudah lelah mendorong troli dari ujung supermarket sampai ke depan kasir.
Dan Safeer, tak begitu perduli bahkan untuk membantu sang adik mendorong troli. Ia malah menunggu sang adik di depan kasir.
"Sudah?" Ucapnya singkat saat sang adik berhenti di sampingnya. Tepatnya di depan kasir.
"Udah capek." Jawab Afa yang memang benar adanya. Ia tak berharap sang kakak akan membawakan belanjaannya Karena memang ia tak butuh bantuan itu. Yang ia butuhkan sudah dilakukan sang kakak, yaitu berada di depan kasir saat ia akan membayar belanjaannya.
"Harusnya tadi kita gak bawa motor ya Fa?" Gerutu Safeer saat melihat belanjaan sang adik yang pastinya akan memakan tempat karena mereka memakai sepeda motor.
"Gak lah, Afa suka naik motor kok." Jawab Afa yakin.
"Yakin mau bawa semua ini pakai motor?" Lagi lagi Safeer memberikan pandanganya pada tumpukan troli yang mulai dipindai oleh pegawai kasir.
"Ya gak lah, abang kan bisa bagi rejeki sama gober." Sambung Afa yang di pikir Safeer ada benarnya juga. Ah bisa aja adiknya ini.
"Ya udah, kamu order deh!" Seru sang Kakak pada adiknya yang tengah sibuk menata belanjaannya.
"Wah, nanti dulu kali bang, perut Afa belum diisi nih." Jawab Afa mengelus perut ratanya.
Dengan gemas Safeer mengusap kasar jilbab di kepala sang adik. Membuat si empunya cemberut karena tatanan jilbabnya jadi berantakan.
"Ayo!" Ajak Afa dengan semangat.
Beginilah Afa. Meskipun tubuhnya terlihat kecil, namun memang dia adalah pecinta kuliner nomer satu di keluarganya. Makanya dia jadi hobi masak.
Safeer bahkan tidak lagi heran ketika meja di depanya dipenuhi dengan menu menu pesanan sang adik.
Mulai dari seafood, olahan ayam sampai sup daging. Semua itu akan di lahap adiknya dengan santai. Sedangkan dirinya hanya memesan semangkuk soto ayam yang terlihat segar jika dicium dari aromanya
"Gue mau ke toilet bentar." Ucap Safeer tiba tiba di tengah lahapnya Afa menikmati makanannya.
Safeer beranjak dan berjalan santai menelusuri toko toko yang berjejer di Mall besar tersebut. Masih dengan langkah pelan dan mengedarkan pandanganya sampai ia melihat sosok orang yang ia kenal.
Sorang gadis yang memakai jilbab panjang dengan gamis yang menjuntai sampai mata kaki. Safeer yakin itu adalah Feera teman sekelasnya. Namun Safeer heran melihat temanya yang tampak terburu buru itu.
Niat hati mau menuju toilet, malah kakinya melangkah mendekati gadis yang sepertinya akan keluar Mall itu.
"Hai!" Safeer menyapa Feera yang hanya menanggapinya dengan senyuman sekilas. Lantas melanjutkan perjalananya menuju pintu keluar.
"Kamu gak kenal aku?" Masih saja Safeer berusaha. Karena sikap acuh Feera benar benar membuatnya penasaran.
"Maaf ya, emm kamu anak baru di kelasku kan? Aku buru buru nih." Jawaban yang diberikan Feera dengan senyum tulus membuat Safeer makin penasaran.
"Mau pulang? Biar aku anter?" Tawar Safeer penuh semangat.
"Trimakasih, tidak usah. Saya sudah ada yang jemput. Permisi, Assalamualaikum." Lagi lagi senyuman Feera membuat Safeer makin penasaran dengan gadis yang selalu pendiam di kelas itu.
"Aku mau bicarain tentang ekstrakurikuler di sekolah." Tambah Safeer saat melihat Feera yang begitu acuh padanya.
Feera berbalik, dan memberikan senyum manisnya. Namun tak ada jawaban sampai Feera meninggalkannya dengan sebuah taksi.
Safeer menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu berbalik memasuki Mall mengingat ia juga tengah meninggalkan seorang gadis di dalam sana.
Dan seperti yang Safeer pikirkan. Bukanya ngambek saat di tinggal lama, Afa dengan santainya malah menambah pesanannya tanpa perduli kenapa kakaknya tak kunjung kembali dari toilet.
" Lho? Soto gue mana?" Heran Safeer setibanya di meja makan saat mendapati soto yang tadi di pesan sudah lenyap dari hadapannya.
"Bentar," Afa menoleh ke salah satu pelayan dan menganggukkan kepala "Mbak!" Seru Afa yang di balas anggukan dari pelayan laki laki. Sesaat kemudian Soto mengepul datang di hadapan kakaknya.
"Kok?" Gerutu Safeer heran.
"Udah, Abang makan aja soto abang. Afa mau ke toilet, abis itu kita pulang!" Sahut Afa mengacuhkan keheranan kakaknya. Lalu beranjak dari meja sebelum menoleh sebentar, "Jangan lupa bayar ya!" Lanjut Afa lalu berbalik meninggalkan meja makan.
Safeer menghembuskan nafas sedikit kesal, lalu memakan sotonya yang masih mengepul. Niat hati meninggalkan sotonya ke toilet tadi kan supaya membiarkan sotonya agak mendingin. Kalau begini mah perjuangan banget meniup kuah soto. Ah dasar adiknya ini.
Sebenernya sih Safeer tak masalah dengan tagihan makan malam ini, hanya heran saja bisa banget adiknya makan banyak gini. Perasaan nyokap nya gak gini banget deh. Tuh kan, jadi ingat sama mama di rumah.
Safeer mencoba membuat adiknya ini mau pulang bareng sama gober dan bahan belanjaannya. Sedangkan Afa masih saja ngotot pengen pulang naik motor. Bukan karena takut sendirian di rumah sih, tapi karena memang lagi pingin naik motor. Kalau di jakarta ia belum diizinkan sang papa buat naik motor di jalan raya. Tentu saja karena belum cukup umur. Dan itu membuat Afa kesal. Ia bahkan lebih sering naik ojek online saat pulang dan pergi sekolah dari pada pakai supir pribadi yang disediakan bokapnya.
"Tapi Afa pengen naik motor bang." Rengek Afa yang tak diindahkan sama sekali.
"Besok berangkat sekolah naik motor sama abang, ok!" Bujuk Safeer yang malah membuat Afa makin kesal.
"Abang mau kencan? Baru aja sehari udah dapet gebetan aja." Celetuk Afa asal membuat sang kakak memberikan satu sentilan di jidatnya
"Abang mau temuin teman abang yang ada di Bandung. Lama gak ketemu. Gak lama kok, gak akan pulang terlalu malam." Bujuk sang abang membuat Afa kesal.
"Gak boleh ikut beneran nih?" Protes Afa pada sang kakak.
"Ya gak bisa dong Afa, anak mama paling cantik, abang tadi pesan kulkas sama mesin cuci lho, kalau dianter ke rumah gak ada orangnya gimana?" Sepertinya Safeer menemukan Alasan paling tepat deh.