Selama dua hari penuh, Sutrisno bicara, dan Damar duduk di ruang sebelah memeriksa setiap kalimatnya terhadap peta uang yang sudah ia susun sejak malam pertama di apartemen studionya.
Sebagian besar cocok. Tetapi pada hari kedua, menjelang sore, Sutrisno menyebut sesuatu yang membuat seluruh kasus berbelok.
"Email itu," kata Sutrisno pada Wibowo. "Yang Anda punya. Yang bunyinya 'soal Gunawan sudah saya tangani'. Yang dikirim Salim ke saya."
Damar menegakkan tubuh di balik kaca. Itu email yang ia temukan di flashdisk Tito, dibuka di komputer publik perpustakaan kota tua, kalimat yang membuat lehernya terasa dingin pertama kali. Pengakuan pembunuhan, ditulis serapi catatan rapat.
"Ada yang ingin Anda tambahkan soal itu?" tanya Wibowo, hati-hati menjaga suaranya datar.
Sutrisno mengangguk. "Saya selama ini cuma bilang saya menerima email itu. Saya belum bilang apa yang saya tahu sebelum email itu sampai." Ia menarik napas panjang. "Tiga hari sebelum Gunawan kecelakaan, ada rapat kecil. Bukan rapat resmi. Cuma saya, Pak W, dan Salim. Di ruang Pak W. Gunawan sudah hampir selesai menyusun laporan untuk otoritas bursa. Pak W gelisah. Dia bilang, 'Auditor ini terlalu jujur. Bahaya.' Lalu dia menoleh ke Salim." Suara Sutrisno menipis. "Dan Salim cuma bilang, 'Serahkan ke saya, Pak. Bereskan urusan angka, biar urusan orang saya yang atur.'"
Hening. Di balik kaca, Damar menahan napas.
"Tiga hari kemudian," lanjut Sutrisno, "mobil Gunawan masuk jurang. Rem blong. Mobil yang baru dia servis dua minggu sebelumnya." Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Saya tahu. Saat itu juga saya tahu. Dan saya tidak melakukan apa-apa. Karena angka kuartal berikutnya harus saya rias, dan saya tidak mau jadi auditor jujur berikutnya yang masuk jurang."
Wibowo meletakkan pulpennya dengan sangat pelan. Damar mengerti maknanya. Selama ini mereka punya email pengakuan Salim—tapi pengacara Salim bisa berdalih itu kiasan, bahwa "ditangani" berarti dibujuk, dinegosiasi, dibungkam dengan uang. Sekarang ada saksi hidup yang mendengar Wirananta menyerahkan nyawa Gunawan ke tangan Salim, dan mendengar Salim menerimanya. Bukti pidana berlapis: niat dari atas, pelaksanaan dari bawah, dan rantai yang menghubungkan keduanya menjadi satu garis tak terputus.
Setelah Sutrisno dibawa keluar, Wibowo memanggil Damar masuk ke ruang penyidikan. Ia mengusap wajahnya, lelah. "Kamu yakin dia tidak melebih-lebihkan? Saksi mahkota yang takut sering menambah bumbu, supaya kelihatan lebih berharga."
"Justru sebaliknya," kata Damar. Ia membuka buku catatannya, menunjuk satu baris. "Yang dia sebut soal CNI Logistik—pengalihan dana sebelum penutupan kuartal—itu cocok dengan mutasi rekening yang kita dapat dari bank internasional. Tanggalnya sama. Nominalnya sama sampai ke angka jutaannya. Orang tidak bisa mengarang detail seperti itu. Dia mengingat karena dia yang menandatangani." Ia menutup buku itu. "Dia tidak melebih-lebihkan, Pak. Dia justru menahan diri. Ada hal-hal yang masih dia sembunyikan. Saya bisa rasakan."
Wibowo memandangnya lama. "Apa yang masih dia sembunyikan?"
"Nama-nama di daftar," kata Damar pelan. "Pejabat-pejabat itu. Dia tahu siapa saja yang dapat saham, siapa yang dapat amplop, siapa yang menelepon supaya bursa tidak menyetop perdagangan Cakrawala lebih awal. Tapi dia takut. Karena begitu dia sebut nama-nama itu, dia tidak cuma melawan Wirananta. Dia melawan separuh orang berkuasa di negeri ini." Damar menatap pintu tempat Sutrisno baru saja keluar. "Satu langkah dulu. Kita kunci pembunuhannya. Nama-nama itu akan datang sendiri kalau pondasinya sudah kuat."
Malamnya, Damar dan Arini menyusun ulang seluruh peta di rumah aman.
"Selama ini Salim cuma 'tangan yang membersihkan'," kata Arini, menempelkan foto di dinding gabus. Wajah Salim, rambut perak, jas abu-abu yang sama dengan foto saat ia ditangkap di gudang. "Sekarang dia mata rantai. Dia yang menghubungkan Wirananta ke setiap mayat. Tanpa Salim, Wirananta cuma pengusaha yang angkanya bohong. Dengan Salim—"
"Wirananta jadi otak pembunuhan," sambung Damar. Ia menatap garis-garis yang menghubungkan kotak demi kotak di dinding. Gunawan. Sumber kedua. Keduanya mati menjelang bersaksi. Keduanya melewati tangan yang sama. "Dan itu artinya satu hal lain, Rin. Salim sekarang tahu dia sendirian menanggung semua mayat. Wirananta aman di seberang lautan. Sutrisno sudah jadi saksi mahkota. Yang berdiri paling depan menghadap hukuman mati atau seumur hidup—cuma Salim."
Arini menoleh padanya, mengerti ke mana arah pikiran Damar. "Kamu pikir dia akan retak."
"Aku pikir," kata Damar pelan, "untuk pertama kalinya sejak ini semua dimulai, ada celah di antara mereka. Dan kalau celah itu kita buka cukup lebar—" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Di luar jendela rumah aman, lampu kota berkelip seperti angka-angka di layar lama, dan untuk pertama kalinya ia merasa perburuan ini mulai berbalik arah.