Safeer, tak pernah melupakan kewajibannya yang satu ini. Hal yang selalu mengawali harinya. Menggelar sajadah ke arah kiblat dan menjalankan dua rakaat yang selalu membuatnya tenang dan semangat menjalani hari.
Pukul 5 pagi. Tapi di luar sudah tak lagi gelap. Mungkin inilah mengapa mamanya menginginkan ia untuk menemani dan menjaga adiknya itu. Karena Afa akan sulit sekali bangun di pagi hari. Dan sudah menjadi tugasnya sebagai kakak laki-laki, untuk mengingatkan sang aduk untuk menjalankan kewajibannya itu.
Genap pada panggilan ke enam, Afa baru menyahut ucapannya. Masih di posisi semula, yaitu tidur di sofa ruang tamu. Dan Safeer masih dengan sarung dan baju koko miliknya saat membangunkan sang adik. Entahlah, keturunan siapa kalau begini. Perasaan di rumahnya, hanya adiknya ini yang paling susah bangun.
"Fa? Buruan bangun! Solat subuh nya telat lho!"
"Bentar ah, Afa lagi gak solat."
"Dosa ih, buruan bangun terus bikin sarapan sana."
"Bentar lagi bang, Afa lagi galangan gak solat. Masih pagi ini."
"Siapa bilang ini masih malam." Buruan bangun gak? Yang jajan kamu dari Papa gak aku kasih nih?"
Dan rupanya ancaman itu cukup berhasil. Membuat Safeer tersenyum menang, dan si adik menatapnya jengkel.
Tepat pukul 06.15 pagi, safeer sudah tersenyum senang saat melihat sarapan tang sudah siap dan sang adik yang juga sudah tampak rapi dengan seragamnya.
Nasi goreng bakso. Menu apa pun yang dibuat Afa selalu memiliki cita rasa yang lezat. Tak seperti masakan mamanya yang kadang enak kadang aneh.
"Bang?"
"Hemm?"
"Beliin gue motor matic dong bang! Seken juga gak apa-apa kok."
"Kok minta ke gue?"
"Gue udah minta sama Papa. Udah setuju tuh sebelum ada mama yang menghalangi segalanya." Jawab Afa yang memperlihatkan wajah kesalnya.
"Lagian buat apa sih? Ada mobil kan? Gue bisa pakai motor gue ke sekolah."
"Ogah! Mobil itu terlalu mewah buat di bawa ke sekolah, guru aja jarang ada yang bawa mobil." Dan Safeer mulai memikirkan ucapan adiknya yang ada benarnya juga itu.
"Pakai sepeda aja gimana? Kan dekat ini?"
"Yaelah bang, gue pake rok panjang kalau lo lupa, suruh ngontel? Mending jalan kaki."
"Ya udah bonceng gue kan bisa."
"Kalau pagi. Kalau pulang kan gak selalu di jam yang sama."
"Kalau pulang jalan kaki aja."
"Setelah itu jangan harap gue bakal siapin sarapan dan beresin rumah." Sahut Afa jengkel. "Lagian pelit banget minta motor buntut doang."
"Iya, iya, gue beliin ntar."
Dan kini gantian sang adik yang malah menatapnya acuh. Afa terlihat mulai membereskan piring kotor dan bersiap berangkat sekolah.
Tak lama, Safeer pun keluar rumah dan mengunci rumahnya. Mendapati adik Perempuannya yang sudah menunggunya.
"Ini nih yang bikin malas bonceng motor lo bang, udah tinggi joknya licin lagi. Melorot kan gue." Ucap Afa dari belakang kakaknya yang sudah mulai menjalankan motornya.
Dan Safeer hanya diam tak menanggapi. Membantah adiknya itu tak akan ada habisnya. Sama saja seperti ibunya yang pasti akan selalu menang dalam urusan berdebat.
Tak sampai di halaman sekolah, Afa sudah meminta turun di depan gerbang sekolah. Dan Safeer pasti akan menurutinya begitu saja.
Selepas permasalahannya dengan Afa sang adik, Safeer mulai terlihat fokus dengan pelajaran yang memang jauh berbeda dengan pelajaran yang ia dapat di sekolahnya dulu.
Kalau di sekolahnya dulu banyak sekali pelajaran umum, dan hanya 2 atau 3 jam pelajaran agama, maka di sini berbeda. Pelajaran yang dikategorikan dalam agama lebih dari 10 jam mata pelajaran dalam satu minggu. Mulai tentang pembelajaran yang kusus mempelajari isi Al-Quran dah hadist, ada pelajaran tentang sejarah islam, ada juga tentang kitab kitab lain seperti Tahrir, Bulugul Marom. Bahkan bahasa Arab juga di ajarkan di sana. Pembelajaran tentang akhlak, sampai tata cara hidup dalam islam. Semuanya adalah hal baru bagi Safeer.
Selama ini yang ia pelajari hanya pengetahuan islam secara umum. Dan untuk memperdalam Al-Quran, ia mendapatkannya dari mengaji di masjid.
Safeer adalah murid yang selalu bersungguh sungguh dengan pelajarannya. Berawal dari rasa penasarannya yang tinggi. Yang ingin membuatnya mengetahui tentang hal-hal yang tak ia ketahui.
Mungkin itu lah sebabnya, rasa penasarannya membuat Safeer tak bisa untuk mengacuhkan sosok gadis yang sudah beberapa kali ia temui di luar kelas. Feera. Safeer bahkan sangat sulit untuk mengajaknya berbicara. Seolah gadis itu selalu menghindarinya.
Seperti sekarang. Safeer sudah menunggu waktu istirahat agar ia bisa menemui feera dan mengajaknya ngobrol. Namun, tetap saja ia tak dihiraukan.
Safeer mencoba mengikuti feera karena rasa penasarannya. Bukan kain memang. Gadis itu malah menuju Mushola dan menjalankan shalat sunah.
Dengan bodohnya, Safeer hanya berdiam menunggu.
Dan benar saja. Melihat Feera keluar dari masjid, Safeer seolah melihat bidadari yang masih bersinar. Hatinya menghangat.
"Feera!" Seru Safeer yang hampir saja terlena oada pesona gadis itu.
Feera tersenyum. Membuat Safeer ikut tersenyum menatapnya.
"Bisa bicara?" Seru Safeer tak ingin menyerah.
"Silakan! Kamu mau bicara apa?" Jawab Feera yang terdengar merdu di telinga Safeer. Begitu merdu. Andai gadis itu melantunkan ayat suci, pasti akan sangat membuat hatinya sejuk.
"Mau duduk di kantin?"
Sejenak Feera berpikir. Dan akhirnya ia mengangguk setuju saat Safeer tampak menatapnya dengan wajah memohon.
"Kau mau bicara apa?"
"Kau tak mau memesan sesuatu? Aku yang traktir, biar ngobrolnya enak."
"Oh, trimakasih, ini hari kamis aku sedang berpuasa."
Dan mendengar jawaban itu, membuat Safeer tiba-tiba merasa bodoh. Ia tak tahu gadis itu berpuasa dan malah mengajaknya ke kantin.
"Maaf."
"Aku juga tak suka basa-basi."
"Aku ingin berteman denganmu." Seru Safeer yang langsung mengungkapkan tujuannya. Lagian kalau harus basa-basi dan mencari alasan, ia juga bingung harus mengatakan apa.
Feera terlihat memicingkan pandangannya. Menatap Safeer aneh dan malah langsung beranjak dari duduknya setelah mengucapkan kalimat panjang yang membuat Safeer malah makin terjebak dalam rasa penasarannya itu.
"Baiklah, kita berteman. Kalau begitu, saya permisi. Assalamualaikum."
Dan Safeer terdiam sesaat sebelum kembali beranjak dan mengejar Feera yang keluar dari kantin.
"Aku juga mau ikut les mengaji nanti sore." Ujar Safeer yang terlihat seperti lelaki pantang menyerah. Ia masih saja berusaha berjalan di dekat Feera yang terlihat acuh padanya.
"Semangat ya, les untuk kelas 12 hanya boleh dilaksanakan pada awal semester saja."
"Memangnya kenapa?" Tanya Safeer semangat. Ia sepertinya mulai mendapatkan pembahasan yang pas dengan Feera.
"Di semester akhir, kita harus fokus untuk ujian nasional."
"Yah, padahal aku ingin sekali belajar banyak hal di ekstra kulikuler. Aku ingin tahu banyak hal." Ucap Safeer merasa kecewa.
"Ya gak apa-apa kamu kan bisa tanya-tanya sama teman kamu yang lain."
"Kamu mau?"
"Apa?"
"Aku tanyain?"
Dan Safeer tersenyum puas saat melihat wajah Feera yang mendadak seperti orang kebingungan.