Pelajaran tentang sejarah islam, di mana berisi tentang perang pada jaman Nabi, membuat Safeer bersemangat mempelajarinya. Dan ketika guru memberikan tugas kelompok, saat itu Safeer sadar bahwa tak ada yang mau mengajak Feera menjadi kelompok mereka.
Sebenarnya banyak yang mengajaknya untuk bergabung. Terutama Syafa gadis cantik di sekolah itu dan juga Petra. Dan karena kelompok hanya terdiri dari tiga orang, maka petra dan Feera lah yang menjadi pilihan Safeer.
Jelas perbuatan Safeer itu tak luput dari penglihatan Syafa. Gadis yang merasa dirinya paling cantik itu merasa sangat direndahkan. Ia mengajak Safeer tapi tidak mau dan malah lebih memilih gadis pendiam yang menyedihkan.
Awalnya, Feera juga menolak, tapi karena Safeer melaporkan pada guru tentang hal tersebut, maka dengan terpaksa Feera menerimanya.
"Aku selalu mengerjakan tugas kelompok sendiri." Sahut Feera yang malah terlihat ketus.
Sikap Feera membuat Petra ragu. Pasalnya seorang Feera memang tak pernah berkumpul dengan teman-temannya.
"Yang namanya tugas kelompok itu, harus di kerjakan bersama-sama. Bukan supaya tugas menjadi mudah, tapi supaya kita juga bisa saling mengerti satu sama lain. Agar para siswa bisa membentuk sikap saling menghargai satu sama lain." Jelas Safeer pada Feera yang kini masih tampak enggan berurusan dengan Safeer maupun Petra.
"Kalau kalian mau, aku bisa mengerjakan ini sendiri dan nama kalian akan aku tulis di sana."
Di saat Petra sudah bersemangat untuk mengangguk, maka berbeda dengan Safeer. "No!" Aku juga ingin belajar tentang pelajaran ini. Kau tahu pelajaran ini tak aku temui di sekolah sebelumnya.
Dan Feera terdiam. Mau tak mau ia juga harus menerimanya bukan?
"Baiklah, pulang sekolah nanti kita bahas untuk pembagian tugasnya." Putus Feera yang membuat Safeer tersenyum menang.
Safeer dan Petra kembali duduk di bangkunya yang berada di tengah. Karena bangku Feera ada di bagian belakang. Itupun di pojok.
"Lo yakin bikin tugas sama dia?" Bisik Petra pada Safeer yang mulai merapikan buku-bukunya.
"Kenapa?"
"Feera terlalu sulit untuk di sentuh."
"Dan gue gak lagi pengen nyentuh Dia Petra."
"Buset deh, bukan itu maksudnya."
"Lalu?"
"Gak tahu ah. Pokoknya gitu maksudnya."
"Gak jelas banget sih?" Tanggap Safeer yang kemudian acuh pada ucapan Petra.
Dan seperti yang di rencanakan Safeer. Ia menunggu jam pelajaran berakhir. Dan di sinilah ia, duduk di bangku depan kelasnya. Menunggu sosok gadis yang entah kenapa betah berada di dalam kelas padahal jam pulang sekolah sudah berakhir 10 menit yang lalu.
"Mau belajar di sekolah atau kita cari cafe aja deket sini?" Tak sabar akhirnya Safeer menghampiri Feera yang sepertinya masih enggan meninggalkan bangkunya itu.
"Sebenernya, aku harus cepat pulang hari ini." Lirih Feera yang cukup membuat Safeer mendesah kecewa. Tapi ia juga ragu, pasalnya Feera bukanya ingin cepat pulang malah bergerak lelet seperti enggan untuk beranjak.
"Kalau kamu ingin cepat pulang kenapa dari tadi lelet banget geraknya?" Dan Safeer mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Sedangkan Petra hanya diam merasa ingin sekali hanya numpang nama doang di kelompok ini.
"Ya maaf, aku.."
"Ya udah kita bagi tugas di sini aja. Setelah itu kamu aku antar pulang." Putus Safeer pada akhirnya.
Feera tampak diam saja. Karena mau yak mau ia harus setuju.
Hanya pembagian tugas yang singkat, karena setelah itu mereka harus melakukan pertemuan lagi untuk berdiskusi. Kemudian menyiapkan tugas sebelum mereka kumpulkan untuk minggu depan.
Petra pulang terlebih dahulu dan meninggalkan mereka. Sedangkan Safeer sudah bersiap untuk keluar kelas namun Feera tampak masih duduk dengan ragu.
"Kamu sakit?"
"Enggak."
"Terus?"
Feera hanya menggeleng. Tak berani menatap laki laki di depannya itu. Sedangkan Safeer malah menatap Feera penuh tanya. Gadis itu dari tadi duduk di tempatnya. Bahkan istirahat ke dua saja tak berpindah dari bangkunya.
"Rok kamu merah?" Dan celetuk Safeer itu sukses membuat Feera mendongak mantap ke arahnya. Lalu menunduk dengan malu. Menandakan kalau apa yang diucapkan Safeer itu benar adanya. Feera memang sedang menstruasi di waktu yang tak terduga.
Saat itu Safeer tersenyum paham. Pantas saja dari tadi tak mau berdiri. Safeer paham lah kalau soal beginian. Karena hal seperti ini selain sering terjadi pada adiknya sendiri, hal ini juga sudah menjadi hal yang lumrah di kelasnya dulu. Sampai cewek di kelasnya itu akan menjadi bahan candaan. Kalau terjadi pada adiknya, maka satu rumah bisa kena imbasnya.
Safeer melepas jaket yang ia kenakan dan menyodorkan pada gadis yang wajahnya sudah pucat di depannya.
Meskipun tampak ragu, Feera tetap mengambilnya karena merasa tak ada pilihan lain.
Jelas terlihat bagaimana wajah ragu dari Feera saat Safeer memintanya untuk naik ke motornya. Membuat Safeer gemas sendiri rasanya.
"Aku pulang jalan kaki saja ya, nanti motor kamu kotor lagi."
"Gak apa-apa cuma jok motor aja." Jawab Safeer ringan.
Feera bahkan sudah berjalan kaki lumayan jauh dari gerbang sekolah. Awalnya sih Safeer ingin membonceng Feera dari halaman parkir. Namun, ada peraturan kalau sesama siswa dilarang berboncengan dengan lawan jenis yang bukan mahram di sekolah. Peraturan yang menurut Safeer terlalu berlebihan namun tetap ia hormati. Itu sebabnya ia menemui Feera di luar sekolah dan masih berinisiatif untuk mengantarkan gadis itu pulang.
Tawaran demi tawaran Safeer lontarkan. Dan akhirnya Feera malah mau mengikuti Safeer dengan alasan akan ada anjing yang mengikutinya karena bau darah.
Meskipun apa yang diucapkan Safeer itu tak ada buktinya, namun ia tersenyum cukup puas saat berhasil memboncengkan Feera dan mengantarkannya pulang.
Dasar modus emang. Anak siapa sih? Coba kalau ketahuan sama emak lu, udah dijewer sampai putus itu telinga.
Seolah sudah hafal jalan, Safeer melajukan motornya dengan cepat. Mang sih hanya berjarak 15 menit. Tapi tetap aja,waktu sebentar itu cukup memberikan pengalaman berbeda untuk seorang Feera.
"Aku berhenti di sini saja." Tepat di depan masjid, di mana Safeer pernah mampir ke tempat ini. Dan Feera sudah berulang kali menepuk bahunya agar menghentikan motornya.
Safeer tak menghiraukan dan tetap membawa Feera sampai depan rumah. Dan hal itu lah yang membuat Safeer menyesal seketika.
Dua orang laki-laki dan wanita paruh baya yang pernah ia lihat malam itu, kini tengah berdiri di depan rumah sambil memasang wajah garang. Menatap Feera dengan tatapan membunuh.
Safeer hendak mengucapkan sesuatu, tapi berhenti saat melihat Feera yang segera mungkin pergi untuk masuk rumah.
"Apa orang tuanya marah karena anaknya gue antar pulang?" Gumam Safeer yang tak tahu bertanya pada siapa. Dan malah ia mendapatkan jawaban dari dalam rumah. Sebuah teriakan yang membuat Safeer segera berlari menuju rumah tersebut.
Bagaiman ia tak melihat iba, saat temannya itu tengah tersungkur di lantai, dengan tongkat kayu yang diayunkan oleh laki laki tadi.
"Sudah ku bilang, jangan telat pulang, ini apa? Kamu pacaran dulu? Iya?" Suara marah itu menggelegar memenuhi ruangan.
Sedangkan Feera hanya menunduk dan menangis. Hanya bisa menggeleng untuk menjawab.
"Assalamualaikum?" Safeer memberanikan dirinya untuk masuk.
"Mau apa kamu? Pergi sana!"
"Maaf pak, saya temannya Feera. Saya batu saja mengerjakan tugas kelompok di sekolah, jadi itu yang membuat Feera pulang terlambat hari ini."
Lelaki itu menatap Safeer tak terima. Lalu ia berpaling oada Feera yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Masuk kamar sana!" Bentaknya lagi.
Pandangan Safeer dan Feera bertemu. Feera menggeleng seolah memberi tahu Safeer untuk pergi dan jangan ikut campur. Lalu pergi masuk ke dalam.
Sedangkan Safeer sendiri, di usir dengan paksa oleh lelaki itu. Bahkan ia dimaki oleh perempuan paruh baya yang ada di sana agar tak lagi berteman dengan Feera.
Safeer pergi. Ia harus pergi meski dengan perasaan campur aduk. Antara kasian, tapi juga tak ingin ikut campur urusan orang lain.