Dan benar saja, Safeer memang tak berbohong pada sang adik kalau dirinya akan menemui temannya yang berada di Bandung. Dan temannya ini memiliki sebuah Cafe yang cukup terkenal di Bandung ini. Yah, hitung hitung reunian sama teman lama. Dia Zen. Sebutan untuk nama Zenury Abdullah yang sebenarnya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu Universitas di Bandung ini. Awalnya mereka bertemu di sebuah seminar yang membahas tentang dunia bisnis anak muda di Jakarta. Selain sebagai teman, Safeer juga menjadikan Zen sebagai orang yang patut untuk ditiru, dalam hal mengatur bisnis tentunya. Menjalankan bisnis sambil belajar bukanlah hal yang mudah pastinya. Tapi Zen mampu menjalani itu dengan baik.
"Katanya lo bakal lama ya di sini?" Zen terlihat sangat semangat saat temannya itu menyempatkan diri untuk mengunjunginya.
"Satu tahun mungkin. Itu pun kalau nyokap gue gak nyuruh gue kuliah di sini." Jawab Safeer sembari menyeruput kopinya.
"Nyokap lo emang keren bisa buat lo nurut banget kayak gini."
"Lo tahu? Lebih banyak orang yang bilang Keren ke nyokap gue dari pada ke bokap gue." Seru Safeer yang di hadiahi kekehan oleh temannya itu.
"Lo katanya sama adik lo? Kok gak di ajak, takut dia naksir gue ya?"
"Asal aja lo. Yang ada kebalik kali. Lagian udah malam juga gak baik cewek keluar malam malam begini."
"Ini nih contoh kakak yang patut ditiru."
"Ada ada aja lo Zen. Eh BTW, katanya lo mau ngajakin gue ke acara amal?"
"Ah iya. Jadi gue sama temen temen gue di sini lagi adain kayak acara mingguan gitu Saf. Dengan metode yang berbeda pastinya. Kayak kasih makan gratis kepada para tunawisma cukup dengan bacaan Alfatihah doang." Seru Zen yang terdengar cukup menarik.
"Yang non muslim gak boleh makan dong?"
"Boleh lah, cukup bacain doa aja biar gue cepet dapat jodoh." Jawab Zen yang seketika mendapat hantaman kulit kacang dari Safeer.
"Itu mah doa lo aja yang kurang kenceng." Seru Safeer yang mulai tampak acuh.
"Haha, pokoknya minggu depan lo kesini lagi. Kalau gak nanti gue kabari." Ucap Zen yang diberi anggukan oleh Safeer.
Safeer terlihat sudah menandaskan cangkir kopinya. Lalu mengangkat lengannya untuk memperhatikan sebuah jam digital yang melingkar keren di tangannya.
"Gue pulang dulu ya? Kasian adik gue sendirian di rumah." Serunya kemudian.
Dan setelah pamitnya disetujui, Safeer bergegas keluar untuk kembali mengendarai motornya.
Selain karena ia kasihan dengan adiknya yang sendirian di rumah, ia juga ingin cepat pulang karena jarak cafe Zen dan rumahnya lumayan jauh.
Dan karena ia ingat kalau belum solat isya' maka Safeer memilih untuk mampir ke sebuah masjid yang ia lewati.
Tepat pukul sembilan malam, ia menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Namun, saat hendak ingin kembali ke motornya, ia melihat pemandangan sesosok perempuan yang tampak familiar.
"Hai!" Dengan sikap percaya diri, Safeer menghampiri sosok gadis yang ia kenali sebagai teman sekelasnya.
Namun hanya pandangan aneh yang ia dapatkan. Tanpa balasan dari sapaan yang telah ia lontarkan.
"Kamu Feera kan? Malam malam begini ngapain?"
Gadis itu mengangguk. Lalu tersenyum ramah dan pergi begitu saja. Jelas membuat Safeer penasaran tingkat tinggi. Selama ini, mana ada gadis yang lari jika didekati olehnya.
Tak pantang menyerah, Safeer berjalan cepat untuk menghampiri gadis itu. "Kamu mau ke mana?" Tanya Safeer yang tampaknya membuat si gadis terlihat mulai kesal.
Di sekolah, gadis itu seperti seorang tunawicara yang selalu menyendiri. Dan di luar sekolah selalu menghindarinya meskipun Safeer hanya berniat untuk berteman saja.
"Saya mau pulang." Jawab Feera yang langsung melangkah meninggalkan cowok keren macam Safeer.
Tak pernah selama ini dirinya di cuekin oleh gadis manapun. Tampangnya yang kece turunan bapak Alfian yang terhormat, membuat dirinya digandrungi oleh semua kalangan wanita dari yang muda sampai yang tua.
Dan kini, feera si pendiam itu tampak sekali acuh dan malah menjauh di saat dirinya datang mendekat. Ini yang salah sebenarnya siapa sih?
Dengan rasa penasarannya yang tinggi, Safeer justru melupakan adiknya yang sendirian di rumah dan malah memilih untuk mengikuti jejak gadis itu.
Di belakang masjid ada sebuah jalan sempit yang terlihat sedikit gelap. Dengan didorong rasa penasaran yang tinggi, Safeer mengikuti feera dari belakang.
Safeer sendiri merasa heran dengan dirinya. Hey apa yang ada di otaknya sampai bisa-bisanya ia melakukan hal ini? Benar benar di luar nalar.
Meskipun begitu, tak ada niatan untuk Safeer kembali ke masjid di mana dirinya meninggalkan motornya.
Perlahan namun pasti. Dirinya sudah seperti mata-mata yang mengintai mangsa.
Langkah pelan Safeer tiba-tiba saja terhenti, saat ia melihat seorang wanita yang datang-datang langsung menyeret Feera dengan cepat. Sungguh, ia tak bisa berbuat apa-apa, apalagi saat ia mendengar sebutan ibu yang keluar dari mulut gadis itu.
Dirinya hanya menjadi penonton yang bahkan tal sanggup menunjukkan ekspresinya. Sampai seorang laki laki datang lalu membentak mereka dengan suara lantang agar mereka masuk.
Jujur. safeer semakin penasaran melihat teman sekelasnya diperlakukan seperti itu. Lalu, semuanya selesai saat Safeer mengikuti mereka yang masuk ke dalam sebuah rumah kecil di depan sana.
Saat itulah, pikiran Safeer mulai bercabang. Ia memutuskan kembali di saat otaknya masih berada pada kejadian itu.
Mau tak mau ia harus pulang dan meninggalkan seseorang yang ia kenal tadi dalam keadaan yang menurutnya tidak menyenangkan.
Di sepanjang jalan, Safeer sedikit terganggu dengan hal tadi. Lalu, ia berusaha menepis bahwa itu bukanlah urusannya.
Sampai di rumah, sudah pukul 10 malam lebih di mana adiknya itu tertidur di depan televisi, dan semua belanjaan masih berserakan di atas meja, kulkas yang baru datang bahkan masih berdiri di depan pintu.
Sedangkan Safeer yang lelah hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat tingkah adik perempuannya ini. Mau protes juga sama siapa? Orangnya tidur.
Alhasil, dengan sisa sisa tenaga, Safeer membereskan semua kekacauan ini. Mulai dari memasang colokan kulkas sampai meletakkan semua belanjaan ke dalamnya.
Sebagai kakak yang menyayangi adiknya, ia juga menyempatkan untuk mengambil selimut untuk adiknya. Lalu, ia bersiap untuk tidur saat waktu sudah melewati pukul 12 malam.
Rasa lelah menyelimuti tubuhnya. Saat sekilas bayangan itu muncul begitu saja. Mengapa kejadian saat Feera seperti dimarahi orang tuanya tiba tiba saja hadir saat dia sudah berusaha bilang kalau itu bukanlah urusannya. Sangat mengganggu saat dia sama sekali tak pernah merasakan perasaan seperti ini. Antara penasaran, kasihan, iba atau entah apa.
Karena sejujurnya, mencampuri urusan orang yang baru ia kenal bukanlah dirinya.