Berkat kesaksian Sutrisno, kejaksaan tidak bisa lagi memperlakukan kematian Gunawan sebagai kecelakaan lalu lintas biasa. Wibowo mengajukan permohonan resmi, dan setelah berhari-hari tarik-menarik dengan pejabat yang masih ingin perkara ini ditutup cepat, kasus kematian Pak Gunawan dibuka kembali.
Damar tidak diwajibkan ikut. Tetapi ketika tim penyidik turun ke lapangan, ia memohon agar diizinkan menyertai. "Saya yang pertama kali tahu Gunawan dibunuh," katanya pada Wibowo. "Saya cuma ingin tahu bagaimana."
Mereka mulai dari laporan kecelakaan yang lama—dokumen tipis, foto buram mobil yang ringsek di dasar jurang di tol luar kota, kesimpulan singkat: kegagalan sistem pengereman. Tidak ada penyelidikan lanjutan. Tidak ada otopsi kendaraan yang serius. Kasus ditutup dalam tiga hari.
"Terlalu cepat," gumam Damar, membaca tanggalnya. "Auditor yang mau melapor ke otoritas bursa mati, dan kasusnya selesai dalam tiga hari. Seseorang ingin ini cepat dilupakan."
Petunjuk pertama datang dari catatan servis. Gunawan, lelaki teliti seperti semua auditor yang baik, menyimpan struk servis mobilnya. Janda Gunawan—yang baru akan mereka temui esok hari—pernah menyebut pada penyidik lama bahwa mobil itu baru diservis. Dari struk itu, Damar dan tim menemukan nama bengkel: sebuah bengkel kecil di pinggiran kota, yang anehnya bukan bengkel langganan Gunawan selama bertahun-tahun.
"Dia ganti bengkel dua minggu sebelum mati," kata Damar. "Kenapa orang yang setia ke satu bengkel selama bertahun-tahun tiba-tiba pindah?"
"Mungkin lebih murah," kata penyidik muda yang menyetir.
"Atau mungkin," kata Damar, "ada yang menyarankan bengkel itu padanya."
Bengkel itu sudah lama tutup ketika mereka tiba—pintu rolling door berkarat, plang nama pudar. Tetapi pemilik warung di sebelahnya masih ingat. "Bengkel Pak Daryo? Tutup setahun lebih. Bangkrut mendadak. Padahal rame, dulu." Ibu pemilik warung mengernyit. "Pak Daryo sekarang jualan bakso keliling. Kasihan. Padahal dulu montir handal."
Butuh dua hari untuk menemukan Daryo. Mereka menemukannya mendorong gerobak bakso di sebuah pasar, lelaki paruh baya bertubuh kurus dengan tangan yang masih hitam oli meski sudah berganti profesi. Ketika penyidik memperlihatkan tanda pengenal, wajah Daryo langsung berubah—bukan terkejut, melainkan seperti orang yang sudah lama menunggu hari ini datang.
Mereka membawanya bicara di mobil, jauh dari keramaian.
"Saya nggak tahu dia mau dibunuh," kata Daryo, suaranya pecah. Tangannya gemetar di pangkuan. "Sumpah, Pak. Saya nggak tahu. Ada orang datang. Bilang dari perusahaan tempat Pak Gunawan kerja. Bilang ini cuma 'pengecekan rutin keamanan eksekutif'. Mereka kasih saya uang—banyak, lebih dari penghasilan saya setengah tahun. Suruh saya cuma 'mengendurkan sedikit' di bagian rem. Katanya biar pengeremannya 'terasa lebih lembut'. Saya bodoh. Saya percaya."
"Kamu tahu siapa yang menyuruh?" tanya Wibowo lewat ponsel yang diloudspeaker.
Daryo menggeleng cepat, lalu berhenti. "Yang datang ke bengkel, bukan orang penting. Anak buah. Tapi yang nelepon saya, satu kali, suaranya tenang sekali. Suara orang yang nggak pernah buru-buru. Dia bilang satu kalimat yang sampai sekarang nggak bisa saya lupa." Daryo menelan ludah. "Dia bilang, 'Kerjakan rapi, Pak Daryo, supaya tidak ada yang perlu mengerjakan Anda.'"
Damar menutup matanya sejenak. Ia pernah mendengar nada itu. Di ruang rapat lantai atas Gedung Mahanusa. Di telepon dini hari saat Arini disandera. Tenang, teratur, tidak pernah buru-buru.
Salim.
"Pak Daryo," kata Damar pelan, membuka mata. "Kenapa Bapak menyimpan struk dan catatan itu? Kalau Bapak takut, kenapa tidak Bapak buang saja semuanya?"
Daryo menatapnya, matanya basah. "Saya buang uangnya, Mas. Saya bagi-bagikan, saya sumbangkan, saya nggak berani pakai sepeser pun. Tapi saya nggak bisa buang ingatannya. Setiap malam saya mimpi mobil itu masuk jurang. Setiap malam." Suaranya pecah. "Saya cuma montir, Mas. Saya cuma mau benerin mobil. Saya nggak pernah mau jadi orang yang membunuh ayah orang lain." Ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan yang hitam oli. "Kalau saya bisa bersaksi, kalau itu bisa sedikit menebus—saya mau. Apa pun risikonya. Saya capek lari dari mimpi itu."
Wibowo, dari ujung telepon, terdiam beberapa detik. Lalu, "Kami akan lindungi Bapak. Saya janji."
Setelah berbulan-bulan, untuk pertama kalinya, kematian Gunawan punya saksi, punya struk, punya bengkel, punya montir yang bersedia bicara. Bukan lagi "rem blong" di lembar laporan yang ditutup tiga hari. Ini pembunuhan terencana, dan rantainya kini punya wajah. Tetapi Damar tahu, masih ada satu potongan lagi yang hilang—dan potongan itu disimpan oleh perempuan yang paling kehilangan dari semuanya.